Tewasnya Calon Manager Kopdes… Inilah ironisnya

✍️Erizeli Jely Bandaro

Militer adalah organisasi perang. Dalam perang, keunggulan tidak hanya ditentukan oleh senjata, strategi, atau keberanian individual. Keunggulan juga ditentukan oleh kemampuan prajurit melaksanakan perintah secara cepat, tepat, dan berjenjang. Komando tidak boleh diperdebatkan di tengah pertempuran. Karena satu detik keraguan dapat berarti kekalahan. Bahkan kematian.

Karena itu, dalam pelatihan militer, prajurit sering dihadapkan pada tekanan fisik dan mental yang berat. Mereka dilatih sampai batas daya tahan, agar dalam kondisi ekstrem tetap mampu patuh pada komando. Pola seperti ini lazim di banyak negara. Tetapi justru karena risikonya tinggi, tidak semua orang dapat masuk dunia militer. Syaratnya ketat, terutama menyangkut kesehatan fisik dan mental.

Orang dengan penyakit penyerta atau kondisi medis tertentu (komorbid) semestinya tidak boleh masuk dalam program latsarmil (latihan dasar militer). Sebab latihan seperti itu memang mengandung risiko.

Bila seleksi kesehatan lemah, pengawasan buruk, atau standar keselamatan diabaikan, maka latihan tidak lagi menjadi proses pembentukan disiplin. Ia berubah menjadi kelalaian yang mematikan.

Di sinilah letak persoalannya. Pelatihan untuk manajer koperasi desa jelas tidak bisa disamakan dengan pelatihan militer. Manajer koperasi tidak sedang disiapkan untuk menghadapi medan perang. Mereka tidak dilatih untuk menyerbu bukit, bertahan di bawah tekanan tembakan, atau patuh mutlak pada komando tempur. Mereka dilatih untuk mengelola usaha, membaca risiko, menjaga arus kas, memahami anggota, membangun pasar, mengelola persediaan, dan mengambil keputusan bisnis secara bertanggung jawab.

Risiko yang mereka hadapi bukan risiko mati di medan perang, melainkan risiko gagal mengelola usaha. Risiko rugi karena salah mengambil keputusan. Risiko moral hazard (penyelewengan) karena lemah tata kelola. Risiko kredit macet karena buruknya analisis usaha. Risiko kehilangan kepercayaan anggota karena tidak transparan. Karena itu, pendekatan pelatihan juga harus berbeda.

Pusat pelatihan manajemen elite seperti IMD di Lausanne, Swiss, tidak membentuk disiplin melalui kekerasan fisik. Mereka membentuk disiplin melalui simulasi, studi kasus, tekanan pengambilan keputusan, debat strategis, evaluasi risiko, dan latihan kepemimpinan berbasis situasi nyata. Peserta tidak dipaksa tunduk secara buta, tetapi dilatih agar mampu berpikir jernih dalam tekanan, mematuhi standar kepatuhan, memahami risiko, dan tetap kreatif dalam mencari solusi.

Disiplin dalam bisnis bukan disiplin mematikan inisiatif. Disiplin dalam bisnis adalah kemampuan menjaga standar tanpa kehilangan akal sehat. Patuh pada governance, tetapi tetap inovatif. Taat pada aturan, tetapi tetap produktif. Berani mengambil risiko, tetapi tidak sembrono. Mampu bersaing, tetapi tidak mengkhianati etika. Seharusnya pelatihan manajer Kopdes mengikuti semangat seperti itu.

Yang dibentuk bukan mental prajurit, melainkan mental professional entrepreneur. Mereka harus dilatih memahami laporan keuangan, arus kas, supply chain, manajemen risiko, kepatuhan hukum, teknologi digital, pemasaran, dan tata kelola koperasi. Mereka juga harus memahami bahwa koperasi bukan sekadar lembaga bantuan, tetapi badan usaha milik anggota yang hanya akan hidup bila dikelola secara profesional.

Ketahanan atau resilience memang penting. Tetapi resilience dalam konteks koperasi bukan berarti tahan dihukum secara fisik. Resilience berarti tahan menghadapi tekanan pasar, mampu bangkit dari kerugian, sanggup memperbaiki model bisnis, berani mengevaluasi keputusan, dan disiplin menjaga kepercayaan anggota. Pelatihan yang baik harus melahirkan manajer yang berpikir, bukan sekadar patuh. Kecuali memang ingin mencetak orang jadi bigot (patuh buta).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Aris ODGJ/af/ANONim (Akal Nol, Otak miNim) gerombolan ANJING PENJILAT TerMul dan TerWo BabRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI mana paham dg penjelasan dari tulisan diatas. Yang dia tahu bahwa KEMATIAn Itu TAKDIR ALLAH, hanta sebatas itu‼️ Tapi BACOTANnya setinggi langit, tapi isinya KOSONG‼️