




Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) di Mojokerto mulai melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat dengan berkeliling kampung untuk menawarkan dagangan.
Kejadian ini menjadi sorotan masyarakat.
Risiko dan Dilema (Tantangan Lapangan)
- Potensi Konflik dengan Warung Kecil: Jika barang keliling dijual dengan harga jauh di bawah pasar ke pengguna akhir (end user), hal ini dapat mematikan usaha warung kelontong tradisional dan UMKM sekitar yang tidak bermodal besar.
- Beban Biaya Operasional: Pembelian dan perawatan armada kendaraan roda tiga, bahan bakar, serta insentif keliling meningkatkan beban biaya yang harus ditanggung kas koperasi.
- Keberlanjutan Usaha: Jika perputaran modal keliling tidak berjalan sehat, koperasi berisiko membebani anggaran daerah atau negara (APBN/APBD) yang mendanai program ini sejak awal.
Perbandingan Skema Operasional Kopdes Merah Putih
Berikut adalah perbandingan efisiensi antara metode gerai fisik statis yang awalnya sepi dengan metode jemput bola keliling kampung:Aspek Penilaian Metode Gerai Fisik (Statis) Metode Keliling Kampung (Jemput Bola) Aksesibilitas Warga Rendah; warga harus sengaja datang ke lokasi gerai. Tinggi; barang diantarkan langsung ke permukiman warga. Biaya Operasional Sedang; fokus pada perawatan gedung dan listrik gerai. Tinggi; mencakup BBM, perawatan roda tiga, dan kurir. Dampak Ekonomi Lokal Netral; berfungsi sebagai wadah serap produk UMKM desa. Sensitif; berisiko menyaingi warung kecil jika salah target penjualan. Tingkat Penyerapan Stok Lambat; sulit mengubah kebiasaan belanja warga. Cepat; interaksi langsung memicu pembelian spontan. 








gokil ini mah matiin warung2 disana
duh Gusti😭😭😭
Tapi kalau ini saya respect sama manager kopdesnya. Bener kerja, tidak seperti pejabat-pejabatnya.
buat kampung sblhnya jngan mau blnja ke kopdes ttangganya,atau cegah uyk masuk k kmpung lain
Innalillahi…gak salah liat ini
Bener2 prihatin dan kasian