Kontroversi Mesir vs Argentina, Kemenangan Mesir “Dirampok” Oleh Wasit dan FIFA

Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina vs Mesir di Atlanta berakhir dengan kemenangan dramatis Argentina 3-2, namun memicu gelombang kontroversi besar terkait keputusan wasit.

Kubu Mesir merasa “dirampok” oleh serangkaian keputusan wasit asal Prancis, François Letexier, yang dinilai sangat menguntungkan sang juara bertahan.

Berikut adalah poin-poin kontroversi utama yang memicu kemarahan timnas Mesir dan ramai diperbincangkan di media internasional:

1. Dianulirnya Gol Kedua Mesir oleh VAR

Saat Mesir sudah unggul 1-0, Mostafa Zico sempat mencetak gol kedua yang bisa memperlebar jarak. Namun, gol tersebut dianulir oleh VAR karena gelandang Mesir, Marwan Attia, dianggap melakukan pelanggaran ringan (menginjak kaki) terhadap Lisandro Martínez di area pertahanan Mesir sebelum serangan balik dimulai.

  • Sisi Kontroversi: Pelanggaran tersebut terjadi sangat jauh (sekitar 100 yard) dari gawang dan berada dalam fase permainan yang sudah berlalu lebih dari 20 detik sebelum gol tercipta. Mantan wasit Piala Dunia, Fernando Guerrero, menilai keputusan ini menyalahi protokol VAR karena Argentina sebenarnya memiliki waktu dan ruang yang cukup untuk menyusun pertahanan kembali setelah insiden tersebut.

2. Pengabaian Penalti Mohamed Salah dan Klaim Pelanggaran

Kubu Mesir melayangkan protes keras karena wasit menolak memeriksa VAR untuk dua insiden krusial di kotak penalti Argentina:

  • Insiden Mohamed Salah: Mohamed Salah terjatuh di kotak penalti setelah kakinya terlihat dikait oleh Julián Álvarez. Wasit mengabaikan insiden ini.
  • Insiden Tarikan Baju Sebelum Gol Kemenangan: Sebelum Enzo Fernández mencetak gol ketiga penentu kemenangan Argentina pada menit ke-90+2, Mesir mengklaim mereka seharusnya mendapat penalti karena Alexis Mac Allister terlihat jelas menarik jersei Hamdy Fathy di kotak terlarang. Wasit membiarkan laga berjalan hingga berujung gol bagi Argentina.

3. Hujan Kartu dan Keributan di Pinggir Lapangan

Keputusan yang berat sebelah membuat atmosfer pertandingan memanas. Wasit François Letexier merespons protes keras para pemain dan staf Mesir dengan tindakan tegas:

  • Mengeluarkan kartu merah untuk salah satu anggota staf pelatih Mesir yang masuk ke lapangan.
  • Memberikan kartu kuning kepada kiper Mostafa Shobeir dan pemain Hamdy Fathy karena protes keras mereka.
  • Melayangkan kartu kuning kepada pelatih kepala Mesir, Hossam Hassan.

4. Protes Isyarat “X” dan Tuduhan Keberpihakan FIFA

Setelah pertandingan, pelatih Mesir Hossam Hassan meledak dalam amarah. Ia tertangkap kamera membuat isyarat tangan berbentuk “X” di depan wasit, sebuah simbol resmi FIFA untuk melaporkan insiden rasisme atau protes diskriminasi, meskipun ia tidak merinci motif gestur tersebut dalam konferensi pers.

Hassan secara terbuka menuduh bahwa turnamen ini “diarahkan” untuk memenangkan Argentina.

“Saya akan mengatakan apa yang ada di pikiran saya terlepas dari konsekuensinya, ini jelas pertandingan yang dicurangi dan seluruh dunia melihatnya. Dan saya ingin mengatakan satu hal lagi, jika mereka sangat ingin Argentina menang (menjadi juara), mengapa memanggil semua orang (48 tim) untuk datang dan berpartisipasi?” ujar Hossam Hassan.

Kritik serupa juga dilontarkan oleh pengamat sepak bola Inggris seperti Gary Neville dan Roy Keane di studio ITV, yang sepakat bahwa Argentina mendapatkan privilese keputusan wasit yang belum tentu diberikan jika posisinya dibalik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. wasit ini kinerjanya bobrok & berat sebelah di pertandingan play off olimpiade Paris antara Indonesia U-23 vs Guinea U-23