


✍🏻Rahmadiyanti Rusdi
Dari kemarin mau nyetatus di medsos tentang kecelakaan kereta di St. Bekasi Timur, kok masih berasa nyesek dan patah hati 🥲 Apalagi saat keluar data korban meninggal yang sampai 15 orang. Ada yang usianya 19 tahun, 20an awal, 30an, s.d. 60 tahun. Semuanya perempuan.
Semoga Allah memberi tempat terbaik bagi yang berpulang. Memberi kesembuhan bagi korban luka, serta memberi kesabaran dan kekuatan bagi keluarga mereka.
Sebagai anker (anak kereta) selama lebih dari 30 tahun, banyak sekali pikiran berkecamuk di kepala. Bukan sekadar soal taksi hijau yang banyak disebut sebagai pemicu karena dalam kecelakaan tidak hanya ada satu penyebab tunggal. Juga bukan sekadar pemindahan gerbong wanita.
Mengutip jurnalis Kompas, Ahmad Arief: “Kecelakaan kereta api jarang berdiri sendiri. Ia hampir selalu menjadi “gejala permukaan” dari masalah yang lebih dalam, mulai dari teknis, institusional, hingga politik-ekonomi. Jika dibaca sebagai sinyal, ada beberapa lapisan persoalan yang biasanya tersembunyi di baliknya. Dalam dunia perkeretaapian, keselamatan bergantung pada lapisan sistem, mulai dari sinyal otomatis, proteksi kecepatan, komunikasi, hingga prosedur operasi standar. Ketika satu kecelakaan terjadi, sering kali bukan hanya satu komponen yang gagal, melainkan “rantai kegagalan”, apa yang dalam kajian keselamatan disebut Swiss Cheese Model.”
Soal double-double track misalnya. Mestinya jalur kereta dengan penggunaan kereta commuter (KRL) dengan kereta jarak jauh, memang double-double track (DDT), bukan double track saja. Saat ini DDT hanya sampai Stasiun Bekasi. Wacana memperpanjang DDT belum terealisasi hingga kini. Kemudian soal sinyal yang juga salah satu penyebab kereta Argo Bromo menabrak commuter, perlu jadi perhatian.
Perbaikan infrastruktur DDT kabarnya “hanya” memerlukan dana Rp7 triliun, sementara persinyalan mungkin ratusan miliar “saja”. Anggarannya “hanya” 6 hari MBG.
Tapi… bukannya memberesi hal yang lebih substantif, presiden malah mau bangun flyover atau pos jaga untuk perbaikan perlintasan sebidang dan siap mengucurkan dana Rp4 triliun. Dah lah.

(Sumber: fb)






drun nyinyir terus kabur aja ke yaman
jangan ada yg emosi dikatain kadrun,
krn yg ngomong kirdun
yang emosi lu doang nyet ali badjrie 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
hahahah..ada kirdun emosi
ga kapabel pengen jadi presiden
dipasangin bocah beler diterima aja