Oleh: Dahlan Iskan
Puji Tuhan, akhirnya akal sehatlah yang menang di Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang yang berakhir hari ini.
Saya tidak sedang bicara siapa yang terpilih sebagai Rais Aam –pemimpin tertinggi ormas Islam terbesar di dunia itu. Juga tidak sedang membahas siapa yang terpilih sebagai Ketua Umum tanfidziyah (eksekutif PBNU).
Menangnya akal sehat yang saya maksud adalah: disetujuinya cara baru pemilihan ketua umum eksekutif pengurus pusat NU: tidak lagi berdasar pemungutan suara one man one vote. Cara baru itu mirip dengan tata cara pemilihan Rais Am PBNU: Lewat AHWA (Ahlul Halli Wal Aqdi).
Persidangan untuk mencapai cara baru itu memang sangat alot. Yang mempertahankan cara lama masih sangat kuat. Tidak mau dikompromikan. Musawarah mufakat pun gagal. Akhirnya harus voting. Yang pilih one man one vote dapat 150 suara. Yang pilih cara baru 501 suara.
Maka berakhirlah era demokrasi langsung di NU.
“Uji coba” demokrasi murni di NU selama ini hanya menghasilkan hiruk pikuk yang membelah kerukunan nahdliyin. Bahkan membelah kiai dan santrinya sendiri. Martabat kiai NU dibuat taruhan. Seorang anak SD mengoreksi secara terbuka kemampuan bahasa Arab kiai tertinggi dalam hirarki NU.
Kekalahan demokrasi one man one vote pasti dilatarbelakangi keprihatinan atas kerusakan parah moralitas berjam’iyah di NU.
Muhammadiyah sudah lebih dulu menghindari cara one man one vote. Kini NU juga sudah secara total meninggalkannya. Berarti sudah dua organisasi terbesar di Indonesia mengabaikan demokrasi hiruk-pikuk.
Berarti sebagian besar orang Indonesia sudah menyadari bahwa demokrasi one man one vote harus ditinggalkan.
Di Muhammadiyah sistem pemilihan pemimpin “cara Muhammadiyah” terbukti menghasilkan kualitas pemimpin yang sangat baik. Juga menghasilkan stabilitas dan ketenangan berorganisasi. Ujung-ujungnya amal sosial Muhammadiyah luar biasa.
Untuk NU, hasilnya masih perlu kita lihat satu kurun ke depan. Tapi “jalan baru” NU dan “jalan matang” Muhammadiyah memberikan harapan bagi kita bahwa akal sehat akhirnya menang.
Memenangkan akal sehat seperti itulah yang masih sulit dilakukan di lingkungan partai politik di Indonesia. Rakyat sudah mulai muak dengan partai politik tapi belum tahu cara merombaknya.
Hari ini Muktamar ke-35 NU akan selesai. Rasanya NU akan lebih baik dengan kepemimpinan hasil muktamar Tambakberas. Ini bukan hanya muktamar persatuan tapi juga sekaligus muktamar jalan baru demokrasi ala NU. Demokrasi Akal Sehat.
(Dahlan Iskan)








mayoritas bangsa terdiri dari NU yang sudah meninggalkan one man one vote, apakah pilpres 2029 juga akan meninggalkan one man one vote ? UU pemilu masih digodok di DPR.
Yang musti dilakukan di Indonesia itu. Koruptor hukum mati dan sita asetnya. Insyaa Allah bersih dan maju Indonesia.
Dahlan Iskan sudah jadi kristen…kok puji Tuhan. itu ucapan kafir kristen.
kalau Islam sudah cukup mengatakan ALHAMDULILLAH…gak bisa di setarakan dengan puji Tuhan yang berakar dari kekafiran.
gimana ni si Dahlan… makin gak jelas.
wacana one man one vote pernah digulirkan wowo pasca pelantikan dan didukung beberapa parpol, yang menolak diantaranya PDI-P dan PKS. andai wacana tersebut disetujui semakin tidak bernilai suara rakyat. Parlemen jalanan pun menjadi satu-satunya tempat penyaluran aspirasi yang wajib digaungkan 💪
Dahlan iskan bilang sdh 2 organisasi besar,pdhl di PERSIS sdh dr dulu mmakai cara itu. Tdk prnh di PERSIS ada gejolak perebutan ketua umum,mrk yg dicalonkan oleh cabang2 saat dmuktamar justru saling mnunjuk calon lain utk jd ketumnya,dan ktika slh seorang kmudian trpilih,yg lain sami’na waatokna
dahlan iskan pernah menjadi aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia), bagi yang mengenal atau bahkan pernah menjadi aktivis PII tentunya akidahnya tidak diragukan lagi. issue terakhir dahlan iskan memeluk Budha. walallahu a’lam bishawab 🙏
yang di depan mata aja, sejarah gak jadi patokan.
kalau mengucapkan kata kata identik dengan ucapan orang orang kafir sekarang…ya itu yang di nilai.
kecuali di ralat dan mengakui khilaf…ya di terima uzurnya
Dituding Murtad, Dahlan Iskan Jawab dengan Shalat
https://bangsaonline.com/berita/139539/dituding-murtad-dahlan-iskan-jawab-dengan-shalat
Gus Dur kemudian mengutip Hadits yang artinya: Orang yang memvonis orang lain murtad atau kafir, padahal orang yang divonis atau dituduh murtad itu masih bersyahadat, maka tuduhan kafir dan murtad itu kembali kepada orang yang menuduh atau memvonis.