“Selama Qur’an tetap dihafal di Gaza, mustahil Israel menang!”

”Kalian tahu, kenapa Israel menghancurkan 1080 masjid di Gaza?” kata Syaikh Ya’qub.

”Tarbiyah kami, dilakukan di dua tahapan. Pertama di keluarga, kami dibesarkan oleh orang tua penghafal Qur’an.”

”itu disebut Tarbiyatul Buyuut.”

”Lalu, Tarbiyatul Masjid. Masjid adalah Ma’had kami. Di sanalah berlangsung wisuda-wisuda Qur’an dan seakan menjadi titik kumpul para penghafal Qur’an untuk menyusun perlawanan!”

“Itulah sebabnya Israel hancurkan masjid-masjid kami! Tapi selama Qur’an tetap dihafal di Gaza, mustahil mereka menang!”

Semalam, musyawarah tim media Risalah Amar dengan Syaikh Ya’qub Al-Ghandour, diiringi penyemangat dari beliau.

Beliau adalah ex Wakil Menteri Kehakiman Gaza, lalu Wakil Menteri Ekonomi Gaza saat ini, dan sekaligus Ketua Serikat Pekerja Gaza.

“Apa rahasia warga Gaza tidak takut mati?” tanya salah seorang dari kami.

Beliau balik bertanya, “apa tujuanmu saat ini?” “Tujuanmu, surga saja! Itu yang membuat kami bertahan di peperangan ini!” beliau tersenyum.

“Kalian tahu? Kami warga Gaza juga takut mati. Tapi, mungkin karena perang ini tak terjadi di negeri kalian, kalian menganggap kami tak takut mati.”

“Sebenarnya, kami bukan tak takut mati. Bahkan kami ingin selamat, dan kami menjalankan sabda Rasul, janganlah berangan-angan datangnya musuh, tapi saat musuh datang, jangan lari.”

“Yang menguatkan kami adalah Al-Qur’an, kami menghafal Al-Qur’an, dan dengan itulah kami mendapatkan tenaga untuk bertahan, lalu kami ingat bahwa para syuhada itu kini menanti surga. Itulah semangat kami!”

“Yang menguatkan kami untuk mengejar pahala syahid, justru ketika perang ini terjadi,” kata beliau lagi.

“Selama perang, baik karena ledakan, diaduk-aduk buldoser, atau karena harus menumpuk jenazah baru di atas makam, banyak kuburan terbuka.”

“Di sana, masya Allah, kami jumpai banyak jenazah pejuang atau ulama, yang setelah dimakamkan pada 2023 lalu, di tahun ini, jasadnya masih utuh. Bahkan, jenggotnya terus tumbuh di makam itu, dan wajahnya persis seperti saat baru dimakamkan…”

“Sebagian jenazah, masih meneteskan darah, bahkan juga jenazah yang sudah dimakamkan dua puluh tahun lalu.”

“Para syuhada itu hidup! Mereka saat ini di alam barzakh, mendapatkan rezeki dari Rabb-Nya. Lalu apa alasan kita menghindari kesyahidan?”

“Meski begitu, tentu jangan sengaja mencari kematian. Beramallah untuk hidup, tapi saat kesyahidan itu tampaknya telah dekat, jangan lari!” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *