DUA MAKNA UNTUK ACEH: WALED NU TERPILIH SEBAGAI ANGGOTA AHWA MUKTAMAR NU
Oleh: Teuku Zulkhairi
Ada kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat Aceh dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Salah seorang ulama Aceh, Tgk. KH. Nuruzzahri Yahya yang akrab disapa Waled Nu terpilih sebagai salah satu anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA).
Bahkan, Waled Nu memperoleh 477 suara, menempati peringkat kedua dari 34 nama ulama yang masuk dalam bursa calon AHWA, hanya terpaut delapan suara dari KH. Nurul Huda Djazuli dari Ploso yang memperoleh 485 suara. Dari proses tabulasi yang melibatkan 4.703 suara tersebut, sembilan ulama dengan suara tertinggi ditetapkan sebagai anggota AHWA.
Bagi saya, setidaknya ada dua makna penting bagi Aceh dari terpilihnya Waled Nu ini.
Pertama, ini adalah pengakuan nasional terhadap kharisma dan keulamaan Aceh.
Aceh memang memiliki tradisi keulamaan yang panjang. Dari Aceh telah lahir banyak ulama yang kiprahnya melampaui batas daerah, bahkan menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Islam di Nusantara.
Karena itu, ketika seorang ulama Aceh memperoleh kepercayaan yang begitu tinggi dalam forum nasional NU, tentu kita patut berbahagia.
Waled Nu bukan hanya memperoleh tempat di antara sembilan ulama yang terpilih. Beliau berada di posisi kedua dalam perolehan suara, di antara nama-nama ulama besar dari berbagai daerah di Indonesia.
Ini menunjukkan bahwa nama dan ketokohan ulama Aceh masih mendapatkan tempat yang kuat dalam percaturan keulamaan nasional.
Sebagai orang Aceh, tentu saya bahagia dan merasa bangga.
Kedua, Waled Nu mendapatkan posisi strategis dalam menentukan arah kepemimpinan NU ke depan.
AHWA bukan sekadar forum penghormatan terhadap ulama sepuh. Dalam Muktamar ke-35 NU, sembilan anggota AHWA inilah yang bermusyawarah menentukan Rais Aam PBNU dan kemudian menentukan Ketua Umum PBNU.
Dengan demikian, terpilihnya Waled Nu sebagai anggota AHWA berarti beliau memperoleh amanah dan peran langsung dalam menentukan pucuk kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan salah satu organisasi Islam terbesar di dunia.
Dan perkembangan Muktamar kemudian memperlihatkan betapa pentingnya peran tersebut.
AHWA secara mufakat menetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031. Selanjutnya, pada Senin pagi, 31 Agustus 2026, AHWA juga menetapkan KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Artinya, Waled Nu bukan hanya hadir sebagai simbol keterwakilan Aceh. Beliau menjadi bagian dari sembilan ulama yang secara langsung ikut menentukan formasi kepemimpinan tertinggi NU.
Dan secara pribadi, meskipun saya bukan pengurus NU, saya mengakui bahwa saya ikut sangat bahagia dengan terpilihnya KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU.
Mungkin ini sedikit kebawa perasaan.
Sebab, dalam banyak hal, secara amaliah saya merasa dekat dengan tradisi keislaman NU. Secara akidah pun, saya merasa memiliki garis pemahaman yang sama dengan tradisi keilmuan yang diwariskan oleh pendiri NU, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari.
Saya pernah mengkritik KH. Yahya Cholil Staquf dalam sebuah tulisan, khususnya terkait perjumpaannya dengan Benjamin Netanyahu. Kritik itu bukan karena kebencian kepada NU atau kepada pribadi beliau.
Sebaliknya, sebagai orang yang mendukung kemerdekaan Palestina, saya merasa memiliki kewajiban moral untuk mengingatkan para tokoh kita agar tetap teguh melihat Benjamin Netanyahu sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas kebijakan-kebijakan Israel yang telah menimbulkan penderitaan luar biasa terhadap rakyat Palestina, termasuk tragedi kemanusiaan di Gaza.
Kritik terhadap seorang tokoh tidak semestinya membuat kita kehilangan rasa hormat kepada organisasi, tradisi keilmuan, dan para ulama yang berada di dalamnya.
Karena itu, hari ini saya memilih untuk ikut bergembira.
Selamat kepada Waled Nu, Tgk. KH. Nuruzzahri Yahya.
Kepercayaan yang diberikan oleh muktamirin kepada Waled Nu dengan menempatkannya sebagai peraih suara terbanyak kedua adalah kehormatan bagi beliau, sekaligus kehormatan bagi Aceh.
Semoga amanah ini menjadi jalan bagi semakin kuatnya kontribusi ulama Aceh dalam percakapan dan kepemimpinan keislaman di tingkat nasional.
Dan tentu saja, selamat kepada KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Saya secara pribadi sangat bahagia melihat Gus Kikin mendapat amanah tersebut.
Beliau bukan hanya Ketua Umum PWNU Jawa Timur dan pengasuh Pesantren Tebuireng, tetapi juga cucu Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, sosok ulama besar yang saya kagumi karena jasa dan perjuangannya dalam memperkuat keislaman masyarakat Indonesia.
Semoga kepemimpinan baru PBNU membawa NU semakin kuat dalam menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, memperkuat pendidikan dan pesantren, merawat persatuan umat, serta memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia dan dunia Islam.
Dan untuk Aceh, sekalo lagi, saya melihat terpilihnya Waled Nu menjadi pertanda bahwa suara dan kharisma ulama Aceh memiliki tempat terhormat di tingkat nasional.
Selamat, Waled Nu. Barakallahu fiik
Teuku Zulkhairi
Wakil Ketua Umum Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD)
***
Tgk. KH. Nuruzzahri Yahya akrab disapa Waled Nu karena penggabungan dari gelar kehormatan ulama di Aceh dan singkatan nama aslinya, sekaligus cerminan perannya di organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Berikut adalah rincian asal-usul panggilan tersebut:
- Panggilan “Waled”: Dalam budaya dan tradisi dayah (pesantren) di Aceh, kata Waled (berasal dari bahasa Arab Al-Walid yang berarti ayah) merupakan sapaan hormat sekaligus takzim bagi seorang ulama kharismatik yang memimpin sebuah dayah. Panggilan ini menandakan bahwa sosok tersebut tidak hanya bertindak sebagai guru agama, tetapi juga sebagai figur ayah yang mengayuh, membimbing, dan mendidik para santrinya dengan penuh kasih sayang. Beliau sendiri merupakan pimpinan Dayah Ummul Ayman di Samalanga.
- Kata “Nu”: Suku kata “Nu” di belakang namanya memiliki makna ganda yang melekat erat pada dirinya. Pertama, “Nu” merupakan singkatan atau potongan dari nama asli beliau, yaitu Nuruzzahri. Kedua, kata ini sekaligus merepresentasikan identitas dan rekam jejak pengabdian panjang beliau di organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Waled Nu telah puluhan tahun berkiprah di struktur NU, mulai dari menjabat Rais Syuriyah PWNU Aceh hingga puncaknya terpilih sebagai salah satu dari 9 anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) pada Muktamar ke-35 NU.
Kombinasi inilah yang membuat nama Waled Nu begitu populer dan akrab di telinga masyarakat Aceh maupun kalangan Nahdliyin di tingkat nasional.







