Pola main ‘dua kaki’ Prabowo

✍️M Maki

Pola main dua kaki Prabowo ini sebenarnya sangat jelas. Narasi ‘ancaman asing’ ia pakai untuk dua tujuan yang sama sekali berbeda, tergantung posisinya saat itu.

– Dulu saat masih menjadi oposisi, ia memakai narasi ini untuk menggoyang pemerintah yang sah. Tahun 2018 misalnya, ia mengklaim ada kajian intelijen asing yang meramalkan Indonesia bubar pada 2030. Ia bilang itu untuk membangun kewaspadaan. Tapi sumbernya ternyata novel fiksi berjudul Ghost Fleet. Mahfud MD sampai menyindir bahwa itu cuma novel, bukan kajian ilmiah. Saat itu narasi ini berfungsi untuk mengkritik pemerintah dan sekaligus membangun citra dirinya sebagai penyelamat bangsa.

– Tapi begitu ia menjadi presiden, narasi yang sama ia pakai dengan fungsi yang terbalik. BBC mencatat dari Oktober 2024 hingga Februari 2026 saja, ia sudah mengucapkan kata “antek asing” atau sejenisnya sebanyak 25 kali. Amnesty International dalam laporannya Building Up Imaginary Enemies tahun 2026 mengungkap bahwa pemerintah memakai kampanye disinformasi terstruktur untuk melabeli aktivis dan jurnalis sebagai agen asing. Tujuannya sederhana, membungkam suara-suara kritis.

Survei LSI April 2026 menunjukkan publik terbelah, 47,4 persen tidak setuju dengan tuduhan intervensi asing, sementara 39,5 persen setuju. Tapi bagi penguasa, angka itu cukup untuk terus mengulang narasi yang sama.

Kontradiksinya makin terlihat ketika di satu sisi ia menuduh pihak lain sebagai antek asing, tapi di sisi lain ia meminta AS menjadi teman sejati dan membuka pintu selebar-lebarnya bagi investasi asing. Narasi anti-asing hanya untuk konsumsi domestik, sementara untuk konsumsi global ia justru merangkul kekuatan asing.

Ini bukan tentang konsistensi ideologis. Ini tentang pragmatisme kekuasaan. Narasi “ancaman asing” adalah senjata yang bisa dipakai untuk dua tujuan berbeda, saat oposisi untuk menyerang dan saat berkuasa untuk bertahan.

Seperti yang ditulis The Jakarta Post, narasi antek asing lebih berfungsi sebagai slogan dari pada argumen, dipakai untuk mengalihkan tanggung jawab dari masalah negara.

Dan ketika narasi ini terus diulang, ia menciptakan disinformasi di ruang publik sehingga setiap kritik berisiko dianggap sebagai ancaman eksternal, bukan ekspresi demokratis warga negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 komentar

  1. mau main 2 kaki
    mau main 3 kaki
    mau main 8 kaki
    atau mau main berapa kaki ini merupakan ciri orang munafik dan bikin gaduh. sangat wajar ketika ekonomi terjun bebas, sikap seperti ini juga mengundang komentar negatif kemudian disikapi dengan kontraproduktif sangat merugikan harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. sudah layak ditenggelamkan ❗👊