Ada sebuah keluarga, “Pak Indo”, anaknya banyak. Keluarga besar.
Per hari ini, Pak Indo punya tabungan 420T. Lumayan.
Berapa pendapatan Pak Indo per bulan? Sekitar 250T, total.
Nah, dari pendapatan ini, Pak Indo harus belanja bulanan:
- Buat istri dan anak2 di rumah, 42 triliun
- Buat listrik dan BBM, 22T (subsidi BBM)
- Buat bantuan, dll, 20T (bansos)
- Buat beli kebutuhan rumah tangga 40T (keamanan 10T, satpam 8T, kesehatan 8T, pendidikan 5T, dll 9T)
- Buat transfer anak di luar kota, 80T.
- Buat bayar bunga KPR, dkk, 50 triliun
Dari sini saja, sdh habis 254T. Wah tekor.
Ditambah lagi, aduh, Pak Indo ini hobi makan-makan, 25T sebulan. Tambah tekor, itu tabungan kemakan deh.
Sebenarnya sampai di sini baik-baik saja, terserah Pak Indo.
TAPI dunia lagi perang. Harga minyak yg 70 dollar jadi 100. Setiap naik 1 dollar, biaya subsidi nambah 5T. Naik 30 dollar, itu setara 150T. Alias 12 T sebulan. Kusut, rupiah juga melemah, tambah kacau deh, biaya-biaya naik lagi sekitar 5T sebulan.
Dus, mau diakui atau tidak sama Pak Indo, itu tabungan 420T semakin kemakan. Jika minyak sampai akhir 2026 begini terus, kurs tembus 18.000, kusut ekonomi keluarganya.
Apa solusinya? Utang. Itulah hobi Pak Indo, semakin menggila 10 tahun terakhir. Utang, utang.
Sialnya, tahun 2026 ini sendiri, ada 833T utang jatuh tempo yg harus dilunasi. REKOR. Kacau. Gimana ngelunasinnya? Utang baru lagi deh. Gali lubang tutup jurang. Crazy.
Itulah situasi ekonomi keluarga Pak Indo. Dia jelas tidak akan mau mengakuinya. Denial habis-habisan. Dia pasti bilang baik-baik saja. Semua aman sentosa. Optimis. Tapi ekonomi tekor itu TIDAK bisa ditutup dgn kata-kata indah.
Sedihnya.
Terakhir, jika Pak Indo betulan mau dengerin, saya mau kasih saran.
- MBG cukup buat anak2 miskin dan stunting saja. Maksimal 50T, hemat 270T deh.
- Kopdes MP itu dimulai di 20% desa2 potensial dulu, hemat lagi puluhan T.
- BBM, kalau kamu gengsi naikin harga, mulailah betul2 tegas siapa yg berhak dapat subsidi.
- Pangkas kementerian jadi 25 maksimal.
- Mulailah tegas ke perusahaan2 besar soal pajak. Termasuk pengusaha2 dgn kekayaan triliunan.
- Terakhir, kurangilah jalan2 ke LN.
Renungkanlah, Pak Indo.
(Tere Liye)









apa, ngurangin kementerian? mana mungkin, bakal teriak itu para mantan timses yg jumlahnya bejibun
Pak Indo ga bisa lihat dan dengar Om..krn hawa nafsu nya lebih besar dr pada akal sehatnya ..krn udah uzur