Prof. Ferry Latuhihin: Dolar bisa naik sampai Rp25.000

Prof. Ferry Latuhihin adalah seorang pakar ekonomi, pengamat pasar modal, dan akademisi senior asal Indonesia yang dikenal dengan gaya penyampaiannya yang lugas dan “nyentrik”. Ia sering muncul sebagai narasumber untuk membahas isu-isu ekonomi makro, kebijakan fiskal, dan dinamika pasar keuangan global.

Prof. Ferry Latuhihin setahun lalu memprediksi dolar akan tembus Rp17.000. Saat itu orang belum ada yang percaya. Sekarang sudah Rp17.000 lebih/dolar.

Kini dia bicara lagi dan memberi analisis yang muram: Dolar bisa naik sampai Rp25.000 kalau keuangan negara tidak segera dibenahi.

“Dolar bisa ngacir ke 25.000 loh, I’m warning you,” ujarnya.

Pemerintah bilang ekonomi tumbuh lebih dari 5%. Tapi menurut Ferry, angka sebenarnya lebih kecil, mungkin hanya sekitar 4%. Alasannya? Pinjaman bank ke masyarakat dan perusahaan tidak bertambah cukup banyak. Kalau ekonomi benar-benar tumbuh kuat, seharusnya pinjaman bank juga naik lebih cepat. Bahkan lembaga pemeringkat dunia seperti Moody’s dan Fitch sudah mulai khawatir dan menurunkan penilaian mereka terhadap Indonesia

APBN sedang bermasalah. Di awal tahun 2026, kekurangan (defisit) uangnya sudah mencapai Rp240 triliun hanya dalam 3 bulan. Kalau dibiarkan, ini bisa melebihi batas aman.Ditambah lagi harga minyak dunia naik, jadi subsidi BBM (bensin) jadi lebih mahal. Utang pemerintah yang harus dibayar tahun ini juga sangat besar.

Bahaya MBG

Prof. Ferry bilang program makan gratis (MBG) yang sedang digalakkan pemerintah bukanlah investasi. Itu lebih mirip belanja konsumsi biasa, bukan sesuatu yang bikin negara lebih maju jangka panjang. Anggaran untuk program ini Rp335 triliun, padahal kalau diatur dengan tepat sasaran, cukup Rp10 triliun saja.

“Mohon dikasih tahu kepada Pak Presiden bahwa kalau program makan-makan itu dianggap investasi itu bohong besar,” kata Ferry.

Makan siang adalah konsumsi. Dan konsumsi yang dibiayai utang itu bukan membangun masa depan. Itu memakan masa depan.

Investasi sejati, menurutnya, adalah infrastruktur. Duit 300-an triliun menurut Feri sebaiknya dipakai untuk hal yang lebih bermanfaat, seperti membangun infrastruktur, buka lapangan kerja, serta meningkatkan mutu pendidikan dan riset yang dapat menaikkan produktivitas jangka panjang.

Koplak-nomics

Prof. Ferry menyebut kebijakan anggaran, seperti program makan siang itu sebagai “koplaknomics” (ekonomi serampangan/ultra-populis) karena boros anggaran dan tidak terkelola dengan baik. [Koplak dalam bahasa Jawa salah satu artinya adalah “bodoh, tidak logis, konyol”.]

Banyak orang kelas menengah yang dulu punya tabungan sekarang hampir tidak punya uang lagi. Jumlah mereka turun dari 57 juta orang jadi 47 juta. Kemudian pegadaian makin ramai. Ketika orang menggadaikan barang untuk kebutuhan sehari-hari, maka itu bukan tanda ekonomi yang baik-baik saja, kata Feri.

Bank Indonesia (yang mengatur suku bunga) sedang dalam posisi sulit. Kalau naikkan bunga, ekonomi bisa semakin lemah. Kalau turunkan bunga, rupiah bisa semakin jatuh dan harga barang naik.

Prof. Ferry Latuhihin juga mengkritik Menteri Keuangan Purbaya, menilai kebijakan fiskalnya menyalahi hukum ekonomi. Dia menganggap Pak Menteri itu tidak memahami fundamental ekonomi nasional, khususnya dalam penanganan dana perbankan dan target pertumbuhan ekonomi. Ferry menuding kebijakan Purbaya berkontribusi pada pelemahan nilai tukar rupiah, yang ia sebut sebagai “Purbaya effect”.

Feri berharap pemerintah mau mendengarkan saran dari para ekonom: pangkas pengeluaran yang tidak perlu, perbaiki atau bongkar program makan siang gratis dan prioritaskan hal-hal yang benar-benar bikin ekonomi tumbuh kuat. “Yang dibutuhkan bukan hanya saran, tapi keberanian untuk mendengar hal yang tidak enak didengar dan mengambil keputusan yang mungkin pahit di awal, tapi baik untuk rakyat ke depannya,” ujarnya.

Para ekonom sudah memberikan saran yang konkret, berbasis data, dan bisa diverifikasi. Saran yang sering muncul antara lain rasionalisasi program makan, perampingan kabinet, perbaiki kepastian regulasi, prioritaskan investasi produktif dan pendidikan, jaga fiskal dari defisit yang melebar. Dan apa respons dari lingkaran pemerintah? “Orang yang kritik MBG disebut tidak nasionalis. Orang yang mempertanyakan kebijakan ekonomi disebut tidak mendukung presiden. Dan siapapun yang mengutip data dari lembaga internasional seperti World Bank atau IMF bisa dengan mudah diberi label antek asing,” tulis analis saham di akun Lambsaham.

(Triwibowo Budi Santoso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. woiii mana nih si af dan si Anonim gerombolan TerMul dan TerWo BabRun gerombolan Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI. Aku tahu kalian baca berita ini tapi kalian gak berani mau komen karena ini berita FAKTA‼️🐷😜😂😝

  2. Tapi memang pemerintah konoha lebih senang mendengar hal2 yang enak didengar , yg disupply para buzzer. Kritik itu membuat sakit ditelinga…