Presiden, izinkan saya bertanya

✍️Erizeli Jely Bandaro

Presiden, izinkan saya bertanya.
Mengapa pemerintah memilih menerbitkan Panda Bond? Kalau alasannya hanya diversifikasi sumber pembiayaan, saya bisa memahami. Tetapi kalau alasan utamanya karena pasar domestik sudah semakin sulit menyerap penerbitan surat utang pemerintah, itu berarti persoalannya jauh lebih besar daripada sekadar mencari pasar baru. Panda Bond bukan diterbitkan di Indonesia. Panda Bond diterbitkan di Tiongkok, menggunakan Yuan, tunduk pada hukum pasar obligasi Tiongkok, regulator Tiongkok, dan mekanisme pasar modal Tiongkok.

Kuponnya mungkin hanya 2–3 persen. Tetapi dalam pasar obligasi, investor tidak pernah hanya menghitung kupon. Mereka menghitung risiko negara, risiko nilai tukar, likuiditas pasar, stabilitas fiskal, dan kredibilitas pemerintah. Semua itu tercermin dalam premi risiko yang harus dibayar penerbit. Artinya, biaya pendanaan sesungguhnya belum tentu semurah yang terlihat dari angka kupon. Yang lebih membuat saya bertanya adalah mengapa penerbitannya bergeser dari Juni menjadi Juli. Apakah karena faktor teknis? Apakah kondisi pasar berubah? Atau memang investor meminta penyesuaian tertentu? Pasar pasti akan bertanya. Karena pasar selalu membaca sinyal.

Pada saat yang hampir bersamaan, pemerintah juga memperkenalkan Patriot Bond.

Di sinilah saya semakin bingung. Kalau benar instrumen itu membuka ruang bagi investor dengan tingkat keterbukaan asal-usul dana yang lebih longgar daripada praktik internasional, bukankah kita sedang mengirim sinyal yang membingungkan?

Di satu sisi kita ingin memperoleh kepercayaan investor global. Di sisi lain, kita justru berisiko menimbulkan persepsi bahwa standar transparansi sedang dilonggarkan.

Dalam dunia keuangan internasional, kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal. Sekali muncul persepsi bahwa tata kelola melemah, investor akan langsung menghitung ulang risiko Indonesia.

Saya tidak mengatakan Indonesia pasti akan melanggar standar internasional. Tetapi saya khawatir setiap kebijakan yang dianggap melemahkan prinsip know your customer, transparansi beneficial ownership, atau rezim anti pencucian uang dapat menimbulkan pertanyaan dari pasar dan regulator internasional.

Pak Presiden…

Negara tidak sedang menjual obligasi. Negara sedang menjual kepercayaan (trust). Dan kepercayaan dibangun puluhan tahun, tetapi dapat hilang hanya karena beberapa kebijakan yang saling bertentangan. Kalau memang pasar domestik sudah mulai sulit menyerap utang pemerintah, bukankah yang harus diperbaiki adalah fondasi fiskal. Tunda anggaran seperti MBG, KDMP. Perluas pendalaman pasar keuangan, dan produktivitas ekonomi? Nanti setelah kita kaya, barulah kita beri rakyat makan gratis.

Jangan sampai kita sibuk mencari investor ke luar negeri, sementara pasar justru membaca bahwa masalah sebenarnya ada di dalam negeri. Dalam dunia obligasi, bunga bukanlah biaya terbesar. Biaya terbesar adalah ketika pasar mulai kehilangan kepercayaan. Tuh lihat pak, index daya saing (IMD) kita melorot 17, itu hanya 1 tahun Bapak berkuasa. Padahal pak Jokowi membangun index itu 10 tahun dengan kerja keras siang malam.

Salam dari anak negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar