✍️Berly Martawardaya
Ada Kesalahan Besar di Sensus Ekonomi!
Beberapa hari lalu rumah saya didatangi petugas sensus ekonomi.
Salah satunya mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) yang kampus dinasnya BPS. Petugasnya santun & tanya sesuai kuesioner.
Tapi ada masalah di susunan pertanyaan kuesioner.
Agak lama ngajar Metodologi Riset dan pengalaman beberapa kali susun kuesioner survey. Prinsipnya: pertanyaan yang mudah/cepat dijawab harusnya duluan ditanyakan.
Sehingga responden merasa nyaman dan bersedia lanjut jawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Yang paling sulit dan sensitif seperti keuangan dan preferensi politik harusnya ditanyakan belakangan.
Dalam pengalaman saya ketika di survey, pendapatan adalah pertanyaan pertama. Tak heran banyak masyarakat yang enggan menjawab dan stop interview.
Tahu banyak orang pintar di BPS dengan pengalaman panjang susun kuesioner. Tapi kenapa kuesioner Sensus Ekonomi yang data penting untuk dasar susun policy masa depan malah seperti ini susunannya ya…?
Tambahan:
- ada pertanyaan ttg pendapatan dan aset (rumah, mobil, motor, laptop/tablet)
- ada pertanyaan ttg pengeluaran (overall, makanan dan internet)
- tapi tidak ada pertanyaan ttg hutang. Padahal data cukup penting apalagi kalau dari pinjol
(Sumber: X)







karena mau bikin pajak baru, dan buat membuktikan ke dunia bahwa rakyat indonesia itu mampu mampu semua, walaupun dari pijol, hutang, tabungan, jual sawah, jual tanah, naik haji dari utang juga ada … mereka gak peduli sama hutang, semua dihitung penghasilan,, motor mobil tahun jebot pun gak peduli, yang penting quantity
noh 9 naga datengin coba…pajakin
berani kgk?
LHKPN pejabat ke KPK banyak yang mangkir, yang recehan yang di-ubek² 😇