Saat Turki Utsmani Menyelamatkan Mekah dan Madinah dari Kehancuran

Pada tahun 1498 M, pelaut asal Portugis, Vasco da Gama, berhasil menemukan jalur laut menuju India melalui Tanjung Harapan.

Penemuan ini menjadi salah satu titik balik paling krusial sekaligus berbahaya dalam sejarah konfrontasi antara Eropa dan Dunia Islam.

Sejak momen itu, kekuatan Eropa memiliki kemampuan untuk memutar haluan, melewati Dunia Islam tanpa harus bergantung lagi pada jalur perdagangan darat yang melintasi Mesir, Syam (Suriah), dan Jazirah Arab. Babak baru ekspansi maritim Eropa pun resmi dimulai.

Namun, bagi bangsa Portugis, misi ini bukan sekadar urusan dagang. Mereka membawa sentimen Perang Salib yang terstruktur: sebuah proyeksi besar untuk melumpuhkan Islam sebagai sebuah agama, memonopoli jalur perdagangan dunia, dan menghantam jantung spiritual Islam yang paling suci.

Memasuki awal abad ke-16, Afonso de Albuquerque mengambil alih komando proyek Portugis di Samudra Hindia menggantikan Vasco da Gama. Di sinilah ia merancang sebuah rencana yang tercatat sebagai salah satu konspirasi paling mengerikan dalam sejarah Islam.

Fase pertama dari rencana tersebut adalah menguasai titik-titik masuk Teluk Arab (Teluk Persia), Laut Merah, dan Selat Bab al-Mandab, serta menduduki pulau-pulau serta pelabuhan yang strategis.

Setelah itu, mereka berniat mendaratkan pasukan untuk menyerang Mekah dan Madinah, meruntuhkan Kakbah, hingga membongkar makam Nabi Muhammad ﷺ untuk membawa jasad suci beliau ke Lisbon sebagai sandera. Ini adalah upaya keji untuk menginjak harga diri umat Muslim dan menghancurkan pusat spiritual mereka.

Fase kedua tak kalah ekstrem. Albuquerque berencana meledakkan pegunungan di sekitar hulu Sungai Nil Biru untuk mengalihkan aliran airnya dari utara ke arah timur. Strategi ini dirancang untuk membuat rakyat Mesir kelaparan dan melumpuhkan total negara tersebut, sehingga mereka tidak punya kemampuan untuk menyelamatkan Syam dan Hijaz, sebelum akhirnya Portugis mencengkeram Yerusalem (Al-Quds).

Pada tahun 1514 M, Albuquerque mengirimkan dua pucuk surat kepada Raja Portugis, Manuel I, yang berisi detail dari cetak biru rencana ini demi mendapatkan persetujuan sang raja.

Di saat yang sama, Albuquerque memanfaatkan fanatisme Syah Iran, Ismail Safawi, yang saat itu sedang berambisi menyebarkan mazhab Syiah secara paksa di Dunia Islam. Portugis pun membuka komunikasi dan menjalin aliansi langsung dengan Dinasti Safawi. Kedua belah pihak sepakat untuk bekerja sama mengepung umat Muslim: Safawi menyerang dari sisi timur, sementara armada laut Portugis menekan dari selatan melalui Teluk Arab dan Laut Merah. Sebuah skenario matang untuk memecah belah dan menghancurkan umat.

Ketika Albuquerque sedang sibuk mempersiapkan pasukannya—merebut pulau-pulau di Samudra Hindia untuk dijadikan pangkalan militer serta menguasai pelabuhan Teluk Arab sebagai batu loncatan menuju Laut Merah—Allah Swt. menganugerahkan pertolongan-Nya kepada Dunia Islam. Pertolongan itu hadir lewat bangkitnya Wangsa Turki Utsmani (Utsmaniyah). Ironisnya, dinasti inilah yang belakangan kerap dicela oleh sebagian kalangan sekuler Arab di media dan buku-buku sejarah palsu mereka—buku yang telah diracuni oleh embusan bisa ular Masonik.

