✍️Ayman Rashdan Wong
Ketika berbicara tentang sejarah umat Islam, kebanyakan orang memiliki kesalahpahaman umum:
“Umat Islam dulunya bersatu, kita baru mulai terpecah setelah kedatangan penjajah yang meracuni kita dengan isme-isme, yang menghasut sentimen Sunni-Syiah” (seolah-olah Sunni-Syiah dulunya tidak pernah bertengkar).
Sebenarnya, jika kita membaca sejarah dengan benar, situasi umat Islam yang terpecah adalah hal yang normal. Persatuan adalah hal yang luar biasa.
Lihatlah peta dunia Islam pada tahun 1000 M (1026 tahun yang lalu, hampir 400 tahun setelah Nabi wafat). Pada saat itu, umat Islam telah lama terpecah menjadi berbagai kerajaan.
Yang terbesar dan terkuat adalah kerajaan Fatimiyah. Wilayah kekuasaan mereka membentang dari Tunisia di Afrika hingga Suriah di Asia Barat.
Yang terpenting, mereka menguasai tiga kota paling suci bagi umat Muslim: Mekah, Madinah, dan Yerusalem.
Tetapi tahukah Anda apa yang menarik tentang Dinasti Fatimiyah? Mereka adalah kerajaan Syiah. Namun mereka menyatakan diri sebagai Khalifah untuk menentang Khalifah Sunni dari Dinasti Abbasiyah di Baghdad.
Pada saat itu, Dinasti Abbasiyah tidak lagi menjadi pemerintahan yang kuat dan bersatu seperti pada masa Harun al-Rashid. Pada tahun 945, Baghdad siap ditaklukkan oleh Dinasti Buwayhid (Buyid) dari Iran utara.
Dinasti Buwayhid juga beragama Syiah. Tetapi mereka tidak menyatakan diri sebagai Khalifah seperti Dinasti Fatimiyah. Sebaliknya, mereka mempertahankan Kekhalifahan Abbasiyah sebagai boneka untuk mencegah pemberontakan Sunni.
Jadi setelah tahun 945, Kekhalifahan tidak lagi memiliki kekuasaan politik. Itu lebih seperti simbol yang dikendalikan oleh siapa pun yang menguasai Baghdad.
Selain Dinasti Fatimiyah dan Buwayhid, dinasti Syiah lainnya, Dinasti Hamdanid, juga menguasai Irak utara (Mosul) dan Suriah utara (Aleppo).
Jadi, dari Tunisia hingga Iran, hampir seluruh wilayah inti dunia Islam dikuasai oleh kaum Syiah. Sampai-sampai para sejarawan menyebut periode ini (945-1055) sebagai “Abad Syiah”.
Dalam situasi ini, kerajaan-kerajaan Islam di timur dan barat menjadi benteng-benteng agama Sunni.
Di timur, Persia dan Turki muncul sebagai juara Sunni. Pertama, Persia mendirikan Dinasti Samanid. Mereka menyebarkan Islam ke Turki. Kemudian Turki mendirikan Dinasti Kara-Khanid dan Ghaznavid.
Di barat, terdapat kerajaan Cordoba di Andalusia (Spanyol). Kerajaan ini didirikan oleh Dinasti Umayyah yang memegang jabatan Khalifah dari tahun 661 hingga 750.
Setelah Dinasti Umayyah digulingkan oleh Dinasti Abbasiyah, salah satu keturunan mereka melarikan diri ke Andalusia untuk mendirikan sebuah kerajaan. Awalnya, mereka menggunakan gelar emir, sebelum menyatakan diri sebagai Khalifah dan mengikuti jejak Dinasti Fatimiyah.
Jadi, pada satu waktu, ada 3 Khalifah secara bersamaan di dunia Islam. Yang lainnya menggunakan gelar emir, khan, atau sultan.

