Ibunda Asy-syahid Abu Ubaidah berkata:
“Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku akan kembali melepas Huzaifah (Abu Ubaidah) menempuh jalan yang sama.
Sekalipun suami dan seluruh anakku gugur sebagai syahid, aku sudah siap secara batin; aku akan tetap tegar dan mengucap, ‘Alhamdulillah.’
Saat mendengar kabar kesyahidannya, aku sempat jatuh pingsan. Namun, yang menenangkanku adalah mengetahui bahwa ia terhindar dari rasa sakit akibat pengkhianatan dan penelantaran.
Semoga Tuhanku meninggikan derajatnya di akhirat kelak, sebagaimana Dia telah meninggikan derajatnya di dunia ini.”
***
Juru bicara militer Brigade Izzuddin Al-Qassam, Abu Ubaidah (nama asli: Hudhaifah Samir al-Kahlout) gugur syahid bersama istri (Israa Ghassan Jabr), putra (Yaman), dan putri-putrinya (Layan dan Minat Allah) akibat serangan udara militer Israel di Kota Gaza.
Serangan udara tersebut terjadi pada tanggal 30 Agustus 2025. Rudal Israel menghantam sebuah apartemen tempat tinggal di lingkungan Al-Rimal, Kota Gaza.
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” [QS Ali Imran: 169]







