Selama dua dekade terakhir, UEA🇦🇪 berusaha tampil sebagai “Swiss-nya Timteng”. Ia mencitrakan diri sebagai zona nyaman yang sempurna. UEA kerap berkoar-koar buat meyakinkan dunia bahwa “kami ini netral,” namun faktanya netralitas itu hanya kamuflase.
Ketika pecah perang, netralitas bukanlah apa yang diomongin dalam konferensi pers. Jika pelabuhan, ruang udara, saluran intelijen, atau fasilitas militer digunakan membantu satu pihak, maka negara itu bukan lagi penonton. UEA adalah bagian dari papan permainan, dengan mendukung agresi AS-Israel.
UEA seperti anak manja dengan banyak duit, yang percaya segala sesuatu bisa diatur dengan duit. Bagi UEA, duit adalah pertahanan, kemewahan adalah segalanya. Kedaulatan bisa digadaikan asal hidup enaknya tak terganggu. Itu salah satu alasan UEA lebih memilih mbayari preman AS buat jaga keamanan.
🇮🇷Iran adalah sisi sebaliknya. Sudah 40 tahun lebih negeri itu dikepung dan disanksi. Mau dagang nggak boleh, sistem perbankannya diputus dari akses dunia, minyaknya dicegat, bahkan mata uangnya dibuat babak belur. Namun mereka tetap bertahan dan kelihatan jauh lebih kuat daripada negara-negara kaya ketika berurusan dengan soal kedaulatan bangsa dan negara.
Kalau orang sudah terlalu lama dijauhkan dari kata “nyaman”, lama-lama kenyamanan itu terasa nggak penting lagi. Yang penting itu gimana caranya tetep tegak berdiri. Survival itu bukan lagi perjuangan, tapi sudah jadi budaya.
Profesor Marandi pernah bilang, “Jangan pernah serahkan nasib masa depanmu di tangan musuh.” Anak-anak di sana, karena tumbuh besar di tengah sanksi dan embargo, punya pemahaman bahwa kedaulatan itu ada harganya, nggak gratisan. Maka ketika dewasa, pola pikir mereka beda dengan orang-orang yang biasa dimanja dengan fasilitas.
Mungkin ini yang sering salah dibaca oleh orang luar. Dipikir kalau di-embargo, sebuah negara bakal ambruk. Tapi mereka lupa bahwa, seperti yang dialami beberapa manusia, kadang tekanan dan kesulitan hidup itu malah bikin orang jadi kuat. Semua sifat manja, semua ilusi, semua rasa ketergantungan, dikikis habis.
Perang AS-Israel vs Iran ini membuka kerentanan tersembunyi dari negara-negara kaya yang dibangun dengan membayar perlindungan dari pihak luar. Mereka terlihat tak terkalahkan di masa damai, tetapi di masa perang mereka baru menyadari bahwa preman bayaran itu sebenarnya hanya melindungi kepentingan sendiri. Tidak ada yang namanya loyalitas sejati dalam hubungan internasional, apalagi relasi itu dibangun dengan bayaran. Washington akan membela aset strategisnya. Tel Aviv akan membela tujuan militernya. Tak satu pun dari mereka akan mau menanggung kerugian ekonomi Dubai.
Pola ini mencerminkan perjalanan hidup manusia. Seringkali kita mengejar “konsep Dubai” dalam hidup kita: mencari jalan pintas, menghindari konflik, dan membangun kebahagiaan pada sisi materi di atas fasilitas yang disediakan pihak lain. Kita ingin hasil tanpa proses, kekayaan tanpa martabat, dan keamanan tanpa ketangguhan mental. Namun, kenyamanan yang berlebihan kadang membuat kita rapuh. Begitu “asuransi” kehidupan kita dicabut, kita bingung.
Sebaliknya, kesulitan seringkali menjadi “ruang kelas” yang bagus. Kekuatan yang muncul dari kesulitan bukanlah kekuatan yang muncul karena membayar. Kemandirian, kekuatan dan resiliensi itu menjadi identitas. “We were born free, and we will die free,” kata Pak Abbas Araghchi ketika merespon ancaman AS-Israel.
Camus pernah menggambarkan perjuangan manusia sebagai upaya sia-sia: mendorong batu besar ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh kembali, lalu melakukannya lagi tanpa henti. Bagi Camus, kebahagiaan terletak pada penerimaan terhadap situasi yang absurd itu. Kebahagiaan itu, kata Camus, ya ada dalam perjuangan tersebut, meskipun uripmu ruwet saklawase. Tapi gagasan filsafat kayak gitu susah diterima dalam kehidupan nyata. Urip ruwet dan menderita kok bahagia? Mungkin ada yang bisa kayak gitu, tapi berapa banyak? Lha kita dioyak-oyak mantri BRI nagih cicilan aja udah mumet; apalagi jatuh tempo pas sakit gigi, apa ndak tambah kemut-kemut?
Iran mencoba melampaui gagasan absuditas itu. Dalam setiap tekanan, ada evolusi. Setiap kali “batu” kesulitan itu jatuh, manusia yang mendorongnya tidak lagi sama dengan sebelumnya. Ia menjadi lebih kuat , lebih berani, dan lebih mandiri. Jika Sisifus hanya menerima kesia-siaan, bangsa Persia memanfaatkan kesulitan itu untuk menghancurkan ketergantungan. Tujuan hidup bukanlah sekadar mendorong batu agar sampai ke puncak, melainkan transformasi diri yang terjadi selama pendakian itu. Dan pada akhirnya, tidak ada perjuangan yang sia-sia.
(Triwibowo Budi Santoso)






