Kejutan Muktamar NU

Kendatipun ‘hanya’ meraih suara terbanyak ke-4 pemilihan anggota AHWA NU, KH Miftachul Akhtar, tetap terpilih kembali sebagai Rais Aam untuk masa bakti 2026-2031. Luar biasa. Di luar perkiraan banyak orang, termasuk tulisan Dahlan Iskan pagi ini yang berjudul, “Akal Sehat”.

Entah apa alasan, sehingga 8 anggota AHWA lainnya menunjukkan KH Miftachul Akhyar kembali duduk di posisinya sebagai Rais Aam, setelah periode lalu berkonflik sangat tajam dengan Ketua Tanfidziyah KH Yahya Cholil Staquf?

Apakah karena 3 peraih suara terbanyak di atasnya tidak mau atau menolak? Ataukah, karena ada alasan lain, sehingga diputuskan KH Miftachul Akhyar duduk kembali di kursinya sebagai Rais Aam PBNU? Apakah putusan itu hasil musyawarah ataukah voting dari 9 anggota AHWA PBNU terpilih itu?

Yang jelas, KH Miftachul Akhyar kembali sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031, dan diumumkan terpilih secara musyawarah dan mufakat.

Rasanya kalau KH Miftachul Akhyar kembali duduk sebagai Rais Aam, harapan KH Yahya Cholil Staquf untuk kembali ke posisinya sebagai Ketua Umum PBNU, akan pupus dengan sendirinya. Tapi, entahlah? Bisa jadi ada keajaiban yang kita tidak tahu. Hingga pagi ini Ketua Umum PBNU untuk masa bakti 2026-2031 belum terpilih dan diumumkan.

Tapi, perubahan sistem pemilihan kepemimpinan di tubuh PBNU ini dipuji banyak pihak. Pemilihan langsung one man one vote memang kurang pas. Istilah kaidah agamanya, mudaratnya lebih banyak daripada manfaatnya. Atau menolak kemudaratan lebih utama daripada mendapatkan manfaatnya.

(ERIZAL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *