Buzzer Saudi sibuk menjelaskan kedatangan delegasi Saudi ke Iran.
Katanya itu bentuk keperkasaan diplomatik Saudi untuk memberi pesan tegas kepada Iran dan proksinya untuk mengembalikan stabilitas kawasan.
Tentu saja narasi begini cuma pepesan kosong untuk menghibur diri.
Padahal kenyataannya jelas, Saudi tidak punya kemampuan untuk mengalahkan antek Iran (Houthi).
Bandara Riyadh (simbol fasilitas vital negara) dibom Houthi sampai banyak jamaah umrah syahid dan terluka, ini kok malah mendatangi biangnya dengan tujuan ngajak damai.
Kan gak make sense sama sekali. Minimal serbu dulu kampung begundal Houthi di Saadah dan membongkar seluruh kuburan keramatnya kek. Atau mematahkan blokade Taiz sehingga menaikkan daya tawar Saudi secara diplomatik di hadapan Iran.
Sebelumnya pun tidak ada negara yang mau membantu nyerang Houthi di Yaman, mereka cuma mau membela Saudi jika Houthi atau pihak manapun menginvasi wilayah Saudi.
Kenapa tidak ada yang mau? Karena Saudi sendiri tidak maju duluan. Kok malah orang lain yang disuruh.
Ente maju duluan, pasti kita bantu, tapi kalau ente cuma nongkrong dan suruh orang lain maju ya sorry.
Pakistan itu penikmat minyak dan gas murah selundupan dari Iran, apa yang mau diharapkan?
Lucunya pas Menhan Saudi ketemu pejabat Iran pakai ‘Assalamu’alaikum’. Katanya Syi’ah kafir kok pakai ‘Assalamu’alaikum’.
Ada perbedaan penyebaran pengaruh geopolitik Saudi dan Iran.
Iran memberi bantuan tapi juga memberi kebebasan bermanuver pada proksi-proksinya untuk berkembang. Petinggi militer Iran pun ikut terjun langsung dan mondar demi membantu sekutunya.
Sedangkan Saudi sifatnya berusaha mengontrol total atau mendikte pihak yang menjadi sekutu lewat uang dan pengaruh. Sayangnya tidak ada pangeran Saudi yang terjun untuk bertempur di lapangan, hasilnya tidak ada ikatan batin yang terbentuk.
Cara itu bikin Saudi tidak mungkin bisa mengendalikan kelompok Islamis yang sangat ideologis.
Saudi malah hanya memiliki sekutu pemburu duit, misalnya Mesir yang pada 2015 lalu bersedia terjun menyerang Houthi asal dikasih 100 miliar Dollar, tentunya Saudi keberatan.
(Pega Aji Sitama)







B
bentar lagi Ali badjrie… kejang kejang…kelojotan….pasti nganggap penulis orang syiah….hua…ha…ha….