Bohong Besar Sepakbola Terlepas dari Politik

Ada yang ngotot “jangan campurkan olahraga dengan politik”. Persis ketika sebagian rakyat Indonesia menolak kesebelasan U17 Israel main di Indonesia.

Tapi, FIFA bukan organisasi yang bebas politik juga. Organisasi pengelola sepak bola dunia ini, jelas-jelas mewakili sebuah kepentingan politik.

Rusia diembargo dari seluruh event FIFA sebagai hukuman serangan negeri itu ke Ukraina. Tapi mana berani FIFA mengembargo Israel meski jelas-jelas melakukan genosida di Palestina.

Baru saja kemarin AS dan Israel menyerang Iran. Menimbulkan perang. Membunuh warga sipil dan anak-anak.

Tapi FIFA juga santai saja.

Bahkan momen Piala Dunia 2026 kali ini dihiasi oleh kisah memuakkan.

Timnas Iran berhasil lolos dari proses seleksi yang ketat. Tapi menjelang pagelaran Pildun dibuka, tidak pasti juga apakah Iran mendapat visa untuk bertanding di AS. Ketika akhirnya dapat, hampir separuh tim teknis gak bisa masuk AS.

Bukan hanya itu. Timnas Iran juga dilarang nginap di AS. Akhirnya dipilih Tijuana Meksiko. Ketika jadwal bertanding mereka harus melewati perjalanan berjam-jam. Diperiksa imigrasi. Dan dua jam setelah peluit akhir ditiup, Timnas Iran harus pergi meninggalkan AS.

FIFA yang harusnya bertanggungjawab terhadap setiap negara undangan, gak bisa apa-apa. Mereka cuma pelayan saja. Sepak bola dunia jelas-jelas tunduk pada politik. Sepakbola bahkan menunjukan ketidakadilan secara terang-terangan. Atas nama FIFA.

Meski begitu, selama pertandingan Piala Dunia 2026, timnas Iran tidak pernah kalah. Seluruh hasilnya draw. Meski tekanan sangat keras. Diskriminasi terjadi. Pembatasan diberlakukan, tapi mereka gak bisa dikalahkan.

Memang tidak menang. Pertandingan terakhir melawan Mesir sangat dramatis. Gol terakhir Iran dianulir karena offside yang terus menjadi perdebatan. Gol itu juga yang akhirnya membuat skuad Iran harus kembali ke negaranya.

Jadi. Bohong besar sepakbola terlepas dari politik. Bahkan di ajang Piala Dunia 2026 politik bicara lebih keras dibanding olahraga. Ketidakadilan sangat terasa ketimbang sportifitas.

AS dan Barat merasa ngeri dengan Iran, meski cuma tim sepakbola.

(Eko Kuntadhi)

-fb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *