Ini kisah nyata. Anak-anak saya tumbuh besar di Australia, sekolah dan kuliah di Sydney. Anak sulung perempuan saya punya sahabat karib sejak SMA, sebutlah namanya Rachel. Bule putih cantik. Setamat kuliah, anak saya memilih jalan jadi budak korporat, bekerja sebagai data engineer di HQ salah satu bank terbesar Australia. Sementara Rachel dibawa nasib bergabung dengan Angkatan Laut (AL) alias n-a-v-y.
Beberapa bulan lalu, Rachel keluar dari AL. Penyebabnya? Dia dan beberapa staf wanita jadi korban pelecehan di tempat bekerja. Seperti apa bentuk pelecehannya, anak saya tidak tau. Rachel tidak cerita detail dan anak saya juga nggak kepo kayak umumnya orang Indonesia. Feeling saya sih pelecehan “ringan”, gak sampai yang mengarah ke p3m3rkos4an.
Rachel sampai sekarang gak kerja lagi. Enjoy life aja. Soalnya, dia dan semua korban dapat uang ganti rugi gede banget dari pihak AL. Bisa untuk slow living sampai nenek-nenek. Sedangkan pelaku dihukum berat untuk memutus rantai pelecehan.
Bagaimana dengan penegakan hukum, penegak hukum dan militer antar-matra di negara kita?
Hopeless.
Peran aparat yang diingat rakyat cuma 2:
- kalau gak malakin rakyat
- ya jadi alat penguasa untuk memukul rakyat yang berani protes.
Yang terbaru malah makin-makin: aparat malah secara terang-terangan mengawal truk-truk preman piaraan Neg4r4. Preman-preman itu lalu dengan sadis memukuli rakyat di jalanan. Mereka menyerang orang secara random, menyiksa, menelanjangi dan menghabisi Pak B dengan sadis di jalanan. Padahal Pak B cuma pedagang kaca yang tidak ikut demo.
Lalu buzzer-buzzer rezim, seperti biasa effort mantra-mantra basi di medsos:
“Jangan asal menuduh. Serahkan saja pada aparat dan penegak hukum. Biarkan mereka bekerja, bla bla bla”
Capek. Ketika Neg4r4 dikuasai bandit, penegakan hukum seperti apa yang bisa diharapkan?
Lalu, karena penindasan terjadi setiap saat, kita menganggap hal itu normal.
Ini mentalitas yang salah dan bodoh. Negara bandit bukanlah negara normal. Di luar sana, ada banyak negara-negara yang mampu bekerja secara normal mensejahterakan rakyatnya dan menegakkan hukum dengan adil.
Apakah mungkin Negara Bandit bertransformasi jadi Negara Normal? Jawabannya: Ya, ada contoh empirisnya. Dalam postingan terpisah, saya akan bahas beberapa contoh negara bandit yang berhasil bertransformasi jadi negara normal.
Dan dengan menjadi Negara Normal, kesejahteraan rakyat naik signifikan, karena uang dan kekayaan Negara yang tadinya hanya muter-muter di lingkaran elitis bandit, jadi terdistribusi merata ke seluruh rakyat.
Apa kunci transformasi Negara Bandit jadi Negara Normal?
Salah dua kunci utama adalah:
- Tekanan konsisten masyarakat sipil.
- Pergantian figur pimpinan yang tepat.
Figur pimpinan yang tepat bukan sekadar komponen penting, melainkan katalis utama yang memberikan dorongan awal (spark) agar reformasi bisa dimulai. Tanpa figur pimpinan yang memiliki keberanian politik (political will), integritas, dan kapasitas, reformasi sistem di negara mana pun hampir selalu membentur dinding tebal.
Jadi sekarang makin paham kan mantra-mantra basi para buzzer rezim di medsos:
“Siapa pun pleciden-nya, Negara ini akan gini-gini aja kok, jadi yawdah kita gak usah ribut-ribut. Kerja aja yang bener, selamatkan keluarga masing-masing”
Nasib kita ada di tangan kita.
Mau pasrah jadi Neg4r4 B4ndit atau mau bertransformasi jadi Negara Normal?








Nih ANJING-ANJING KURAP PENJILAT TerMul dan TerWo BabRun alias Babi guRun yang sangat MENDUKUNG negeri ini rusak:
ANJING-ANJING KURAP PENJILAT TerMul dan TerWo:
1. Aris Wijayantolol alias ABAH DUKUN alias ISLAM ABANGAN alias KERE KESOT MUNAFIK islamophobia ODGJ akut, MABUK ONANI, MABUK KEJAWEN, MABUK CABUL
2. Anonim TerWo (Akal Nol, Otak miNim, Ternak GendruWo Wowo)
3. EBeneZER SituMORANG ( Enak Bener jadi buZER Situ Memang Otaknya kuRANG)
4. Albert Timodius Saragih
5. Rangga MilanBlues Saryatama
6. Kentung Kwng
7. Federico Valverde preman KAMPUNGAN GUOBLOKKKK
8. Enzot Fernandez pemain tarkam TERGOBLOK sedunia
9. si win/Edwin Cakra CEKER
10. Judi Belingham, ST., M.Si (Semakin Tolol, Magister Sinting)
11. Lionel SukaONANI
12. Farah “otak parah” Fariha
13. AF/af (ANTEK FuFuFaFa/anak _fuck_)
ini adalah ujian dan hukuman bagi rakyat Sonoha. emang rakyat Sonoha pantas mendapatkan pemimpin sekelas blongkowi cs
skolah d.o.; ga usah urus politik, urus aj ekonomi masing²..!!
anak skolahan; yg diurus pmimpin politik cem pleciden ntu macem² trmasuk jg ekonomi..!! jd knapa ane di_larang² urus politik..!!??
skolah d.o.; waaa, pantes ane d d.o…!! 🥹🥹🥹
soeharto menjabat selama 32 th sempat mengalami kejayaan dan bisa dinikmati rakyatnya walaupun ada sisi kekurangan. akhirnya terjerembab dengan krisis moneter.
habibie sebagai pengganti mampu mengatasi krisis moneter dalam waktu singkat, 1½ th. terjungkal lantaran laporan pertanggungjawaban ditolak, ada faktor politis.
perjalanan Reformasi selanjutnya perlahan melandai. berada di titik nadir 12 th belakangan dengan posisi telor sudah diujung tanduk. memerlukan keberanian bersikap dalam mewujudkan Asta cita, bukan hanya berbangga dengan perolehan suara 58% tapi tak berpihak. jauh panggang dari api, bertolak belakang antara diksi dan aksi. MUNAFIK…….