Masalah terbesar dari fenomena KDM bukan sekadar apakah dia sering turun ke masyarakat atau tidak.
Masalahnya adalah bagaimana realitas itu dikemas menjadi sebuah cerita.
Coba perhatikan dari hal paling sederhana: judul dan thumbnail.
Judul tidak selalu dimulai dari program pemerintah, indikator keberhasilan, anggaran, atau dampak kebijakan.
Yang sering muncul justru adalah KDM sebagai tokoh utama.
KDM datang.
KDM disambut.
KDM membantu.
KDM membuat warga menangis.
KDM dimintai pertolongan.
KDM menyelesaikan masalah.
Secara jurnalistik, ini sangat penting.
Karena ketika nama seseorang terus-menerus menjadi subjek utama dalam sebuah cerita, maka secara perlahan masalah publik berubah menjadi panggung personal.
Thumbnail kemudian memperkuatnya.
Wajah KDM diperbesar.
Ekspresi warga diperlihatkan.
Tangisan, kemiskinan, rumah yang roboh, anak-anak, orang tua, bahkan momen-momen haru dipilih sebagai gambar utama.
Kenapa?
Karena manusia secara psikologis jauh lebih mudah bereaksi terhadap wajah dan emosi daripada tabel anggaran dan grafik kebijakan.
Bayangkan dua thumbnail.
Yang pertama:
“Gubernur Menyalurkan Bantuan Bencana Rp X Miliar.”
Yang kedua:
“TANGIS WARGA SAAT KDM DATANG.”
Keduanya mungkin menceritakan peristiwa yang sama.
Tetapi pesan yang masuk ke kepala penonton berbeda.
Yang pertama membuat kita berpikir tentang program.
Yang kedua membuat kita berpikir tentang orangnya.
Dan di situlah personal branding bekerja.
Bukan hanya melalui apa yang ditampilkan.
Tetapi juga melalui apa yang tidak ditampilkan.
Kita melihat KDM datang kepada warga.
Tetapi apakah kita melihat data sebelum dan sesudah program?
Berapa jumlah penerima?
Berapa anggarannya?
Siapa pelaksananya?
Bagaimana mekanisme pengawasannya?
Apa indikator keberhasilannya?
Berapa banyak warga lain yang mengalami masalah serupa tetapi tidak masuk kamera?
Pertanyaan-pertanyaan itu sering tidak menjadi pusat cerita.
Akibatnya, penonton mendapatkan satu sudut pandang yang sangat kuat secara emosional, tetapi miskin pembanding.
KDM menjadi aktor.
Warga menjadi penerima.
Kamera menjadi saksi.
Dan penonton menjadi penonton dari sebuah kisah kepahlawanan.
Ini bukan berarti semua bantuan itu palsu.
Bukan berarti semua warga yang dibantu sedang dieksploitasi.
Dan bukan berarti KDM tidak bekerja.
Justru karena ada pekerjaan nyata, pencitraannya menjadi semakin efektif.
Sebab yang dijual bukan sesuatu yang sepenuhnya fiktif.
Yang terjadi adalah realitas pemerintahan dipilih, dipotong, diedit, diberi musik, diberi judul, diberi thumbnail, kemudian disusun menjadi narasi tentang satu tokoh.
Dan editing mempunyai kekuatan yang luar biasa.
Dari beberapa jam aktivitas, editor bisa memilih beberapa detik paling emosional.
Senyuman.
Tangisan.
Pelukan.
Kemarahan.
Warga berteriak.
KDM memberikan bantuan.
Lalu semuanya dirangkai menjadi cerita dengan satu pusat gravitasi:
KDM.
Di sinilah kita harus berhati-hati.
Karena ketika kemiskinan, musibah, dan penderitaan warga terus menerus menjadi latar belakang bagi heroisme seorang pejabat, masyarakat miskin berpotensi berubah fungsi:
dari warga yang seharusnya diberdayakan menjadi objek cerita.