Pada masa-masa genting itu, Kesultanan Mamluk yang menguasai Mesir sedang mengalami fase penuaan, kelemahan, dan perpecahan internal. Mereka tak lagi mampu melindungi perairan Laut Merah atau menjamin keamanan jalur haji dan perdagangan. Akibatnya, ancaman Portugis bergerak makin dekat ke Dua Kota Suci (Haramain).

Namun, Khilafah Turki Utsmani dengan sigap membaca situasi. Sultan Selim I menyadari sejak awal betapa gelapnya ancaman yang sedang mengintai. Dunia Islam sedang dikepung dari dua front sekaligus: Safawi di jalur darat dan Portugis di jalur laut. Oleh karena itu, setelah berhasil menumbangkan dan menghancurkan kekuatan Safawi dalam Pertempuran Chaldiran pada tahun 1514 M, Sultan Selim langsung mengalihkan fokusnya ke Syam dan Mesir. Beliau tahu betul, jika kedua wilayah itu dibiarkan berada di luar kendali Turki Utsmani, jalan bagi Portugis untuk mengobrak-abrik Mekah dan Madinah akan terbuka lebar.

Pasukan Turki Utsmani akhirnya memasuki Syam pada tahun 1516 M, disusul Mesir pada tahun 1517 M. Dengan runtuhnya Mamluk, kedaulatan atas wilayah Hijaz pun berpindah ke tangan Turki Utsmani. Sejak momen sejarah itulah, Wangsa Turki Utsmani memikul tanggung jawab penuh sebagai pelindung Dua Kota Suci dan pengaman rute haji.

Tidak berhenti sampai di situ, Turki Utsmani mendeklarasikan bahwa Laut Merah dan Teluk Arab adalah wilayah perairan Islam yang tertutup rapat bagi kapal-kapal Eropa. Mereka memperkuat pangkalan militer di Suez, Jeddah, dan Aden, lalu meluncurkan serangkaian kampanye militer laut melawan Portugis di Laut Merah, Teluk Arab, hingga Samudra Hindia. Langkah defensif yang masif ini berhasil menggagalkan proyeksi besar yang telah dirancang oleh Albuquerque.

Strategi ini mendulang sukses besar. Laut Merah berhasil disterilkan dari armada Eropa selama hampir tiga abad. Pengaruh Eropa di kawasan tersebut menjadi sangat terbatas hingga akhir abad ke-18, dan baru kembali meluas secara bertahap saat Khilafah Turki Utsmani mulai melemah di abad ke-19.

Maka dari itu, peran Wangsa Turki Utsmani bukan sekadar menyatukan Syam, Mesir, dan Hijaz di bawah satu bendera. Lebih dari itu, mereka berhasil membendung rencana paling berbahaya yang pernah mengincar jantung peradaban Islam. Mereka menjaga kesucian Haramain dan memastikan Portugis tidak pernah menginjakkan kaki di Mekah dan Madinah.

Jika saja Allah tidak menghadirkan Wangsa Turki Utsmani di momen krusial tersebut, dan andai saja aliansi Portugis-Safawi berhasil mewujudkan rencana mereka, Dunia Islam dipastikan akan menghadapi bencana kemanusiaan yang teramat mengerikan. Nasib umat Muslim di berbagai belahan dunia mungkin saja akan berakhir tragis seperti penduduk asli Amerika yang mengalami genosida dan kepunahan di tangan kekejaman kolonial Eropa.

Kehadiran Khilafah Turki Utsmani di titik sejarah tersebut adalah salah satu faktor terbesar bertahannya Dunia Islam. Kita tidak akan pernah bisa memahami dinamika sejarah abad ke-16 secara utuh tanpa mengakui peran heroik Turki Utsmani dalam melindungi Islam, menjaga Dua Kota Suci, mengamankan rute haji, dan menghancurkan ambisi imperialisme Portugis.

Sekarang, Anda mungkin mulai paham, mengapa orang-orang kerdil hari ini begitu bernafsu mencela Wangsa Turki Utsmani.

