Pemilu di Israel buntu. Situasinya rumit.
- Blok Netanyahu (54 kursi) dan blok oposisi pimpinan Eisenkot (48 kursi) sama-sama gagal mencapai 61 kursi untuk bisa membentuk pemerintahan.
- Tanpa dukungan partai Arab (19 kursi), keduanya sulit membentuk pemerintahan.
- Partai-partai Arab Israel (Joint List dan Ra’am) meraih 19 kursi, rekor tertinggi mereka. Rekor ini terjadi setelah pemilih Arab berpartisipasi dalam jumlah partisipasi tertinggi dalam sejarah, dengan harapan dapat menggulingkan Netanyahu beserta sekutu sayap kanannya dari tampuk kekuasaan. Sebelumnya, perolehan kursi tertinggi mereka adalah 15 kursi.
- Dua partai Arab ini sekarang jadi penentu (king maker).
- Namun Kedua kubu (Netanyahu dan Oposisi) menolak koalisi dengan partai Arab. Inilah kebuntuannya.
Hasil pemilu Israel pada Oktober 2026 menempatkan partai-partai Arab pada posisi krusial (kingmaker) yang dapat menentukan masa depan pemerintahan, menyusul lonjakan partisipasi pemilih Arab yang mencapai rekor tertinggi. Fenomena ini memberikan blok oposisi kesempatan historis untuk menggulingkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, namun sekaligus memicu dilema politik yang mendalam bagi para pemimpin oposisi Zionis.
Berdasarkan dinamika pascapemilu, berikut adalah peta kekuatan dan tantangan bagi kubu oposisi:
1. Lonjakan Suara Arab dan Hasil Pemilu 2026
- Kebuntuan Parlemen: Berdasarkan penghitungan suara parsial (~85%), aliansi sayap kanan dan ultra-Ortodoks pimpinan Netanyahu diperkirakan memperoleh 53 kursi dari total 120 kursi Knesset. Sementara itu, partai oposisi Yahudi (Zionis) yang dipimpin oleh partai Yashar besutan mantan panglima militer Gadi Eisenkot mengamankan sekitar 48 kursi.
- Partai Arab sebagai Penentu: Partai-partai yang dipimpin warga Arab (seperti Joint List dan United Arab List/Ra’am) diproyeksikan meraih total 19 kursi—sebuah rekor tertinggi sepanjang sejarah politik Israel. Secara matematis, kubu anti-Netanyahu (oposisi) dan partai Arab menguasai mayoritas suara parlemen.
2. Dilema Besar bagi Oposisi Israel
Meskipun ada kesempatan nyata untuk menggeser Netanyahu, pemimpin oposisi menghadapi rintangan ideologis yang besar:
- Penolakan Kerja Sama: Pemimpin oposisi utama, Gadi Eisenkot, sebelumnya sempat menyatakan keengganannya untuk bekerja sama secara resmi dengan partai-partai Arab dengan alasan kurangnya kesamaan nilai. Kubu oposisi khawatir bahwa merangkul partai Arab akan mengasingkan pemilih mereka yang cenderung berhaluan kanan-tengah, terlebih di tengah meningkatnya sensitivitas keamanan pasca-serangan 7 Oktober 2023.
- Desakan untuk Koalisi Yahudi-Arab: Di sisi lain, tokoh oposisi sayap kiri seperti Yair Golan (pemimpin partai The Democrats) secara terbuka mendesak oposisi untuk mengambil langkah berani dan tidak terjebak dalam dikotomi rasis antara suara Yahudi dan Arab yang sering digaungkan Netanyahu. Menurut Golan, ini adalah kesempatan emas untuk membentuk “pemerintahan perubahan” (dengan merangkul partai-partai Aarb) demi memperbaiki keretakan sosial di Israel.
3. Posisi dan Tuntutan Partai Arab
- Bukan Tuntutan Radikal: Pemimpin partai Arab menyatakan bahwa agenda mereka berfokus pada hak-hak sipil, penghentian diskriminasi sistemik, penanganan kriminalitas yang melonjak di komunitas Arab, serta partisipasi yang setara dalam menentukan masa depan negara—bukan agenda radikal yang merusak kedaulatan.
- Opsi Dukungan: Tokoh-tokoh seperti Ahmad Tibi dan Mansour Abbas mengonfirmasi adanya komunikasi awal dengan kubu oposisi untuk membahas pergantian Ketua Knesset dan upaya penggulingan Netanyahu. Namun, dukungan ini kemungkinan besar akan diberikan dari luar koalisi formal (supporter eksternal), bukan dengan bergabung langsung ke dalam kabinet pemerintahan.
Skenario Selanjutnya
Jika kubu oposisi Israel (anti-Netanyahu) tetap menolak bermitra atau menerima dukungan dari partai-partai Arab, proses pembentukan pemerintahan akan mengalami jalan buntu. Hal ini dapat memaksa Israel mengadakan pemilu darurat baru atau mendorong terbentuknya pemerintahan persatuan nasional (unity government) yang melibatkan Likud, yang pada akhirnya berpotensi menjaga Netanyahu tetap berada di tampuk kekuasaan.







