Dahsyat memang Dino Patti Djalal, langsung Menlu berangkat ke Iran 🤣🤣

Dahsyat memang Pak Dino Patti Djalal, langsung berangkat Menlu ke Teheran. 🤣🤣

Pemerintahan amatir ini memang bisa merusak segalanya kalau tidak dikritik dengan keras.

Amsiong tenan.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengungkap rencana menghadiri upacara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai perwakilan pemerintah pada 9 Juli mendatang. Pihaknya kini tengah berkoordinasi dengan Pemerintah Iran.

“Kemudian setelah itu kita juga berkoordinasi dan karena pemakaman itu akan dilaksanakan pada hari tanggal 9, Kamis rencananya,” kata Sugiono di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (6/7/2026).

“Kita berencana akan hadir. Ini kami masih menunggu jawaban waktu dan tempat di mana kita bisa menghadiri upacara pemakaman tersebut. Karena seperti kita ketahui juga bahwa ada prosesi yang dilakukan terkait dengan rangkaian acara dari pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran,” lanjut Sugiono.

Kritik Dino Patti Djalal

Komitmen Pemerintah Indonesia dalam menjalankan doktrin politik luar negeri “bebas aktif” kini tengah dipertanyakan di panggung dunia.

Keputusan Jakarta yang enggan mengirimkan utusan diplomatik tingkat tinggi ke upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dinilai menjadi sinyalemen buruk bahwa Indonesia mulai kehilangan taji dan prinsip kemandiriannya dalam berdiplomasi.

Kritik tajam tersebut dilayangkan oleh Dino Patti Djalal.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini mengecam sikap abai pemerintah terhadap undangan resmi Teheran, padahal momentum tersebut seharusnya menjadi ajang pembuktian bahwa Indonesia berani bersikap tegas melawan segala bentuk tindakan militer ilegal di ranah internasional.

Dino menyayangkan langkah Indonesia yang terkesan sengaja menurunkan level keterwakilannya dengan hanya menugaskan Duta Besar RI di Teheran.

Langkah minim ini, menurut informasi yang ia terima, dipandang oleh otoritas Iran sebagaitindakan yang menyepelekan hubungan bilateral kedua negara sahabat.

Sorotan paling krusial dari kritik Dino menyasar pada hipotesis adanya bayang-bayang intervensi atau ketakutan psikologis Jakarta terhadap Amerika Serikat.

Ia mempertanyakan apakah asas bebas aktif yang selama ini diagung-agungkan kini mulai terkikis oleh kalkulasi politik yang akomodatif terhadap kepentingan Washington.

“Apakah ini berarti polugri ‘bebas aktif’ kita mulai luntur karena Indonesia takut atausungkan terhadap Amerika? Has ‘Fear’ become a factor in Indonesian foreign policy?” tegas Dino dalam pernyataan kritisnya, Minggu (5/7/2026).

Dino mengingatkan, esensi dari haluan politik luar negeri Indonesia sejak era kemerdekaan adalah berdiri tegak di atas prinsip keadilan universal, bukan bersembunyi ketika dihadapkan pada situasi geopolitik yang sensitif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

  1. harus di pecut dulu baru bekerja, harus dikritisi dulu baru bekerja dan berfikir dengan baik. kelen tuh bekerja untuk bangsa dan negara supaya sejahtera, bukan menggiring ternak peliharaan. nyek… nyek… nyek…

  2. bukan bebas aktif sekarang, tapi bebas tantrum … nye nye nye nye , haiii antek-antek aseng, anak indonesia harus belajar bahasa inggris, prancis, portugis, saya pengen ketemu sama anak donald trump, hidup jokoweee