HAUL HABIB
Ada beberapa tempat yang sejak lama ingin saya datangi, tetapi selalu saja luput. Salah satunya adalah Haul Habib Abd. Qodir bin Ahmad Bilfaqih al-Alawy di Kota Malang. Entah sudah berapa kali baru mengetahui setelah acara selesai, atau ketika rangkaiannya sudah berlangsung sehingga tidak mungkin lagi mengejar. Rasanya seperti selalu berselisih dengan waktu.
Mungkin memang belum ditakdirkan. Sebab ada perjalanan yang cukup disiapkan dengan kendaraan, dan ada perjalanan yang terlebih dahulu harus disiapkan dengan izin dari Allāh ﷻ.
Haul bukan sekadar mengenang seseorang yang telah wafat. Dalam tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, haul adalah ikhtiar untuk mendoakan ahli kubur, mengenang perjuangan hidupnya, sekaligus mengambil pelajaran dari warisan ilmu dan akhlaknya. Tradisi ini telah hidup berabad-abad di negeri-negeri seperti Hadramaut, kemudian berkembang kuat di Nusantara melalui dakwah para ulama dan habaib.
Yang menarik, sebuah haul selalu memiliki dimensi sosial yang sangat besar. Orang-orang datang dari berbagai kota tanpa undangan resmi. Mereka berkumpul bukan karena kepentingan politik, jabatan, ataupun keuntungan dunia, melainkan karena cinta kepada orang-orang saleh. Di sana orang kaya duduk berdampingan dengan orang sederhana, santri bertemu kiai, pedagang bertemu akademisi, pejabat bertemu rakyat biasa. Semua melebur dalam majelis zikir, doa, pembacaan maulid, dan silaturahmi.
Karena itulah, haul sebenarnya bukan hanya menjaga ingatan terhadap seorang ulama, tetapi juga menjaga jalinan masyarakat. Ia menjadi ruang bertemunya generasi tua dan muda, tempat sejarah lisan diwariskan, adab dipelajari, dan rasa hormat kepada ulama dipelihara. Ikatan sosial yang lahir dari haul sering kali bertahan jauh lebih lama daripada acara itu sendiri

Mungkin itulah sebabnya saya ingin sekali menghadiri Haul Habib Abd. Qodir bin Ahmad Bilfaqih al-Alawy di Malang. Bukan semata-mata untuk mengatakan bahwa saya pernah hadir, tetapi ingin merasakan suasana yang selama ini hanya saya dengar dari cerita orang. Ingin ikut duduk di tengah lautan jamaah, mengamini doa-doa, berziarah, dan bila Allāh ﷻ mengizinkan, sowan kepada habaib yang hadir.
Kalau selama ini selalu luput, barangkali memang belum waktunya. Namun harapan tidak boleh berhenti hanya karena kesempatan belum datang. Siapa tahu, justru kerinduan yang terus dipelihara itulah yang suatu hari akan menjadi jalan menuju takdir yang baik.
Semoga Allāh ﷻ mempertemukan saya dengan haul tersebut dalam keadaan sehat, lapang waktu, dan penuh keberkahan. Semoga dapat sowan kepada para habaib, mengambil manfaat dari majelis mereka, serta pulang dengan hati yang lebih dekat kepada Allāh.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
(DWYSA)
–fb






