Malaysia dan Logam Tanah Jarang
(By Erizeli Jely Bandaro)
Dalam politik luar negeri. Malaysia🇲🇾 berani berbeda dengan AS🇺🇸. Tidak sepenuhnya patuh.
Dalam perang teluk, Malaysia berani pro Iran dan jelas mengutuk Israel yang membombardir Gaza dan Iran. Malaysia melirik China dan sukses dapat perhatian. Pada waktu bersamaan Pentagon sedang berusaha melobi Malaysia untuk mengolah RRE (logam tanah jarang). Maklum, kini pabrik rudal dan pesawat tempur AS/Israel terhenti produksi akibat embargo RRE dari China.
Itu bukan tanpa perhitungan. Malaysia punya sumber daya logam Tanah Jarang (RRE) terbesar di dunia. Lebih besar dari China. Hanya saja belum diolah. Kalaupun diolah tidak sesulit. Karena RRE Malaysia sebagian besar berupa ion-adsorption clay deposits—jenis endapan tanah liat yang relatif lebih mudah diekstrak dibanding batuan keras seperti di Indonesia RRE terjebak dalam nikel, timah dan tembaga.
Di Kawasan Industri Kuantan di Pahang (Malaysia), China sudah lebih dulu bangun ekosistem industry electronic yang butuh RRE. Dan AS berharap bangun di Kuantan juga pusat pengolahan RRE.
Dengan kondisi ini, Malaysia mengunci China dan AS dalam satu koridor kepentingan domestiknya. Ini financial resource yang sangat besar. AS dan China harus buka pasar untuk Malaysia dan beragam fasilitas tarif.
Peradaban Melayu memang sangat maju, sebagaimana Tan Malaka. Jadi engga aneh bila Malaysia sedikit cerdas mengelola Geopolitiknya. Masa depan memang tidak pasti. Tetapi Malaysia menjadi pemain dari ketidakpastian itu. Bukan penonton dan tangan dibawah.






