Sosiolog dari Nanyang Technological University (NTU), Prof. Sulfikar Amir, melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan rezim saat ini di bawah Prabowo Subianto.
Ia menilai gaya kepemimpinan Jokowi mencerminkan watak politik Machiavellian yang menghalalkan segala cara demi kekuasaan, sementara proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) disebutnya sebagai “monumen peringatan Dosa.”
Dalam diskusi yang disiarkan kanal Youtube Obor Rakyat Reborn, Minggu (30/8/2026), Prof. Sulfikar membedah kerusakan tata kelola negara selama 10 tahun terakhir yang dinilai bersumber dari hilangnya dua prinsip utama: meritokrasi dan teknokrasi.
Hilangnya Meritokrasi dan Gejala “Epistemonofobia”
Menurut Prof. Zulfikar, periode kedua kepemimpinan Jokowi ditandai dengan penyingkiran orang-orang kompeten dan berpengetahuan. Ia menyebut fenomena ini sebagai epistemonofobia—fobia atau ketakutan terhadap orang-orang pintar dan berpengetahuan.
“Jokowi merasa jauh lebih nyaman mempekerjakan orang-orang yang loyal kepadanya karena mereka akan mengerjakan apapun yang dia mau. Dia tidak suka dikritik dan tidak suka dibilang tidak paham,” ujar Prof. Sulfikar.
Sikap anti-kritik ini, lanjutnya, merupakan ciri khas politikus Machiavellian yang berorientasi pada kekuasaan semata dengan prinsip the end justifies the means (tujuan menghalalkan segala cara). Rasa takut kehilangan kekuasaan tersebut juga bermanifestasi pada berbagai cawe-cawe politik yang terjadi hingga kini.
IKN: Proyek Tanpa Kalkulasi dan “Bom Waktu”
Salah satu warisan paling problematik dari rezim Jokowi yang disoroti adalah megaproyek Ibu Kota Nusantara (IKN). Prof. Sulfikar menilai IKN dibangun tanpa perencanaan rasional yang matang, tanpa landasan visi-misi yang jelas sejak awal, dan mengabaikan kalkulasi finansial jangka panjang.
“IKN sudah menghabiskan ratusan triliun rupiah dan sekarang mangkrak. Kota ini belum siap, butuh biaya perawatan triliunan rupiah per tahun, bahkan ada bagian bangunan yang harus diperbaiki karena salah bangun,” tegasnya.
Ia memprediksi IKN akan menjadi “bom waktu” serta monumen abadi yang mengingatkan publik pada kebijakan ugal-ugalan era Jokowi. Beban fiskal proyek ini pun kini menjadi dilema bagi pemerintahan Prabowo Subianto yang harus menanggung resikonya di tengah keterbatasan anggaran negara.
Kritik untuk Rezim Prabowo: Merusak Batas Sipil-Militer
Tidak hanya menguliti warisan Jokowi, Prof. Sulfikar juga menyoroti gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menilai Prabowo melanjutkan metode pengelolaan negara yang buruk, bahkan semakin memperparah pelemahan meritokrasi dan teknokrasi.
Hal ini dibuktikan lewat pembentukan kabinet gemuk yang diisi lebih dari 100 menteri dan wakil menteri akibat kompromi politik tanpa standar kompetensi yang jelas. Ia bahkan mengkritik keras masuknya unsur militer ke dalam birokrasi sipil, yang menurutnya bertentangan dengan prinsip dasar tata kelola modern dari Max Weber.
“Prabowo itu seorang Machiavellian yang juga mengidap megalomania—menganggap dirinya besar sehingga merasa mampu melakukan apa saja, namun kakinya tidak berpijak pada realitas,” ujarnya.
SIMAK SELENGKAPNYA VIDEO:








momen rezim Wowo sdh lewat…
indikatornya rupiah letoy
kalo yg waras mah mestinya dia mundur