KDKMP Tercinta
Oleh: Dahlan Iskan
Kian banyak Koperasi Desa Merah Putih yang diresmikan. Sepulang ke tanah air nanti saya ingin segera melihat praktik bisnisnya.
Saya sudah tahu konsepnya: sangat bagus. Saya sudah tahu misinya: amat mulia. Saya sudah dengar ketatnya sistem pelatihan manajernya: sampai ada lima orang yang meninggal dunia.
Saya pun akan memaklumi kalau pekerjaan pertama KDKMP sebatas “mengambil alih” penjualan barang-barang yang selama ini disubsidi pemerintah: gas tiga kilogram dan pupuk untuk petani miskin. Itulah dagang yang paling mudah. Yang bahkan tidak perlu jiwa pedagang: jadi penyalur barang yang ditunjuk pemerintah dengan harga yang sudah ditentukan pemerintah dan yang pasti tidak mungkin ada risiko ruginya.
Korbannya: pedagang kecil yang selama ini jadi penyalur gas tiga kilogram dan pupuk subsidi. Mereka kehilangan bisnis di sektor itu.
Saya juga ingin tahu apa yang mereka lakukan setelah bisnis lama mereka diambil alih KDKMP. Saya yakin mereka akan menemukan bisnis lain. Itu karena jiwa mereka jiwa pedagang. Pedagang itu tidak bisa nganggur. Otaknya jalan terus. Jatuh-bangun adalah bagian dari napas kehidupannya.
Paling-paling mereka “sesak napas” kalau nantinya mereka melihat KDKMP tidak bisa berjalan dengan baik. Potensi terjadinya kegagalan itu sudah diingatkan oleh terlalu banyak orang. Mulai dari namanya yang koperasi tapi cara membangunnya bukan seperti koperasi. Sampai gaya manajemennya yang serba gaya militer.
Bisnis barang subsidi itu harus sukses dalam setahun. Jiwa bisnis mestinya mulai muncul setelah setahun mendapat “penularan” jiwa dagang dari “mentor” mereka: manajemen PT Agrinas Pangan Nusantara.
Anda sudah tahu apakah sang mentor sendiri punya jiwa dagang yang kuat yang layak jadi mentor untuk 80.000 perusahaan kecil sekaligus.
Namun ibarat orang yang sudah setahun dipercaya untuk jaga toko, seharusnya penjaga toko itu mulai tahu nama-nama barang dagangan, siapa pembeli mereka, dan bagaimana hitungan harganya.
Setelah jiwa bisnis mulai muncul barulah mereka memperluas bidang usaha: membeli hasil pertanian dan hasil usaha warga di desa itu. Ini mulai rumit. Berapa harga yang diterima petani dan berapa KDKMP menjualnya untuk konsumen di desa itu. Bagaimana pula cara menghitung marginnya. Bagaimana manajemen keuangannya.
Dan Anda sudah tahu: bagi petani, yang terpenting adalah kapan dibayar.
Petani sudah terbiasa harus dibayar saat barang diserahkan. Bahkan mereka ingin pembayaran sudah dilakukan sebelum barang diserahkan. Kalau bisa justru ketika padi baru ditanam.
Kalau KDKMP tidak memahami “hati nurani” petani seperti itu mereka akan kalah dengan pedagang. Petani akan lebih percaya kepada para pedagang ijon.
Tapi KDKMP mungkin tidak takut: mereka bisa minta agar polisi turun tangan untuk menangkap pegadang.
Karena itu seharusnya KDKMP bisa bersaing dengan pedagang ijon. Bukankah KDKMP akan sangat mudah mendapatkan modal kerja dari bank anggota Himbara –bank-bank milik pemerintah?
Jangankan untuk modal membantu petani, untuk modal mengimpor mobil dari India pun begitu mudahnya.
Transaksi dengan petani dan produsen di desa itulah misi mulia KDKMP. Kalau sukses maka uang akan beredar di desa. Dari desa kembali ke desa. Sangat mudah –di atas kertas. Apalagi kalau semua itu bisa dikomandokan dari atas.
Tapi bisnis adalah bisnis. Punya “hukum besi”-nya sendiri. Bisnis justru bisa berkembang melalui cara yang tidak mudah. Kesulitanlah yang menempa para pedagang untuk menjadi pedagang yang sebenarnya.
Serba mudah akan membuat sikap bermanja-manja. Tidak ada pedagang yang manja. Maka kalau KDMP yang manja itu nanti sukses berarti KDKMP berhasil membalik “kitab suci” perdagangan.
Kenapa dalam setahun KDKMP sudah harus bisa menangani barang nonsubsidi? Itu karena saya baca pernyataan Dewan Ekonomi Nasional: bentuk subsidi akan diubah secara radikal. Tidak akan ada barang-barang yang disubsidi. Orang miskinlah yang akan diberi uang agar mampu membeli barang-barang yang selama ini disubsidi: listrik, bensin, gas tiga kilogram dan pupuk.
Pemahaman saya: semua barang akan dijual dengan harga pasar. Dana yang selama ini diberikan untuk mensubsidi PLN, Pertamina, Pupuk Indonesia akan dibagikan kepada rakyat secara langsung. Uang subsidi, secara teoritis, memang harus diterima oleh orang: bukan diterima oleh perusahaan.
Yang seperti itu memang akan sangat baik. Sangat sehat. Tidak rumit. Tidak salah sasaran.
Setelah itu orang miskin akan menerima “gaji” sekitar –saya hampir tidak percaya membaca angka rupiah yang akan diterima orang miskin perbulannya– angka itu baiknya tidak saya tuliskan di sini.
Tentu orang miskin akan sangat senang menerima uang sebanyak itu. Setiap bulan. Kesenangan itu sampai pada ketika mereka akan membayar listrik, gas tiga kilo, membeli pupuk dan membeli bensin: kaget. Kok serbamahal. Apalagi kalau uang yang diterima itu sudah telanjur habis untuk keperluan lain.
Kalau perubahan sistem subsidi itu benar-benar terjadi, maka KDKMP akan langsung kehilangan barang dagangan utama mereka. Karena itu dalam setahun ke depan –sebelum sistem subsidi itu diubah– KDKMP harus sudah tahu akan berjalan ke mana.
Atau rencana perubahan sistem subsidi itu sendiri yang dibatalkan: demi KDKMP tercinta.
Rabu 08-07-2026
(Dahlan Iskan)
https://disway.id/catatan-harian-dahlan/956096/kdkmp-tercinta







siklus kehidupan, siklus usaha semua dimulai dari kecil. KDMP memang terlahir tidak normal, langsung besar dan dicari masyarakat, termasuk yang posisi diatas bukit atau dipematang sawah. mudah²an ambisi seseorang yang sangat idealis, pemimpi, namun tindakannya tidak realistis atau tidak praktis bisa berhasil. jika tidak, yo wis dadi nasibmu ngger….. sing sabar nduwe pemimpin ra nggenah, nye….nye….nye….nye….
di bojonegoro aja banyak yang mogok operasional gegara karyawannya digaji 76 ribu… duit segitu buat beli apaan? cilok?
Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bojonegoro tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp 2.685.983.