KETIKA MANUSIA MERENDAHKAN, ALLĀH JUSTRU MENGANGKAT

Ada pelajaran menarik dari perjalanan KH. Miftachul Akhyar.

Beliau pernah dikritik. Pernah menjadi sasaran berbagai komentar yang tidak menyenangkan. Bahkan dalam dinamika organisasi, ada masa ketika posisi dan kewibawaan beliau seakan dipertanyakan.

Tetapi begitulah hidup.

Kadang manusia sibuk menurunkan seseorang, sementara Allāh justru sedang menyiapkan tangga untuk mengangkatnya.

Ahad malam, 30 Agustus 2026, sembilan kiai sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) bermusyawarah di Ndalem Kasepuhan Kiai Wahab Chasbullah, Tambakberas, Jombang.

Hasilnya: KH. Miftachul Akhyar kembali dipercaya menjadi Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031.

Bukan melalui kampanye terbuka. Bukan karena paling ramai membicarakan dirinya sendiri. Para kiai sepuh bermusyawarah, lalu mufakat memilih beliau.

Bagi saya, bagian menariknya bukan sekadar siapa yang menang dan siapa yang tidak terpilih. Ada cerita panjang di belakangnya.

Jauh sebelumnya, almarhum KH. Maimun Zubair—Mbah Moen—pernah menyampaikan harapan agar Kiai Miftach menjadi Rais Aam NU. Mbah Moen bahkan mendoakan panjang umur agar beliau dapat mengemban amanah itu.

Mbah Moen wafat tahun 2019.

Dua tahun kemudian, pada Muktamar NU di Lampung tahun 2021, KH. Miftachul Akhyar terpilih menjadi Rais Aam.

Orang kemudian teringat doa Mbah Moen.

Lima tahun berlalu.

Pada Muktamar NU di Jombang tahun 2026, nama yang sama kembali dipilih oleh para kiai dalam AHWA.

Tentu kita tidak perlu terlalu berani memastikan rahasia takdir Allāh. Kita tidak tahu persis hubungan sebuah doa dengan peristiwa yang terjadi bertahun-tahun kemudian. Itu wilayah yang sebaiknya membuat kita tawadhu, bukan sok mengetahui rahasia langit.

Tetapi sebagai santri, rasanya sulit untuk tidak tersentuh.

Sebab doa orang saleh memang bukan sesuatu yang pantas diremehkan.

Apalagi perjalanan Kiai Miftach sendiri bukan perjalanan kemarin sore.

Beliau tumbuh dari pesantren. Belajar di Tambakberas, Sidogiri, Lasem, dan bersambung dengan banyak ulama. Pengabdiannya di NU juga tidak datang dengan jalan pintas: dari Rais Syuriyah PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, Wakil Rais Aam, hingga kemudian Rais Aam PBNU.

(DWYSA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *