Islam Nusantara kok loyo?

Islam Nusantara kok loyo?

Ahlul Halli Wal Aqdi (أهل الحل والعقد). AHWA. Itu terminologi Arab yang dipakai dalam lembaga NU. Artinya “Orang-orang yang berwenang melepaskan dan mengikat.”

Untuk memahami tradisi lembaga itu, bacalah kitab Al Ahkam As-Sultoniyah karya Imam al Mawardi. Terjemahannya ada di toko-toko buku.

Yang jadi pertanyaanku adalah: Mengapa para kyai NU yang mengusung Islam Nusantara, yang biasanya sinis dengan istilah-istilah Arab, menilai ulama Nusantara paling hebat, kok tidak berjuang agar istilah dari “imigran Arab” itu di-Nusantara-kan. Misalnya konsul ke Jokowi, “Pak, menurut Bapak, istilah “ahlul halli wal aqdi” ini enaknya diganti apa?”

Mungkin Jokowi akan njawab, “Yo wis. Ganti ae jeneng dadi wong-wong kang wenang ngeculke lan naleni. Disingkat WC LENI.”

Mengapa tanya ke Jokowi?

Karena kata Imaduddin Usman yang mempopulerkan dikotomi “ulama pribumi Nusantara” vs “ulama imigran”, Jokowi adalah Raja Jawa. Sama seperti kata Bahlil, Jokowi adalah Raja Jawa. Jokowi juga diangkat jadi raja di luar Jawa.

NU juga mesti ingat. Yang ngasih hadiah Hari Santri untuk NU serta hadiah pembubaran HTI dan FPI adalah Jokowi. Itulah mengapa para kyai NU Islam Nusantara mestinya ada yang balas budi membesarkan PSI.

Loh, bicara AHWA kok ngambrak ke PSI?

😁😆

(Subagyo Salip Abdurrahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *