Makin aneh saja bu dokter satu ini

✍️Widi Astuti

Iya, Islam memang bukan Arabisasi. Etapi Islam juga bukan Jawanisasi ya. Maksudnya bahwa Islam nggak harus disesuaikan dengan budaya Jawa gitu.

Contohnya aturan berbusana bagi perempuan sudah diatur jelas dalam Islam. Gak peduli dari suku bangsa atau negara manapun, maka sudah ada aturan baku.

Bahwa baju perempuan harus longgar. Tapi dia? Baju yg seharusnya menutup lekuk tubuh malah disesuaikan dengan kebaya yang ngepres body. Jilbab yang seharusnya menutup dada, malah jadi gak nutupin. Itu semua demi apa coba? Iku judule mung sakarepe dewe.

Bukan berarti anti kebaya. Boleh-boleh saja pake kebaya, asal nggak mlekethet atau ketat. Pake kebaya longgar tetep cantik kok. Kemudian jilbabnya dijulurkan menutupi dada.

Percayalah, bahwa mengenakan kebaya longgar dan panjang itu tetep anggun. Apalagi kalau diiringi senyum. Tetep bisa jadi Mbak Jawa berkebaya yang syar’i.

Sebenernya yang mau dicari itu Islamnya atau Jawanya? Kalau bisa beriringan, kenapa harus dibenturkan? Nggak usah lebay membenturkan antara Islam dan Jawa.

Jawabannya bisa ditemukan di lubuk hati terdalam asalkan mau jujur.

Saya orang Jawa 100%. Dan saya merasa tidak ada pertentangan yang berarti antara agama Islam dan budaya Jawa. Semuanya masih bisa diselaraskan. Semuanya bisa seiring sejalan.

Kecuali orang lebay dan baru mengalami culture shock sih. Ketika lagi terpesona dengan singing bowl, meditasi, hipnoterapi, dan tetek bengek yang berasal dari budaya non muslim, maka dia langsung menjaga jarak. Kayak anak kecil yang baru menemukan mainan baru. Ntar kalau udah bosen, mungkin beda lagi.

Duh, capek banget ya kalau baru nemu mainan baru terus langsung terkaget-kaget. Kapan bisa tenang berlabuh dan nggak aneh-aneh lagi.

Setiap orang memiliki spiritual journey. Dan hasilnya macem-macem. Tak ada yang sama. Sehingga hasil pengembaraan spiritual seseorang selama puluhan tahun tak bisa menjadi standar dan diklaim sebagai paling benar. Ya kecuali orang NPD sih, kalau tipe NPD mah ngakunya paling bener sedunia.

Perjalanan spiritual selama puluhan tahun bukan jaminan hasil akhirnya sesuai yang diharapkan. Membuat kita merenung betapa kita semua butuh penjagaan Alloh setiap saat setiap waktu. Karena istiqomah itu berat.

Hati manusia itu gampang terbolak-balik. Sungguh kita semua butuh berdoa agar ketika hati mulai melenceng, maka Alloh berkenan menuntun kembali.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘alaa diinik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar