✍️M Maki
Dedolarisasi memang penting. Indonesia terlalu bergantung pada dolar, dan itu bikin APBN rentan. Tapi cara kita melakukannya—dengan membeli minyak dari Rusia lewat jalur belakang, menerbitkan Panda Bond (Yuan), dan memberi perlindungan hukum bagi investor Danantara—bukan prestasi yang bisa dibanggakan.
Ini bukan langkah berani. Ini langkah terpaksa. APBN sedang kering, rupiah terperosok, dan pemerintah butuh oksigen cepat. Jadi kita mengganti satu ketergantungan dengan ketergantungan lain dari dolar ke yuan, dari AS ke China, dari mekanisme pasar ke skema G-to-G yang tidak transparan.
Beli minyak Rusia? Masuk akal secara hitungan: murah, hemat devisa. Tapi jangan dibungkus dengan kata “kedaulatan.” Itu bukan kedaulatan. Itu survival.
Dedolarisasi yang kita lakukan sekarang bukan tentang kemandirian. Ini tentang kehabisan pilihan. Dan ketika sebuah negara besar mulai “kreatif” dalam urusan utang dan pasokan energi, pasar global tidak akan diam. Mereka membaca sinyalnya: INDONESIA SEDANG KESULITAN.
Sekali lagi dedolarisasi perlu, tapi itu bukan untuk dibanggakan. Apalagi dengan alasan “melawan hegemoni.” Itu hanya narasi manis untuk menutupi fakta pahit.







Aris ODGJ/af/ANONim (Akal Nol, Otak miNim) gerombolan ANJING PENJILAT TerMul dan TerWo BabRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI komen: “Bhuahahahaha…huahahahaha…kadrun terus berhalusinasi kalau negara ini kesulitan, negara ini bakal colapse, junjungan ku yang juga sesembahan ku mbah Wowo aNTEK asing Gemoy omon omon bakal lengser. Tak akan mungkin lah‼️
Netizen cerdas: “husss…husss…sana minum obat ODGJ mu dulu‼️😝😂😁🤣
kata mahluk rasis, purbacot beli bond kom kom 🤣🤣🤣🤣
yaa.. pasar global membaca sinyal.. fakta pahit Indonesi lg boncos & terlilit sgunung hutang.. kismin kismin..
😵💫😵