GUS KIKIN: DARI PESANTREN, LAUT, HINGGA MEMIMPIN NU

Ada orang yang tumbuh sepenuhnya di pesantren. Ada yang dibesarkan oleh sekolah modern. Ada pula yang menghabiskan hidupnya di dunia profesional dan bisnis.

K.H. Abdul Hakim Mahfudz—Gus Kikin—seperti berjalan melewati beberapa dunia itu sekaligus.

Beliau lahir di Jombang, 17 Agustus 1958, dari keluarga yang sangat lekat dengan tradisi pesantren. Dari jalur ibu, beliau merupakan cicit Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Ibunya, Nyai Hj. Abidah Ma’shum, adalah putri Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim dan K.H. Ma’shum Ali, ulama yang namanya sangat akrab di telinga santri melalui Amtsilah Tashrifiyyah.

Dari jalur ayah, beliau adalah putra K.H. Mahfudz Anwar, pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang. Lingkungan hidupnya sejak kecil memang tidak jauh dari kitab, pesantren, kiai, santri, dan tradisi keilmuan.

Tetapi nasab hanyalah pintu masuk.

Sebab seseorang tidak otomatis menjadi besar hanya karena lahir dari keluarga besar. Nama leluhur bisa diwarisi, tetapi kemampuan memimpin tetap harus dipelajari. Kehormatan keluarga bisa diterima sejak lahir, tetapi kepercayaan orang lain harus diperjuangkan sepanjang hidup.

Di sinilah perjalanan Gus Kikin menjadi menarik.

Beliau tumbuh dalam pendidikan pesantren, belajar di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Ampel, Salafiyah Syafi’iyah Seblak, serta bersentuhan erat dengan tradisi keilmuan Tebuireng. Namun pendidikan formalnya justru membawanya memasuki dunia yang agak berbeda: sekolah umum, pendidikan pelayaran, kemudian ilmu komunikasi.

Dari kitab kuning bertemu ilmu nautika.

Dari pesantren bertemu dunia pelayaran.

Dari tradisi salaf bertemu manajemen modern.

Barangkali pengalaman seperti itulah yang kemudian memberi warna tersendiri dalam kepemimpinannya. Seorang pemimpin organisasi besar seperti NU memang tidak cukup hanya pandai berbicara. Ia berhadapan dengan manusia, lembaga, jaringan pesantren, kepentingan sosial, ekonomi, administrasi, bahkan hubungan dengan dunia yang jauh lebih luas.

Pengalaman Gus Kikin juga tidak berhenti di lingkungan pesantren. Beliau pernah bersentuhan langsung dengan dunia usaha, pelayaran, logistik, migas, media, hingga pengelolaan perusahaan. Pengalaman profesional semacam ini tentu memberikan cara pandang berbeda tentang organisasi: bahwa niat baik tetap membutuhkan manajemen yang baik.

Sebab organisasi sebesar apa pun tidak bisa dikelola hanya dengan semangat.

Ada administrasi yang harus tertib, sumber daya yang harus dijaga, kader yang harus diberdayakan, ekonomi umat yang harus diperkuat, dan keputusan yang harus dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika kemudian dipercaya menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng setelah wafatnya K.H. Salahuddin Wahid, tanggung jawab itu menjadi semakin besar. Tebuireng bukan sekadar pesantren. Di sana ada sejarah panjang, nama besar Hadratussyaikh, dan salah satu mata air penting perjalanan Nahdlatul Ulama.

Menjaga warisan sebesar itu bukan berarti hanya menyimpannya di lemari sejarah.

Warisan harus dihidupkan.

Karena itu menarik ketika perhatian terhadap turats dan pemikiran Hadratussyaikh berjalan beriringan dengan usaha membangun tata kelola pesantren yang lebih modern. Kitab seperti Adabul ‘Alim wal Muta’allim tetap dikaji, Qanun Asasi tetap dibaca, sementara pesantren juga harus mampu menjawab persoalan zaman.

Mungkin memang demikian seharusnya tradisi dirawat.

Akar jangan dicabut, tetapi ranting harus terus tumbuh.

NU juga begitu. Ia tidak boleh kehilangan pesantren, kiai, kitab kuning, sanad dan khittahnya. Tetapi NU hidup di tengah masyarakat yang terus berubah. Tantangan ekonomi berubah, teknologi berubah, politik berubah, bahkan cara manusia berkomunikasi pun berubah.

Karena itu, pemimpin NU memikul pekerjaan yang tidak ringan: menjaga sesuatu yang tidak boleh berubah, sekaligus berani memperbaiki sesuatu yang memang harus berubah.

Kini Gus Kikin mendapat amanah yang jauh lebih besar untuk memimpin PBNU masa khidmat 2026–2031.

Tentu jabatan bukanlah garis akhir sebuah perjalanan. Justru dari situlah ujian sebenarnya dimulai.

Nasab yang baik adalah kehormatan. Pendidikan yang luas adalah bekal. Pengalaman bisnis dan organisasi adalah modal. Menjadi pengasuh Tebuireng adalah pengalaman besar.

Tetapi pada akhirnya semua itu akan diuji oleh satu hal yang sangat sederhana:

apa manfaat kepemimpinannya bagi jam’iyyah dan jamaah.

Sebab NU terlalu besar untuk sekadar menjadi tempat membesarkan nama seseorang. NU adalah rumah besar yang diwariskan para muassis dengan ilmu, tirakat, pengorbanan, dan keikhlasan.

Pemimpinnya boleh berganti.

Zamannya boleh berubah.

Cara mengelolanya boleh semakin modern.

Tetapi kompasnya semestinya tetap sama: menjaga agama, merawat umat, menghormati ulama, menguatkan pesantren, serta menjadikan jam’iyyah sebesar NU semakin banyak menghadirkan kemaslahatan.

Semoga amanah itu dimudahkan oleh Allāh.

Dan semoga perjalanan dari pesantren, laut, dunia usaha, hingga akhirnya memimpin NU menemukan muaranya pada satu tempat yang paling penting: khidmah.

(DWYSA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. semoga dapat meneruskan Cita² pribadi Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri PBNU yang paling menyentuh dan sangat ingin diwujudkan adalah menjadi seorang guru Al-Qur’an bagi anak² kecil atau disebut dengan Ta’limush shibyan, terlihat sederhana tapi itulah pondasi masa depan Ummat sebagai generasi penerus bangsa