Oleh: Dr Otong Sulaeman, Rektor STAI Sadra Jakarta
Matahari pagi belum muncul di kota Teheran, pada Jumat (5/7/2026), saat saya dan sejumlah tamu undangan dari Indonesia turun dari pesawat.
Dalam keadaan masih lelah akibat perjalanan panjang, tiba-tiba kami diberi kabar bahwa kami diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Asy-syahid Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya di Musala Besar Teheran.

Rangkaian acara penghormatan terakhir di ruang utama Musala, mendekat langsung ke lima peti jenazah, sebenarnya ditujukan untuk tamu-tamu utusan resmi kenegaraan.
Acara resmi tersebut akan diadakan beberapa jam kemudian. Ada tebersit lega dalam hati karena meskipun pemerintah tidak mengirimkan utusan khusus yang seharusnya hadir di ruangan itu, setidaknya, ada kami -warga biasa- yang bisa menjadi ‘wakil’ Indonesia.
Di halaman luar Musala, massa dari berbagai titik kota di Iran sudah mulai berdatangan. Semakin siang, yang datang semakin banyak. Media Iran menyebut jumlah warga yang datang dari Jumat hingga Ahad ke Musala Teheran mencapai jutaan orang.
Mereka datang dengan diatur keluar masuk, hanya boleh menetap di Musala lima belas menit, lalu keluar memberikan kesempatan kepada yang lain.

Dari Teheran, jasad kelima syuhada itu akan dibawa dan disholatkan di kota Qom, lalu Najaf, Karbala (Irak), dan kembali ke Iran, untuk dimakamkan di kota Mashad.
Hitungan total massa yang menghadiri prosesi pemakaman selama enam hari ini mungkin bisa mencapai 30 juta. Ini angka perkiraan yang disampaikan pejabat Iran yang dikutip media.
Tidak ada pemakaman tokoh besar dunia di sepanjang sejarah yang dihadiri massa semasif ini.
Prosesi ini seolah memberikan pesan kepada AS bahwa strategi mereka untuk membunuh pemimpin tertinggi Iran di hari pertama perang ternyata menjadi bumerang.
AS mengira, dengan ‘memotong kepala’ (decapitation), sistem pemerintahan Islam Iran akan runtuh dan bisa segera digantikan oleh rezim yang pro-Amerika.
Alih-alih memperlihatkan tanda-tanda disintegrasi, negara justru menampilkan kapasitas organisasi, kohesi sosial, dan konsolidasi politik yang tidak dapat diabaikan.
Saya jadi teringat pada kalimat Nietzsche di Twilight of the Idols, “Apa yang tidak membunuhku membuatku lebih kuat.” Dengan kata lain, ia melihat penderitaan sebagai kemungkinan lahirnya kekuatan baru.
Mulla Sadra dalam doktrin filsafat transendennya menjelaskan proses itu melalui kerangka metafisika yang jauh lebih mendalam.
Menurutnya, peristiwa yang dialami oleh entitas apapun —baik individu, masyarakat, maupun negara— selalu menjadi ujian eksistensial baginya.
Dalam perspektif tersebut, setiap entitas senantiasa menghadapi kemungkinan bergerak ke dua arah eksistensial yang berbeda.
Krisis dapat menyeretnya menuju tanazzul, yaitu kemerosotan eksistensial, tetapi bisa juga menjadi jalan menuju takamul, yakni penyempurnaan dan intensifikasi keberadaan.
Karena itu, yang menentukan masa depan suatu bangsa bukanlah besarnya krisis yang dihadapi, melainkan kualitas respons yang mampu dibangunnya terhadap krisis tersebut.
Pelajaran serupa dapat ditemukan dalam sejarah bangsa-bangsa. Tidak setiap negara yang mengalami perang berakhir dengan kehancuran.
Jepang bangkit dari puing-puing Perang Dunia II dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Vietnam membangun identitas nasional yang semakin kokoh setelah melewati konflik panjang.
Sebaliknya, tidak sedikit negara yang justru terpecah setelah menghadapi tekanan eksternal karena rapuhnya institusi politik dan lemahnya kohesi sosial.
Dengan demikian, perang pada dirinya sendiri tidak pernah memperkuat ataupun menghancurkan. Ia hanya memperlihatkan kualitas terdalam yang telah lama tersimpan dalam tubuh suatu bangsa. Krisis bekerja layaknya api yang menguji emas.
Api tidak menciptakan kemurnian emas, tetapi memperlihatkan kadar kemurnian yang sebelumnya tersembunyi sekaligus membakar unsur-unsur yang tidak tahan terhadap panas.
Barangkali inilah yang sedang disaksikan dunia pada Iran hari ini. Serangan yang dimaksudkan untuk memenggal kepemimpinan Republik Islam justru menghasilkan konsekuensi yang berlawanan dengan banyak prediksi awal.

Kematian Ayatollah Ali Khamenei menghadirkan apa yang dapat disebut sebagai kemenangan moral dan politik bagi Iran.
Untuk pertama kalinya sejak Revolusi Islam 1979, komunitas internasional memperlihatkan tingkat toleransi sangat besar terhadap langkah-langkah strategis Iran, mulai dari pengendalian Selat Hormuz, serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, hingga operasi militer terhadap berbagai target di Israel, tanpa diikuti gelombang tekanan politik maupun ancaman sanksi sebagaimana lazim terjadi sebelumnya.
Di dalam negeri, dinamika yang muncul pun bergerak ke arah yang tidak diduga banyak pengamat. Alih-alih melahirkan fragmentasi politik, wafatnya Khamenei justru memunculkan solidaritas nasional pada tingkat yang sangat kuat.
Narasi perubahan rezim kehilangan daya pikatnya, sementara dukungan publik terhadap angkatan bersenjata dan Garda Revolusi dalam menghadapi tekanan eksternal justru menguat.
Empat bulan lalu, tidak sedikit pihak yang meyakini bahwa kematian Ayatollah Ali Khamenei akan menjadi awal dari runtuhnya Republik Islam Iran. Kini, perkembangan yang berlangsung menunjukkan kemungkinan yang justru berlawanan.
Sejarah tampaknya sedang memperlihatkan bahwa kematian seorang pemimpin tidak selalu menjadi awal keruntuhan sebuah negara.
Ia justru menjadi momentum yang mempercepat konsolidasi, mempertebal identitas kolektif, dan mengangkat suatu bangsa menuju fase baru dalam perjalanan sejarahnya.
Perubahan itu tidak akan berhenti di perbatasan Iran. Ketika sebuah krisis melahirkan konfigurasi kekuatan baru, dampaknya niscaya merambat ke tatanan regional hingga global. Karena itu, yang sedang disaksikan dunia hari ini bukan semata babak baru dalam sejarah Iran, melainkan awal dari pergeseran lanskap geopolitik internasional.
Sumber: Republika






