Beberapa Catatan Untuk Kuliah Umum Pak Menteri
Oleh: Ustadz Yendri Junaidi
Saya diundang untuk menghadiri Kuliah Umum yang disampaikan Menteri Agama di Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar tadi siang (28/4/2026). Ada beberapa catatan saya tentang kuliah tersebut.
Pertama, saya sangat mendukung pernyataan Pak Menteri bahwa ungkapan, “lihat apa yang disampaikan dan jangan lihat siapa yang menyampaikan,” (seharusnya) tidak berlaku untuk UIN. Kalangan UIN tidak boleh hanya bisa bicara tanpa aksi nyata. Lalu beliau mengutip QS. Ash-Shaff ayat 3.
Beliau juga menegaskan ada dua hal yang mesti menjadi perhatian utama bagi para akademisi yaitu konsentrasi yang akan menghasilkan ilmu dan kontemplasi yang akan menghasilkan makrifat.
Beliau juga bicara banyak tentang ilmu ladunni. Para mahalsiswa jangan hanya belajar dari manusia. Sangat rugi kalau ilmu kita hanya berasal dari manusia saja. Lihat bagaimana Khidhir mendapatkan ilmunya langsung dari Allah Swt yang membuatnya layak menjadi guru bagi Nabi Musa as.
Mimpi juga salah satu bentuk ilmu yang langsung dari Allah. Para Nabi dan orang-orang shaleh banyak bermimpi sebagai bentuk komunikasi Tuhan dengan hamba-Nya. Ilmu tidak hanya yang berada dalam jangkauan rasio tapi juga yang tidak dapat dijangkau oleh rasio. Karena itu ada yang namanya iman. Beliau juga bicara tentang mukasyafah.
Catatan
Sebagai salah seorang pengagum dunia tasauf, saya cukup menikmati kuliah yang disampaikan oleh Bapak Menteri di UIN Mahmud Yunus tadi. Namun ada hal yang cukup menggelitik dan mengundang tanda tanya yang perlu jadi perhatian.
Pertama, ia mengatakan bahwa Nabi Saw sampai saat ini masih tetap mengajar umatnya. Hal ini berdasarkan pada ayat yang menjelaskan fungsi Nabi yaitu:
… ويعلمهم الكتاب والحكمة ويزكيهم …
Fi’il yang digunakan dalam ayat tersebut adalah mudhari’. Sementara diantara fungsi fi’il mudhari’ itu adalah untuk menunjukkan masa sekarang. Berarti sampai sekarang pun Nabi Saw masih tetap mengajar dan mensucikan jiwa umatnya.
Tafsir yang cukup unik dan sangat kental dengan nuansa sufi. Hanya sayangnya Pak Menteri tidak menyebut sumber dalam hal ini.
Kedua, yang membuat saya penasaran adalah pernyataan beliau tentang kitab Ihya karya Imam Al-Ghazali. Beliau menyatakan bahwa setiap hadits yang dicantumkan oleh al-Ghazali dalam kitab ihya sudah beliau tanyakan langsung pada Rasulullah Saw dalam mimpi. Imam al-Ghazali tidak akan mencantumkan hadits-hadits itu di dalam ihya`-nya sebelum mendapat persetujuan langsung dari Rasulullah Saw.
Saya jadi penasaran, darimana sumber pernyataan beliau ini? Karena kalau ini benar maka usaha Imam al-‘Iraqi mengkritis hadits-hadits dalam kitab Ihya` hanya sia-sia belaka.
Ketiga, Pak Menteri bahkan menyampaikan bahwa ada satu buku utuh yang ditulis oleh seorang ulama (kalau tak salah dengar, beliau menyebut nama Ibnu ‘Arabiy) yang seluruh isinya berasal dari Rasulullah Saw. Karena itulah pengaruh buku tersebut bagi murid ulama tadi dan siapapun yang membacanya akan terasa sangat berbeda karena sumbernya langsung dari Rasulullah Saw dari alam yang berbeda.
Ini semua beliau sampaikan untuk menegaskan satu hal pokok; jangan mencukupkan ilmu dari manusia saja, tapi carilah ilmu langsung dari Sang Pemilik ilmu (ilmu ladunni).
Seolah-olah ilmu ladunni itu bisa diusahakan (bersifat kasbi). Padahal sependek pengetahuan saya, ilmu ladunni itu tidak bersifat kasbiy melainkan wahbiy (karunia atau pemberian).
Sengaja saya buat catatan ini agar para dosen dan mahasiswa yang hadir di Kuliah Umum tadi bersedia mengingatkan kalau saya salah tangkap. Tapi jika saya tidak salah tangkap maka catatan ini semoga bisa menjadi pengingat bahwa ada hal-hal yang cukup ‘bermasalah’ dari kuliah yang disampaikan oleh Bapak Menteri Agama di UIN Mahmud Yunus Batusangkar tadi siang.
والله تعالى أعلم وأحكم
[YJ]






