Maksud hati mengusut tuntas kasus pembakaran warung mie babi, tapi malah menuai caci maki. Lha ya’opo, menggerebek pondok santriwati kok seperti sedang melakukan penangkapan gembong narkoba Itali. Oala si polisi, raimu ngisin-ngisini. Dobol.
Pondok santriwati kok digerebek. Pakai senapan laras panjang lagi. Itu konyol sekali. Lha lapo se, mbok wis datang mertamu dengan sopan di siang hari. Santriwati yang lemah lembut itu dipastikan nggak akan melawan atau lari. “Assalamualaikum. Nuwun sewu, niki kulo ajenge nggerebek, mpun mlajeng nggih…”
Asli nggak sopan. Datang jam 3 pagi, nggedor pintu, bahkan sampai merusak. Yang paling parah memperlakukan santriwati dengan sangat kasar. Tanpa memberi kesempatan untuk menutup rambut dengan kerudung. Layaknya muslimah yang akan menemui tamu pria yang bukan mahramnya. Belum jadi terdakwa sudah dibikin sengsara.
Apalagi sampai menyita barang senilai 50 juta yang nggak terbukti kuat digunakan untuk alat kejahatan. Ya ada busur panah, tapi itu khan untuk ekstra kulikuler. Fyi, mereka orang Salafi yang memahani hadits secara harfiah : ajarkan anakmu berenang, berkuda dan memanah. Tidak dipahami konteks jaman itu. Ya akhirnnya ada pelajaran memanah. Babah wis, jarno.
Walau akhirnya para santriwati itu dilepaskan karena nggak ada bukti keterlibatan, tapi barang belum dikembalikan. Asli bajingan. 50 juta lumayan rek, iso nggawe mbangun mushola elek-elekan.
Para polisi yang terlibat ini harusnya dikasih sangsi. Dimutasi ke Papua atau minimal pulau Sapudi, biar berteman dengan sapi. Karena mereka nggak paham caranya memperlakukan manusia, khususnya wanita. Apalagi seorang muslimah. Belum terbukti tapi sudah disakiti.
Jangan salah, aku bukan pembela pembakar warung mie babi. Karena memang salah merusak properti pribadi. Kalau aku nggak perduli ada warung mie babi, me wedus, mie dinosaurus. Gak ngurus. Walau sebenarnya wagu membuka warung mie babi di tengah-tengah mayoritas muslim. Nggolek perkoro.
Wong cino kadang aneh nek bisnis. Onok sing bukak konter pulsa nang pelosok ndeso. Di pinggir jalan yang jarang orang lewat. Mobil lewat bisa seminggu sekali. Di situ kebanyakan petani yang gagap teknologi. Tapi kok yo iso sugih. Sementara akeh wong Islam sing rajin shalat tahajjud, yasinan, istighosah, tapi tetep kere ae. Dan hebatnya tetep konsisten nglakoni. Ya’opo wis.
Btw, kerjaannya polisi kok isinya kebanyakan mengancam daripada mengamankan. Aneh memang, kehadiran polisi itu harusnya bikin adem, tapi kok malah bikin nggak nyaman. Kasus apapun kalau nggak ada uang, nggak jalan. Nggak heran kalau masyarakat lebih memilih minta bantuan ke Damkar daripada si coklat. Kalau terlihat polisi dari kejauhan, hati sudah nggak tenang. Apalagi kalau nggak siap “uang damai”. Mulih ae wis. Aman.
Yang bikin muak dari kasus penggerebekan ini, nggak ada permintaan maaf yang keluar dari mulut pimpinan polisi. Jangan remehkan, ini soal kekerasan dan kesewenang-wenangan. Melakukan penggerebekan tanpa menunjukan surat tugas pada mereka yang belum terbukti bersalah. Kalau menggerebek pembunuh ya nggak perlu menunjukan surat tugas. Langsung sepak ndase.
Apalagi kalau ternyata polisi yang menggerebek bukan muslim, bisa perang agama. Kayak di Ambon atau Poso. Akan ada laskar-laskar yang nggak terima. Bahkan yang bukan laskar juga akan marah. Pokoke agamane Islam, masio gak tau sholat tetep gak terimo. Aku gak melok-melok. Kalau ada kantor polisi atau tempat ibadah terbakar, jangan salahkan massa. Karena institusi polisi terlalu sombong untuk mengakui kesalahan.
Terlalu lama diremehkan, lama-lama rakyat akan melawan. Apalagi ini Solo, rakyatnya hobi bakar-bakaran. Dulu pas demo reformasi, nggak cuman ban yang dibakar. Bis umum yang nggak ada hubungannya dengan tuntutan rakyat pun dibakar. Walaupun anarkis, wong Solo tetep sopan. Sebelum dibakar, ijin dulu ke penumpangnya, “Nyuwun pangapunten nggih, bis niki ajenge kulo obong. Monggo sedaya sami medal”.
Wis ah.
-FB-







FVCK KONOHA
cek sapa kapolseknya….. tandain
gak berubah, katanya bersama masyarakat
Dibayar sifit nindas pribumi muslim, yang grebek pada ngobat dulu biar jadi gila kesetanan.
penggerebekan ala PKI berseragam
berita murid dicabuli pengasuh namun kadrun tutup mata tiap harinya, tp digrebek langsung mengamuk, jd bingung kan motifnya apa, moso dicabuli tp kadrun diam aja gak emosi gak marah gak murka spt digrebek
apasih komenmu ngulang2 terus,,, siapa yang tutup mata, itu kasus cabul juga diproses!!
ga capek kah kamu punya hati dengki gini??
mbolot emang gitu om
Tunggu pembalasan di akherat kelak. Lebih sadis. Jaluk o pangapuro. nek pingin aman dunia akherat.
kalo di JKT polisi ngamanin mahasewa 🤣🤣🤣🤣
emang ga ada obat ni wercok 😡😡
Biar dibilang profesional, aslinya brutasional…memalukan. Tak ada etika tak ada adab…..