KDM itu tipikal pemimpin gabungan dari JKW dan Prabowo

✍️Muhammad Iqbal Sandira

Menurut saya, KDM itu tipikal pemimpin gabungan dari JKW dan Prabowo
– Dari sisi pencitraannya kental sekali
– Lalu dari segi narsistik ga kalah NPDnya

Apakah rakyat benar benar yakin mau milih yang modelan begini lagi?

Kalau KDM yang menang di pilpres 2029, maka kita akan memiliki model lebih canggih dari JKW dan Prabowo.

Karena KDM dengan mereka berdua ya sama saja.

***

Dedi Mulyadi (Kang Dedi Mulyadi/KDM) yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, tercatat unggul di posisi teratas dalam berbagai hasil survei elektabilitas bursa calon presiden (Capres) menuju Pemilu 2029. Kenaikan elektoral KDM yang sangat signifikan ini dikonfirmasi oleh beberapa lembaga riset terkemuka pada Juli hingga Agustus 2026.

Rincian Hasil Survei Terbaru (Juli–Agustus 2026)

Tren keunggulan Dedi Mulyadi terlihat jelas dari rilis data beberapa lembaga survei berikut:

  • Survei Tempo Data Science (Agustus 2026)
    Dalam simulasi nama kandidat maupun format pertanyaan terbuka, Dedi Mulyadi menempati posisi puncak dengan elektabilitas mencapai 42%. Angka ini unggul jauh dibandingkan Prabowo Subianto yang berada di posisi kedua dengan 15%, disusul Anies Baswedan sebesar 10%.
  • Survei Saiful Mujani Research and Consulting / SMRC (Juli 2026)
    Pada simulasi semi-terbuka, KDM memimpin di posisi teratas dengan elektabilitas 35%, sementara Prabowo mendapatkan 14,5%. Bahkan dalam simulasi head-to-head (dua kandidat), KDM unggul telak dengan 59% berbanding 28,3% milik Prabowo.

Faktor Pendorong Melejitnya Elektabilitas KDM

Para analis politik menilai ada beberapa alasan utama di balik lonjakan elektoral Dedi Mulyadi:

  • Narasi “Dekat dengan Rakyat”: Sebanyak 25% hingga 78% responden dalam Survei Tempo menilai KDM sebagai figur pemimpin yang sangat dekat dengan masyarakat bawah.
  • Gaya Komunikasi Publik yang Populis: Aksi-aksi sosial dan komunikasinya yang aktif di media sosial dinilai sangat efektif menarik simpati berbagai kelompok usia, mulai dari Gen Z hingga Baby Boomers.
  • Penurunan Kepuasan Publik (Approval Rating) Pemerintah: Melesatnya angka elektabilitas tokoh baru seperti KDM terjadi bersamaan dengan momentum penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan saat ini. Menurut analisis di Kompas.com, penurunan ini dipengaruhi oleh memburuknya persepsi masyarakat terhadap situasi ekonomi, hukum, dan politik.

Peta Sebaran Dukungan Wilayah

Dukungan terhadap Dedi Mulyadi kini tidak lagi tersentralisasi di Jawa Barat. Berdasarkan data wilayah, ia unggul mutlak di Banten (68%) dan Jawa Barat (65%), serta memimpin di Kalimantan (54%), Jawa Tengah & DIY (46%), Jakarta (41%), dan Sumatera (39%). Peta elektoral ini menunjukkan bahwa posisi Dedi Mulyadi telah bergeser dari tokoh regional menjadi salah satu variabel politik nasional terkuat menuju kontestasi 2029.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 komentar

  1. Prihatin khan ? inilah Rakyat Indonesia masih mudah di ‘bohongi’ dengan Pencitraan dan Polesan Media Sosial. Makanya Mahasiswa Gak usah Demo Fisik tapi Demolah di Media Sosial – Demo Digital untuk Mengedukasi Rakyat . Insyaalloh Lebih Nendang dan minimal risiko fisik spt demo jalanan. SIAPA YANG MENGUASAI MEDIA DIA YANG AKAN MENANG 👍🏻🙂

  2. si Federico Valverde preman KAMPUNGAN GUOBLOKKKK bersama gerombolannya sangat suka tipe pemimpin yg model GAK BERKUALITAS seperti ini. Ngoahahaha…😜😂😝🤣

  3. utk saat ini misinya jokowi berhasil. poles kdm sejadi2nya. ntar 2029 gibran tinggal ngikut kdm. krn jokowi tahu pasti tipikal rakyat indonesia. senang yg dipoles2.

  4. Orang gila aja tau si Dedi Mulyadi ini ga bener, makanya dia pernah digaplok orang gila, krn maksa mau masukin ke panti. Lah liat aja lambenya, sama kayak lambe si Kaesang, tanda org culas dan ga beres. Rumah tangga rusak kayak rumah tangga si Wowo Gendut.

  5. ya ga apa2 namanya demokrasi sah2 aja kalo dia punya karakter tersendiri, yg penting basis dukungannya jelas bukan kadrun2 pembuat onar penyebar kebencian, paham drun?