Dan semakin dramatis penderitaannya, semakin kuat pula emosi penonton.
Inilah paradoksnya.
Penonton merasa sedang menyaksikan kepedulian kepada rakyat.
Tetapi pada saat yang sama, rakyat juga menjadi bahan bakar bagi pembentukan citra tokoh.
Penelitian tentang personal branding Dedi Mulyadi sendiri menunjukkan bahwa YouTube memang digunakan untuk membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat, humanis, sederhana, dan berakar pada budaya lokal.
Artinya, persoalannya bukan lagi sekadar:
“Apakah KDM melakukan pencitraan?”
Secara komunikasi politik, pertanyaan yang lebih tepat adalah:
Seberapa jauh aktivitas pemerintahan dikonstruksi menjadi personal brand?
Dan jawabannya terlihat dari pola komunikasinya.
- Ketika program pemerintah selalu memiliki wajah yang sama…
- Ketika keberhasilan selalu dikaitkan dengan satu nama…
- Ketika masalah publik selalu memiliki satu pahlawan…
- Maka secara perlahan masyarakat bisa mengalami personifikasi kekuasaan.
- Pemerintah bukan lagi terasa sebagai institusi.
- Pemerintah terasa seperti satu orang.
Dan di titik ini kita sampai pada persoalan yang lebih berbahaya:
simpati bisa berubah menjadi loyalitas.
Awalnya kita berkata:
“Wah, bagus. Gubernurnya peduli.”
Lalu berubah menjadi:
“KDM memang beda.”
Kemudian:
“Kalau KDM dikritik berarti orang itu benci rakyat.”
Dan akhirnya:
“Kalau KDM melakukan kesalahan, pasti ada alasan.”
Di sinilah daya kritis mulai mati.
- Bukan karena masyarakat bodoh.
- Tetapi karena mereka sudah memiliki ikatan emosional dengan figur.
- Mereka tidak lagi menilai kebijakan berdasarkan bukti.
- Mereka menilai bukti berdasarkan siapa yang membuat kebijakan.
- Kalau dilakukan tokoh yang mereka sukai, kesalahan dianggap kecil.
- Kalau dilakukan tokoh yang mereka benci, kesalahan dianggap kejahatan besar.
Itulah bahaya terbesar dari politik berbasis ketokohan.
Kita tidak lagi bertanya apakah kebijakan itu benar.
Kita bertanya:
“Apakah orang yang saya sukai yang melakukannya?”
Dan kalau jawabannya iya, kritik terasa seperti serangan.
Padahal pejabat publik bukan selebritas yang harus kita bela.
Dia adalah pemegang kekuasaan yang harus kita awasi.
Jadi, persoalannya bukan apakah kita boleh menyukai KDM.
Boleh.
Bahkan boleh mengapresiasi kerja-kerjanya.
Tetapi jangan sampai apresiasi berubah menjadi pembebasan dari kritik.
Karena ketika seorang pejabat berhasil membuat kita terlalu mencintai dirinya, kita harus mulai bertanya:
Apakah kita sedang menikmati kinerja pemerintah…
atau sedang menikmati sebuah mesin personal branding yang membuat pemerintah terasa seperti milik satu orang?
Dan pertanyaan terakhirnya jauh lebih penting:
Kalau suatu hari kameranya dimatikan, apakah programnya masih tetap kuat?
Karena pemerintahan yang sehat seharusnya tidak bergantung pada siapa yang paling pandai tampil di depan kamera.
Yang harus bertahan bukan citra pemimpinnya.
Yang harus bertahan adalah sistemnya.
(Firman Syah)








Pencitraan untuk menutupi kebobrokan sistem kepemimpinan yg gagal dia memberi sepuluh orang tapi seribu orang nestapa
orang musyrik yang dibahas… bukan muslim nih orang
gak suka dengan simbol simbol Islam bahkan antipati
kapan nih orang sholat kek wowo gak pernah terlihat
jokibul jilid 2 sedang dipersiapkan