Delegasi kepemimpinan dari Gerakan Perlawanan Islam Hamas telah mengakhiri kunjungan resminya ke negara sahabat Malaysia, Sabtu (25/4/2026).
Delegasi tersebut terdiri dari Dr. Basem Naim, anggota Biro Politik Hamas di Jalur Gaza dan Wakil Kepala Biro Hubungan Dunia Arab dan Islam Hamas, Fawzi Barhoum, serta perwakilan gerakan tersebut di Malaysia.
Ringkasan dari wawancara dengan Anggota Biro Politik Hamas, Dr. Basem Naim dengan Astro Awani:
1. Sikap Hamas terhadap rencana perdamaian dan negosiasi
Hamas awalnya menyambut baik rencana perdamaian 20 poin yang dipimpin oleh Presiden Trump sebagai kesempatan untuk mengakhiri genosida di Gaza, dan menandatangani perjanjian awal pada Oktober lalu. Hamas tetap berkomitmen untuk menegosiasikan fase kedua dari rencana tersebut, tetapi belum ada implementasi nyata dari fase pertama, dan Israel telah melanggar perjanjian tersebut berkali-kali setiap hari.
Sejak perjanjian ditandatangani, lebih dari 800 warga Palestina telah tewas dan 2.000 lainnya terluka. Sebelum sepenuhnya beralih ke fase kedua yang mencakup diskusi tentang pemerintahan teknokratis, pasukan stabilitas internasional, dan visi politik untuk kenegaraan, Hamas menuntut jawaban yang jelas dan pemenuhan komitmen pada fase pertama.
2. Posisi tentang perlucutan senjata
Hamas dengan tegas menolak untuk melucuti senjata sampai tujuan politik mereka seperti terbentuknya negara Palestina, kebebasan, martabat, dan hak untuk kembali tercapai. Dr. Basem menjelaskan bahwa perlawanan bersenjata hanyalah alat, bukan tujuan akhir.
Jika negara Palestina merdeka didirikan, Hamas akan siap meletakkan senjata dan mengintegrasikan para pejuangnya ke dalam tentara nasional. Ia mengutip tragedi sejarah seperti pembantaian Sabra dan Shatila tahun 1982 dan pembantaian Srebrenica di Bosnia sebagai pengingat tentang apa yang dapat terjadi ketika kelompok-kelompok yang tertindas meletakkan senjata mereka di bawah pengawasan internasional tanpa jaminan keamanan yang kuat.
3. Tata Kelola dan Pemilu di Masa Depan
Mengenai masa depan Palestina, Hamas percaya bahwa struktur negara harus diputuskan oleh seluruh rakyat Palestina. Mereka menyerukan diskusi meja bundar yang melibatkan semua kelompok Palestina, termasuk PLO, untuk membentuk suara yang bersatu.
Hamas membayangkan negara sipil berdasarkan pemilihan demokratis dan telah menyatakan bahwa mereka siap untuk menghormati hasil dari setiap pemilihan yang bebas dan transparan. Meskipun akan ada pemilihan umum kota yang akan datang, Hamas tidak secara resmi berpartisipasi karena kandidat mereka berisiko dibunuh, dan Dr. Basem menyatakan bahwa perpindahan penduduk secara besar-besaran berarti bahwa pemilihan lokal saat ini tidak dapat dianggap sebagai ukuran sebenarnya dari popularitas politik.
Selain itu, Hamas mengklaim bahwa mereka telah menawarkan untuk menyerahkan administrasi Gaza kepada komite teknokrat, tetapi Israel sengaja memblokir transisi ini untuk mempertahankan narasi bahwa Hamas menolak untuk melepaskan kendali.
4. Krisis Kemanusiaan
Kehidupan sehari-hari di Gaza digambarkan sangat tidak layak huni karena penolakan yang disengaja terhadap kebutuhan dasar. Warga Palestina menghadapi kesulitan yang terus-menerus dalam memperoleh kebutuhan dasar, termasuk harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan air, sementara menghadapi gangguan total terhadap internet, listrik, dan pendidikan.
Tumpukan sampah yang tidak dikumpulkan telah menyebabkan infestasi tikus besar-besaran, yang membuat anak-anak terpapar penyakit menular yang serius.
5. Kemunafikan Media Barat dan Perang Melawan Iran
Dr. Basem mengkritik media arus utama Barat karena meninggikan narasi Zionis dan mengabaikan insiden di mana warga sipil Palestina terbunuh saat mencoba mendapatkan bantuan makanan.
Namun, ia mengakui bahwa media sosial telah berhasil menembus batasan media tradisional dan mengungkap realitas sebenarnya di lapangan kepada publik Barat, sehingga berkontribusi pada meningkatnya solidaritas internasional.
Konflik AS dan Israel dengan Iran sebagian besar telah mengalihkan perhatian global dari krisis kemanusiaan di Gaza. Dr. Basem berpendapat bahwa Israel telah memanfaatkan pengalihan perhatian ini untuk meningkatkan operasi militernya, mengirim lebih banyak pasukan ke Jalur Gaza, dan merebut lebih banyak tanah dengan pengawasan internasional yang minimal.
Dipublikasikan oleh:
Dunia Palestin Network
Sumber: fb






