Harusnya diakui, bahwa Presiden Prabowo terlihat kebingungan menempatkan M. Qodari dan Hasan Nasbi dalam kabinet. Dibuang, sayang. Tapi, tak dibuang, entah di mana posisi yang cocok buat mereka? Sudah sempat dibuang, tapi ditarik lagi.
Bahkan, awalnya, M. Qodari termasuk yang tak dipanggil ke Kertanegara, saat awal pembentukan kabinet. Sampai-sampai, Karni Ilyas waktu itu heran, kenapa M. Qodari tak dipanggil ke Kertanegara, padahal pembelaannya cukup besar pada Prabowo.
Akhirnya, M. Qodari masuk juga dan dilantik sebagai Wakil Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Untung saja, dipertanyakan Bang Karni. Kalau tidak, bisa jadi M. Qodari terlupakan. Tapi KSP punya Wakil, ini pertanyaan juga. Dicari-cari saja mungkin.
Kemudian, M. Qodari dilantik lagi menjadi KSP menggantikan AM Putranto, September 2025. Dan kini, dilantik lagi menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah. Entahlah, apakah ini pelantikan terakhir M. Qodari? Ataukah, ke depan masih akan ada lagi? Dipakai sulit, dibuang sayang.
Berbeda dengan M. Qodari, Hasan Nasbi sudah dilantik oleh Presiden Jokowi, setahun menjelang lengser, menjadi Kepala Komunikasi Kepresidenan (PCO). Posisi baru yang sebelumnya tak pernah ada. Hasan Nasbi seperti sengaja dititipkan Jokowi kepada Prabowo.
Mau tak mau, Presiden Prabowo harus melanjutkan posisi Hasan Nasbi, karena memang keberlanjutan. Hasan Nasbi terlihat sekali keteteran dengan pola yang dipakai pemimpin baru. Akhirnya, dia sendiri yang minta mundur tapi dicegah Presiden Prabowo.
Bersamaan dengan dilantiknya M. Qodari sebagai Kepala KSP, justru Hasan Nasbi dicopot sebagai Kepala PCO. Bahkan, posisi ini pun dihapus dan diganti dengan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, yang sekarang diduduki M. Qodari.
Selain dilantik sebagai Komisaris Pertamina, Hasan Nasbi kembali lagi pada profesinya semula, yakni influencer. Terakhir, ia menanggapi rencana Saiful Mujani menjatuhkan Presiden Prabowo. Mungkin karena itu ia dilantik lagi menjadi sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.
Padahal, sebelumnya, komunikasi itu pula yang dianggap bermasalah dari seorang Hasan Nasbi. Bisa jadi bermasalah dalam pandangan publik, tapi nasihat buat Presiden, semoga saja tidak. Kalau tidak juga, maka mungkin orangnya yang tidak cocok menjadi pejabat. (ERIZAL)






