Kiai Haji Abdul Hakim Mahfudz atau yang lebih akrab disapa Gus Kikin, adalah seorang ulama, pemimpin pesantren, dan pebisnis terkemuka asal Jombang, Jawa Timur. Saat ini, ia mengemban amanah besar sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8 sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.
Pada Muktamar ke-35 NU yang berlangsung 27-31 Agustus 2026, Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031.
Sebelumnya lima nama calon Ketua Umum PBNU mendapat suara terbanyak:
- KH Abdul Hakim Mahfudz 472 suara
- KH Zulfa Mustofa 262 suara
- KH Abdussalam Sochib 261 suara
- KH Yahya Cholil Staquf 258 suara
- KH Nusron Wahid 207 suara. (diganti KH Abdul Ghaffar Rozin, karena Nusron Wahid menjabat menteri)
AHWA Tetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU Masa Khidmah 2026-2031
Sidang anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) secara resmi menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031.
Penetapan tersebut diambil melalui musyawarah AHWA yang berlangsung di Gedung Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026) pagi.
Keputusan hasil musyawarah tersebut dibacakan salah satu anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, di hadapan peserta Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
“Setelah melakukan musyawarah dari lima nama calon yang diajukan, maka anggota Ahlul Halli wal Aqdi secara mufakat memutuskan untuk memilih KH Abdul Hakim atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031,” kata Kiai Anwar saat membacakan berita acara Rapat AHWA.
Ia mengungkapkan, proses musyawarah berlangsung khidmat dan efektif selama sekitar 40 menit, mulai pukul 06.20 hingga 07.00 WIB.
“Telah dilaksanakan musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi untuk memilih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031 mulai pukul 06.20 sampai dengan pukul 07.00 waktu Indonesia bagian Barat,” ujarnya.
Profil Gus Kikin
Garis Keturunan dan Latar Belakang
Gus Kikin lahir di Jombang pada tanggal 17 Agustus 1958 di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Ampel. Beliau lahir dari pasangan KH. Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma’shum.
Melalui garis ibunya, Gus Kikin merupakan cicit dari Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, ulama besar pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Kakek buyutnya dari jalur lain adalah KH. Ma’shum Ali, seorang ulama ahli falak terkemuka pengarang kitab legendaris Amtsilah Tashrifiyyah.
Kiprah di Pesantren dan Nahdlatul Ulama
- Pengasuh Pesantren Tebuireng: Gus Kikin resmi memimpin Pondok Pesantren Tebuireng sejak tahun 2020, menggantikan posisi mendiang pamannya, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah).
- Ketua PWNU Jawa Timur: Ia awalnya ditunjuk sebagai Pejabat (Pj) Ketua PWNU Jatim pada awal 2024, lalu secara resmi terpilih secara aklamasi/pemungutan suara untuk masa khidmat 2024–2029 melalui Konferwil NU Jatim.
- Kiprah di PBNU: Sejak tahun 2022, ia sudah aktif di jajaran pusat sebagai salah satu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
- Kandidat Ketua Umum PBNU: Pada Muktamar ke-35 NU di Jombang, Gus Kikin didorong kuat oleh PWNU Jawa Timur untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU menantang petahana. Ia dikenal membawa pesan kedamaian, kemandirian organisasi, serta pentingnya menjaga kerukunan antarwarga NU di tengah kontestasi.
Sosok Kiai Entrepreneur
Berbeda dengan profil ulama tradisional pada umumnya, Gus Kikin memiliki rekam jejak yang kuat di dunia korporasi dan bisnis makro. Ia sering dijuluki sebagai kiai entrepreneur karena keterlibatannya di sektor strategis:
- Sektor Migas: Beliau merupakan pemilik dari PT Energi Mineral Langgeng (EML), sebuah perusahaan nasional yang bergerak di industri minyak dan gas bumi.
- Sektor Media: Ia juga mengelola unit bisnis media, salah satunya adalah stasiun televisi lokal BBS TV.
Kombinasi antara kepemimpinan spiritual pesantren, nasab emas pendiri NU, dan pengalaman profesional di dunia bisnis dinilai banyak pihak menjadi modal utama Gus Kikin dalam mendorong kemandirian ekonomi warga nahdliyin serta transformasi digital organisasi ke depan.








semoga tidak berpihak kepada setanyahu kayak Yaya sarkub