Tanggapan Untuk Rizal Mallarangeng Soal IRAN🇮🇷

Oleh: Ismail Amin (WNI di Iran)

Rizal Malarangeng dalam opini-opininya selalu mencitrakan rezim Islam Iran itu tidak realistis karena disebutnya negara teokrasi itu tidak layak hidup di era yang menjunjung tinggi demokrasi, modernitas dan keterbukaan…

Selalu digambarkannya rezim Iran🇮🇷 yang dikuasai militer hanya memikirkan bagaimana menguasai dan menghancurkan negara lain…

“Iran itu begitu punya uang, bikin roket, bikin rudal, mensponsori proksinya, dan bukan mensejahterakan rakyatnya. Tidak sebagaimana Emirat, Qatar, bahkan kita yang menghendaki kemajuan. Iran itu hidup di langit dengan konsep-konsep teologisnya dan bukan berpijak di bumi.” Begitu kurang lebih ujarnya…

Padahal realitanya, Iran tidak hanya memproduksi roket, tapi juga maju dalam bidang nanotekhnologi, teknologi medisnya terdepan di kawasan, sains dan industrinya maju, bahkan di bidang energi, teknologi hijaunya menjadi rujukan dunia…

Yang tidak pernah dijelaskan Rizal dalam podcast-podcastnya adalah Iran membangun semua itu bukan dalam kondisi nyaman seperti Qatar atau Emirat, bukan di atas karpet merah Amerika, bukan dengan perlindungan pangkalan militer Barat, dan bukan dalam limpahan akses bebas ke pasar dunia.

🇮🇷Iran membangunnya di bawah sanksi, sabotase, embargo, pembunuhan ilmuwan, perang media, dan ancaman militer yang tidak pernah berhenti.

Maka kalau di tengah tekanan sebesar itu Iran masih mampu berdiri, memproduksi teknologi, mengembangkan sains, mempertahankan kedaulatan, dan tetap menjadi aktor penting kawasan, itu bukan tanda negara yang hidup di langit.

Itu justru tanda negara yang sangat mengerti bumi: tahu bahwa bangsa yang tidak punya kekuatan akan diinjak, bangsa yang tidak punya pertahanan akan didikte, dan bangsa yang hanya mengejar kemewahan tanpa kedaulatan pada akhirnya hanya menjadi halaman belakang kekuatan asing.

Iran tidak sedang menolak modernitas. Iran sedang menolak modernitas yang harus dibayar dengan ketundukan. Dan di sinilah letak kegagalan cara baca Rizal, ia mengira kemajuan hanya berarti gedung tinggi, mal mewah, dan investasi Barat. Padahal kemajuan sejati adalah ketika sebuah bangsa mampu berdiri di atas kakinya sendiri, menentukan arah politiknya sendiri, dan tidak perlu meminta izin kepada Washington untuk hidup bermartabat.

Jadi persoalannya bukan Iran tidak realistis. Justru Iran terlalu realistis untuk dunia yang keras ini. Yang tidak realistis adalah membayangkan sebuah bangsa bisa aman, maju, dan dihormati hanya dengan menjadi manis di hadapan Amerika 🇺🇸. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. Suatu negara saat pemimpin tertingginya mati dibunuh atau ditangkap atas kejahatan yg diperbuatnya biasanya lgs kolaps. Iran itu beda, kuat secara politik dan ekonomi, meski diembargo puluhan tahun. Negara spt itu hanya bisa dicapai dg 2 cara: pemerataan pendidikan hingga jenjang sarjana dan merit sistem utk pejabat pemerintahannya … pemerataan pendidikan utk semua jenjang masyarakat itu akan menciptakan lapangan kerja dan otomatis kesejahteraan rakyatnya, merit sistem di semua level jabatan pemerintahan itu akan menciptakan supremasi hukum dan kestabilan politik … jika 2 faktor itu dijalankan dg baik, negara akan tumbuh dan maju dg sendirinya …

  2. sementara itu gerombolan TerMul dan TerWo seperti si af dan si Anonim BabRun pendukung garis kerasnya Mbah Wowo aNTEK asing omon omon malah kakinya gak nginjak bumi lagi. Mereka sdh siap² lepas landasan nginjak NERAKA akibat perbuatan MENIPUnya jadi buzzer MURAHAN‼️😜😂😝🤣🐷

  3. Saya yakin kehebatan Iran saat ini semakin menunjukka kpd umat Islam di Indonesia bahwa jalan Ali adalah baik, semoga Indonesia bisa mengikuti jalan Ali dan menjadi semakin familiar disini, terimakasih utk portal ini