Sinyal Keretakan di Lingkaran Prabowo

Sinyal Keretakan di Lingkaran Prabowo (sebuah opini)

✍️M Maki

Kasus penggeledahan kafe di Cipete ini memang membuat saya berpikir ulang tentang cara kerja kekuasaan di negeri ini. Bukan cuma soal uang Rp67,2 miliar yang ditemukan di balik tembok atau brankas rahasia, tapi lebih dari itu, ini adalah pertunjukan yang membuka tabir tentang bagaimana istana itu sebenarnya bekerja.

Pertama, lihat siapa yang menjadi pusat sorotan: Febrie Adriansyah, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), orang yang oleh Prabowo sendiri dipuji sebagai garda terdepan dalam pengambilalihan aset negara. Bukan rahasia lagi kalau Febrie adalah tangan kanan Presiden dalam proyek besar menyita lahan-lahan bermasalah seluas 4 juta hektare lebih. Tapi sekarang, kafe yang diduga terkait dengannya digeledah, rumahnya dijaga ketat puluhan prajurit TNI, dan uang tunai fantastis disita. Ini bukan sekadar operasi rutin penegakan hukum. Ini adalah sinyal bahwa ada perang di dalam istana.

Saya jadi ingat, kafe de’Clan ini bukan lokasi biasa. Pada 2024, tempat yang sama pernah jadi lokasi penguntitan terhadap Febrie oleh anggota Densus 88. Polisi bahkan sudah berencana menggeledah kafe ini sejak 2025. Jadi penggeledahan ini adalah puncak dari konflik yang sudah lama mengendap. Ada yang mengatakan, ini adalah skenario untuk menjatuhkan orang-orang kepercayaan Prabowo satu per satu. Ada juga yang menafsirkan ini sebagai bagian dari upaya sistematis melemahkan pengaruh Presiden.

Yang membuat saya penasaran, apakah ini terjadi dengan izin Prabowo atau tanpa sepengetahuannya?

Kalau tanpa izin, ini adalah pukulan telak bagi kewibawaan Presiden, karena aparatnya sendiri bergerak tanpa kendali.

Tapi kalau dengan izin, maka ini adalah bagian dari ritual “pembersihan” yang terkendali, di mana satu pion dikorbankan untuk menyelamatkan benteng yang lebih besar.

Kedua skenario sama-sama menunjukkan bahwa feodalisme modern sedang memasuki fase krisis, di mana pertarungan di atas panggung kekuasaan semakin terbuka.

Di tengah semua ini, saya hanya bisa bertanya: kalau tangan kanan Presiden saja bisa digoyang seperti ini, lalu bagaimana dengan rakyat biasa yang tidak punya akses ke istana? Pertarungan ini bukan tentang keadilan atau pemberantasan korupsi. Ini tentang siapa yang akan memenangkan perang di dalam istana. Dan seperti biasa, kita hanya jadi penonton yang tidak pernah tahu akhir ceritanya.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. Bung Karno : Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.