Tiga ustaz kondang ini bertemu di Makkah al-Mukarramah saat mengadakan umroh, tepat pada saat 12 Rabiulawal, kemarin. Ustaz Abdul Somad (UAS), Ustaz Das’ad Latif UDL), dan Ustaz Adi Hidayat (UAH).
Pertemuan tiga haji (ustaz) ini diabadikan dalam YouTube Ustadz Abdul Somad Official, dalam bentuk percakapan atau diskusi yang menarik. Tidak saja menarik, tapi juga penting. Istilahnya, daging semua.
Seperti posisi duduknya, UAH yang berada di tengah, sadar maupun tidak, berperan sebagai narasumber. UDL sebagai moderator, tapi terkadang narasumber juga. Sama dengan UAS. Ini catatan pertama saya.
Kedua, baik UAS maupun UDL seperti curhat kepada UAH terkait dakwah di Indonesia, terutama kepada penguasa (pemerintah). Mungkin karena UAH dinilai lebih dekat dengan pemerintah atau Presiden Prabowo.
Seperti yang kita ketahui bahwa UAH terang-terangan mengatakan tidak memihak pada Pilpres lalu. Tidak memihak justru diartikan memihak, karena UAS dan UDL keberpihakannya lebih terang-terangan diutarakan.
Ketiga, UAS mengatakan nyaris putus asa berdakwah, karena dakwahnya seperti tak berpengaruh. Ia ingin memusatkan pada pendidikan seperti yang dilakukan KH Ahmad Dahlan, termasuk juga KH Hasyim Asy’ari.
Keempat, UDL membuka rahasia dakwahnya kenapa terlihat berani, tapi tidak menimbulkan masalah pada dirinya. Ia memakai strategi sindiran dalam berdakwah. Sebelum tembak langsung, ia membuat perumpamaan, yang akhirnya objek dakwahnya tidak merasa ditembak.
Kelima, UAH yang dianggap Ustaz pro-pemerintahan ternyata tidak juga. Kritikannya juga tajam juga, meski dibalut narasi yang lembut. Ia sangat independen dan objektif dalam bersikap. Kemaslahatan lebih utama.
Keenam, kenapa objek dakwah terkesan bebal? UAH mengajak para ustaz juga melakukan introspeksi diri. Profesi uataz itu tak terletak pada ilmu yg disampaikan, tapi terletak pada rasa “takut” kepada Allah itu sendiri.
Ketujuh, mohon maaf, saya menilai pemahaman politik UAH jauh lebih komprehensif dibandingkan UAS dan UDL. Ia tak masalah satu pihak, melainkan sistem yang melahirkan masalah itu. Mungkin karena itu sikapnya juga relatif pas. Meski tetap saja ada yang tidak suka.
Kedelapan, baik UAH, UAS, maupun UDL sepakat bahwa seorang ustaz (mubaligh atau ulama) bukanlah seperti pemadam kebakaran. Saat sudah terbakar, baru diminta memadamkan. Ustaz harus dilibatkan dari awal, tidak sekadar tukang doa, bahkan doa pun terkadang disetel.
Terakhir, alangkah baiknya obrolan-obrolan dari ustaz kondang seperti ini lebih sering dilakukan. Apalagi saat momen-momen penting di mana perlu sikap secara bersama. Agar satu ustaz bisa menjadi cermin bagi ustaz lainnya, dan sikap jadi jauh lebih baik.
(ERIZAL)







