Sekolah Tidak Boleh Menolak MBG, Padahal Ini Sekolah Elit Kelas Menengah-Atas, Muridnya Aja Pakai Mobil listrik

Dari akun X @OniSuryaman:

Mumpung postingan MBG masih anget.

Saya mau sharing dikit tentang pelaksanaan MBG di tempatku bekerja.

Sekolah kami sudah beberapa minggu ini AKHIRNYA kebagian MBG juga. Pada mulanya sekolah menolak. Tapi kata dinas, sekolah tidak boleh menolak; yang boleh menolak adalah orang tua siswa. Dan jadilah divoting berapa yang mau menerima MBG, dan diberikan jumlah omprengan sesuai dengan yang mau menerima. Jadilah sekolah kami menjadi penerima MBG.

Sebagai latar sedikit, sekolah kami itu rata-rata menengah ke atas. Yang sekolah aja ada yang pake Hyundai Kona (mobil listrik). Liburan ke luar negeri.

Kalau lulus kuliahnya kedokteran, PETRA, atawa ke luar negeri.

Saya di sana mengampu persiapan SAT bagi mereka yang mau ke LN (sambil tipis2 ngajarin mereka investasi saham pakai simulator). *SAT (Scholastic Assessment Test) adalah tes standar internasional untuk seleksi masuk kuliah S1 luar negeri, terutama Amerika Serikat, yang menguji kemampuan Reading, Writing & Language, serta Math*

Sekolah ternyata memang “agak” dipaksa untuk menerima MBG. Jika menolak, ada kemungkinan BOS-nya juga akan ditarik karena dianggap sudah mampu. Dan saya mendengar hal yang sama juga dialami beberapa sekolah lain yang muridnya banyak menengah ke atas.

Untungnya SPPG-nya lumayan. Minimal dari beberapa minggu ini saya amati menunya lumayan. Ayam teriyaki, ayam pop corn; buahnya jeruk potong, semangka, melon, dll. Kalaupun ada kekurangan, hanya masalah porsi. Tahu sendiri anak-anak usia SMA, terutama yang cowok-cowok, porsi makannya kayak apa.

Dari pengalaman ini saya melihat bahwa sebenarnya BGN itu hanya ngejar angka. Berapa jumlah siswa yang menerima MBG, berapa sekolah, dll. Mereka tidak peduli apakah itu tepat sasaran atau tidak. Lah, sekolah kami yang murid-muridnya lebih dari mampu juga diberi MBG. Dengan “sedikit” paksaan lagi, kalau menolak akan ditarik dana bantuan pemerintah.

Anak-anak mungkin senang-senang saja dikasih makan gratis. Tapi yang mengeluh adalah ibu kantin yang omsetnya mulai turun.

Dan siapa yang paling dirugikan? Tentu saja mereka yang bisa jadi tidak menerima gaji karena anggaran negara mulai seret diserap oleh MBG: para PPPK, guru dan nakes.

Bahwa setiap bulir beras MBG kepada yang tidak berhak bernilai tetes darah mereka yang mengabdi sebagai pegawai dan terancam tak digaji.

(@OniSuryaman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 komentar

  1. berarti wakil kepala mbg cuma omon-omon. beliau sendiri yg bilang tidak boleh memaksa sekolah menerima mbg. tambahan info nih, beberapa hari lalu ada kasus keracunan mbg di 3 SDN di kelurahan Tempurejo Kota Kediri. mana orang yg bilang pengawasan MBG diperketat? kalau beneran ketat mana ada kasus keracunan?