Catatan:

  1. Dokumen-dokumen Portugis abad ke-16 mengonfirmasi bahwa Albuquerque memiliki pandangan mesianik-kruseder (Perang Salib). Dalam surat-suratnya kepada Raja Manuel I, ia memang mengusulkan proyek-proyek radikal tersebut untuk menghancurkan kekuatan ekonomi dan spiritual peradaban Islam.
  2. Rencana pengalihan Sungai Nil dilakukan dengan mencoba menjalin kontak dengan Kaisar Ethiopia (yang Kristen), meski pada akhirnya rencana ini secara teknis mustahil dilakukan pada abad ke-16.
  3. Hubungan diplomatik antara Kekaisaran Portugis dan Dinasti Safawi di bawah Syah Ismail I adalah fakta nyata. Kedua kekuatan ini disatukan oleh kepentingan geopolitik yang sama: menghadapi Kesultanan Mamluk dan Khilafah Turki Utsmani. Portugis mengirim utusan ke istana Safawi dan bahkan membantu menyediakan persenjataan serta berjanji melakukan pengepungan bersama di wilayah Teluk Persia.
  4. Kemunduran Mamluk & Intervensi Sultan Selim I
    Memang benar bahwa Kesultanan Mamluk di Mesir runtuh secara ekonomi akibat pengalihan rute dagang oleh Portugis (via Tanjung Harapan) dan kalah secara teknologi militer laut (seperti dalam Pertempuran Diu tahun 1509).Sultan Selim I dari Turki Utsmani merebut Syam (1516) dan Mesir (1517) setelah memenangkan Pertempuran Chaldiran (1514) melawan Safawi. Motivasi utama Turki Utsmani memang untuk mengamankan kepemimpinan Dunia Islam dan membendung penetrasi Portugis yang sudah mulai masuk ke Laut Merah dan mengancam Jeddah/Mekah.
  5. Penutupan Laut Merah Selama 3 Abad
    Kontrol Turki Utsmani berhasil mengubah Laut Merah menjadi “Turki Utsmani Lake” (danau Turki Utsmani) yang tertutup bagi kapal-kapal Kristen/Eropa selama berabad-abad.
  6. Armada Turki Utsmani di bawah laksamana seperti Piri Reis aktif memburu Portugis di Samudra Hindia. Namun, klaim “3 abad penuh” perlu sedikit koreksi halus, karena pada akhir abad ke-18 (ekspedisi Napoleon ke Mesir tahun 1798), dominasi ini sudah mulai runtuh, sehingga durasi efektifnya sekitar 2,5 abad.

(Sumber: Turkinesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 komentar

  1. umat di wakanda gapernah diajarkan ekspansi brutal turk ottoman ke wilayah mamluk yg waktu itu menguasai dua kota suci, ekspansi selim 1 merebut tanah suci sampai menuju kairo, petinggi2 mamluk dan sultannya dieksekusi di gerbang kairo

  2. Sejarah telah menunjukkan bahwa dalam konflik segitiga antara Ahlus Sunnah, Syiah, dan Kristen, kaum Syiah sering menganggap Ahlus Sunnah sebagai ancaman yang lebih besar.
    Seperti Kerajaan Syiah Safawi yang sering bersekutu dengan Eropa Kristen melawan Turki Usmani.
    Para pemimpin Syiah Safawi, seperti Shah Ismail I, Shah Tahmasp I, dan Shah Abbas I, berulang kali mengirim utusan ke Eropa untuk mengajak bekerja sama menghadapi Utsmani.

    1. see.. pihak musuh mlihat pluang & senang dgn prskutuan yg memecah ummat..
      ☝🏻👇
      ntah mreka brsekutu dgn Syiah ato Sunni.. slama ummat saling tempur.. mreka suka..
      ☝🏻👇
      contoh dlm artikel.. sejarah Syiah brsekutu dgn musuh..
      contoh skarang.. negri² teluk yg Sunni brsekutu dgn musuh..
      ☝🏻👇
      jd prtanyaannya..!!
      mau sampai kapan..!?

      cepatlah sadar..
      ..Islam bersatulah..