Kasus pemblokiran rekening milik Supriyono (alias Botok), koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), kini memicu dampak serius bagi citra dan kinerja PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Rekening pribadi yang digunakan untuk menampung dana donasi logistik warga Pati sebesar Rp80,9 juta tersebut dibekukan secara mendadak menjelang aksi unjuk rasa di Gedung DPR RI.
Berikut adalah sejumlah dampak nyata dan “blunder” berantai yang dialami Bank Mandiri akibat insiden tersebut:
1. Sentimen Negatif dan Seruan Boikot di Media Sosial
Kolom komentar akun media sosial resmi Bank Mandiri langsung dibanjiri kritik tajam dan protes keras dari warganet. Netizen meluapkan kekecewaan karena menilai bank pelat merah tersebut mudah diintervensi oleh kekuasaan dan mengabaikan privasi serta kenyamanan nasabah. Narasi ketidakpercayaan ini meluas hingga memicu tagar boikot serta ajakan massal untuk memindahkan dana (rush money) ke bank lain.
2. Penurunan Harga Saham Bank Mandiri (BMRI)
Dampak sentimen negatif ini langsung merembet ke pasar modal. Pada perdagangan Senin (24/08/2026), saham BMRI tercatat melemah 1,37% ke level 4.180. Penurunan ini dinilai sebagai respons instan pasar terhadap risiko reputasi yang sedang dihadapi oleh perseroan.
3. Logo Bank Mandiri Mendadak Dicopot
Setelah dihantam badai kecaman akibat memblokir rekening donasi aksi rakyat Pati secara sepihak, pemandangan ganjil kini terlihat di Wisma Mandiri, kawasan elite Jalan M.H. Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat.
Papan nama ikonik dengan logo raksasa Bank Mandiri yang biasanya terpasang megah di puncak gedung, mendadak raib dicopot pekerja pada malam hari.
Bagi publik yang jeli, aksi “copot identitas” ini bukan sekadar perawatan gedung biasa. Ini adalah sinyal kuat dari penekanan panic button (tombol panik) oleh manajemen Bank Mandiri, yang mendadak parno menjelang rencana aksi demonstrasi besar-besaran dari masyarakat sipil.
[VIDEO]