Negara yang terpecah ini hampir berakhir oleh Dinasti Seljuk, sebuah kekaisaran Turki yang muncul sekitar tahun 1030-an. Setelah mengalahkan Dinasti Ghaznavid, Dinasti Seljuk membangun kekuasaan sebagai sultan di timur dan mulai bergerak ke barat.
Pada tahun 1055, Seljuk memasuki Baghdad dan mengalahkan Dinasti Buwayhiyyah. Tetapi Seljuk tidak mengembalikan kekuasaan politik kepada Khalifah Abbasiyah. Kekuasaan pemerintahan tetap dipegang oleh Sultan, Khalifah hanya tetap berkuasa di istana Baghdad untuk urusan keagamaan.
Seljuk juga tidak berhasil menyatukan dunia Islam sepenuhnya. Sekitar tahun 1092, kekaisaran besar ini mulai terpecah menjadi negara-negara kecil yang saling berperang.
Perpecahan yang terus berlanjut ini memudahkan pasukan Kristen Eropa untuk melancarkan Perang Salib pada tahun 1095, dan Yerusalem dengan mudah jatuh pada tahun 1099.
Jadi, apa manfaat yang kita dapatkan dari membaca sejarah ini, selain hanya duduk-duduk dan bertanya-tanya mengapa umat Islam tidak bersatu?
Kenyataannya adalah bahwa penyatuan membutuhkan keterampilan politik tingkat tinggi, terutama pengendalian kekuasaan. Itu tidak akan terjadi secara otomatis hanya karena kita semua Muslim.
Umat Islam tidak dapat bersatu hanya dengan seorang pemimpin yang berteriak “Mari bersatu!” dan mengharapkan orang lain bertepuk tangan “Hore, mari bersatu!”.
Atau jika kita semua marah dan memberi ceramah, para penguasa yang gila kekuasaan di luar sana tiba-tiba akan sadar dan mengundurkan diri.
Umat Islam dapat bersatu pada masa Nabi Muhammad SAW, Saidina Abu Bakr, dan Saidina Umar RA karena mereka adalah pemimpin yang luar biasa. Mereka memiliki kekuatan realpolitik dan tahu bagaimana menggunakan kekuatan itu.
Ketika suku-suku Arab bersatu untuk murtad dan menolak membayar zakat setelah wafatnya Nabi, Abu Bakr tidak bersikap lembut, membujuk, atau menciptakan forum untuk perdamaian. Ia dengan tegas menyatakan Perang Riddah.
Setelah Islam berhasil memperluas wilayah kekuasaannya ke Syam dan Irak, Umar tidak membiarkan para komandan dan tentara membagi tanah ghanimah sesuka hati mereka menurut tradisi Arab. Sebaliknya, Umar menempatkan semua hasil di bawah pengawasan Baitulmal di pusat pemerintahan.
Mengapa? Karena pusat pemerintahan (pemerintah pusat) harus kuat secara ekonomi dan militer, maka persatuan suatu negara dapat dipertahankan.
Ketika wilayah-wilayah eksternal mulai menjadi terlalu kuat secara ekonomi dan militer pada era setelah Umar, maka fase perpecahan geopolitik pun dimulai.
Oleh karena itu, pentingnya memahami sejarah Islam dari perspektif geopolitik dan realpolitik.
Dalam buku teks sejarah yang biasa kita baca di sekolah, kita hanya mempelajari narasi linier yang konon menyatakan bahwa umat Islam selalu bersatu sejak zaman Khalifah Rasyidah, hingga Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmani. Kemudian, tiba-tiba, agen-agen Freemason datang, menjatuhkan Kekhalifahan, dan kita terpecah belah.
Narasi yang terlalu sederhana ini mengarah pada pemahaman yang salah tentang masalah tersebut. Ketika kita berpikir kita lemah hanya karena kita “mengikuti Barat”, kita akan memberikan solusi “anti-Barat”. Ketika kita berpikir kita terpecah belah karena “kebingungan ideologis”, maka kita menghabiskan waktu untuk berdebat tentang isme-isme.
Namun, realitas sejarah mengajarkan kita bahwa masalah nyata dari masa lalu hingga sekarang adalah masalah praktis: bagaimana mengelola kekuasaan, membangun ekonomi, dan menggunakan kekuasaan itu untuk stabilitas umat.
Itulah mengapa saya menulis buku Geopolitik Dunia Islam.

Buku ini akan membantu Anda memahami bagaimana dinamika kekuasaan, geografi, dan ekonomi membentuk pasang surut dunia Islam.
Buku ini sekarang sudah tersedia untuk dijual. Anda dapat mengklik tautan di kolom komentar untuk membelinya sekarang.
https://shopee.com.my/Geopolitik-Dunia-Islam-Peta-Konflik-Kuasa-Umat-i.238336777.42630978992
Jika Anda merasa kurang nyaman membeli secara online, Anda dapat membelinya secara offline selama Pameran Buku Internasional Kuala Lumpur (KILF) nanti (29 Mei – 7 Juni).
Hanya tersisa 10 hari. Sampai jumpa di KILF.







khalifah ali dibunuh hafiz quran dan ahli hadist si ibn muljam kalau di era sekarang aku penasaran kadrun akan bersimpati ke khawarij atau ke khalifah ali yg secara kepemimpinan digoyang dan terkesan lemah
kalau aku gak akan penasaran ttg pilihan BabRun alias Babi guRun seperti elu. Lu sudah pasti lah pilih kezaliman ya kan⁉️
🤣😜😂😝
kenapa lu penasaran & pusing mikirin? Itu masalah muslim dg munafik². Lu & gerombolan lu cukup diem aja, nikmati rupiah yg ancur sambil nyembah hello kitty
biasanya kadrun saat krisis gak setia dg ulil amri, makanya aku penasaran apakah akan simpati ke muljam jika kadrun waktu itu ada atau simpati ke ulil amri yg sah meski terkesan lemah dan sedang dihantam krisis
Eh, GOBLOK…….
Sistem ke-Khalifahan-an dengan sistem Demokrasi itu beda,,,,,,
gak “apple to apple” lah……..
Lagian Khalifah Ali kok disandingin sama Wowo,,,
ya beda jauuuuuuuh……
GOBLOK lu…
L.O.L
BACA nih, sabda (Hadits) Nabi Muhammad SAW, sang mertua Khalifah Ali……
“Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin? Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka, dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga.” (HR. Tirmidzi, AN-Nasai, dan Al-Hakim)
jadi.. pmimpin yg potensial mnyatukan ummat adlh pmimpin yg kuat scara agama & kuat scara politik.. lalu memerintah dgn keadilan sbg wujud keta’atan..
☝🏻👇
syarat yg cukup sderhana sbenernya.. moga sgera hadir pmimpin demikian diantara ummat..
☝🏻👇
utk qt ummat pd umumnya tetap kpd “Islam bersatulah”..