Pak Harto punya visi, tapi sayang intitusi dari TNI dan Birokrat tidak mampu melaksanakannya

Pada tahun 1986 saya pernah duduk di stand sparepart pesawat. Karena saya sebagai salah satu agent spare part khusus Hercules. Tahu-tahu datang rombongan kecil. Saat melihat yang datang Pak Harto, saya langsung keringat dingin. Terasa duduk diatas awan. Bingung. Pak Harto tersenyum khasnya. Teman saya dari Singapore dan saya langsung berdiri dengan sempurna.

“Ini Hercules, ya?” Tanya Pak Harto. Dia tanya detail dan teknis sekali. Pertanyaannya sangat taktis dan namun focus kepada visi Hercules sebagai pesawat logistik.

“Kita akan buat pesawat logistik lebih baik dari Hercules. Karena kita tahu medan kita sendiri. Harus pendek landasan pacunya karena banyak wilayah kita belum punya bandara, dan hemat bahan bakarnya..,” katanya.

Yang buat saya kaget. Dia bicara dalam bahasa Inggris. Sangat sempurna. Engga keliatan logat jawa. Kami harus jawab dengan hati-hati dalam bahasa inggris juga. Beda dengan kedatangan resmi saat pembukaan, Pak Harto selalu pakai bahasa Indonesia dan ada penerjemah.

Tahun 1996. Seblum berangkat kursus Economic quantitative yang diadakan oleh World Bank. Pak Harto undang kami 8 orang perserta kursus datang ke Tapos tempat peristirahatannya. Dia bawa kami keliling peternakannya. Dia jelaskan detail bagaimana proses mengembangbiakan ternak. Dan diujungnya, “Kita punya SDA sangat besar. Tapi kita kekurangan skill financial resource untuk kita kembangkan SDA secara mandiri jadi asset ekonomi. Menjadikan dunia usaha agent of development yang berkelas dunia. Menjadikan koperasi sebagai mitra BUMN dan Korporasi yang seimbang..” katanya.

Pak Harto tatap kami satu persatu. “Ingat itu. Tahun 1996 saja kita sudah merasa sulit dapatkan dana international. Kalau kita engga kuasai economy quantitative, Entah gimana 20 tahun lagi. Mungkin kita serahkan semua SDA kepada asing demi pembangunan. Padahal itu bukan sulit, bisa dipelajari menjadi organisasi dan kekuatan bersaing..” Katanya.

Kami semua terdiam.

Pertemuan itu menyadarkan saya. Pak Harto punya visi, tapi sayang intitusi dari TNI dan Birokrat tidak mampu melaksanakannya. Pak Harto melangkah terlalu cepat, sementara bawahannya ketinggalan. Dan belakangan dia sadar. Maka dia mulai focus kepada sains dan SDM. Namun sebelum itu semua terlaksana kekuasaannya kena tabas..Visi pak Harto masuk tong sampah. IPTN dibonsai. industtri strategis satu demi satu mati suri, bahkan ada yang ditutup… Kta balik ke era Orde lama…teriak asing, aseng, nasionalis, tapi seperti orang mabok miras sambil berkhotbah soal sorga dan neraka…

(Erizeli Jely Bandaro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. PA Harto jadi tentara gak pakai duit tapi sebaliknya….jadi wajar visi beliau tidak nyambung…makanya tentara sekarang dikasih MBG, Malah Bikin Go-vlog….