MENUJU GELAP: REKOR-REKOR 1,5 TAHUN PEMERINTAHAN PRABOWO

Menuju Gelap

✍🏻Erizeli Jely Bandaro

Secara empiris, sekitar 70% struktur impor Indonesia terdiri dari bahan baku dan barang penolong industri, sementara survei pelaku usaha menunjukkan bahwa ±70% bahan baku industri masih berasal dari luar negeri. Artinya, sebagian besar aktivitas produksi domestik tidak bertumpu pada fondasi lokal, melainkan pada input global.

Ketergantungan ini bahkan lebih ekstrem di sektor tertentu. Industri farmasi masih mengimpor sekitar 80% bahan bakunya. Industri susu dan pangan tertentu berada pada kisaran yang sama. Industri kimia dasar dapat mencapai ketergantungan hingga 90%, sementara sektor petrokimia—khususnya nafta—hampir sepenuhnya bergantung pada impor. Dengan struktur seperti ini, Indonesia bukan sekadar pengguna impor, tetapi terkunci secara sistemik dalam rantai pasok global.

Lalu apa yang terjadi ketika rupiah melemah? Dalam jangka pendek, sebagian pelaku sektor berbasis sumber daya alam memang diuntungkan, terutama dari penerimaan devisa hasil ekspor (DHE). Namun keuntungan ini tidak merata. Di sisi lain, biaya jasa—seperti freight kapal—melonjak, dan beban bunga utang dalam valuta asing meningkat. Dengan kata lain, gain (keuntungan) di satu sisi langsung tergerus oleh cost (biaya/pengeluaran) di sisi lain.

Yang paling terpukul justru industri padat karya: tekstil, alas kaki, makanan dan minuman, hingga konstruksi. Sektor-sektor ini sangat bergantung pada bahan baku impor atau linked intermediate products. Ketika rupiah melemah, biaya produksi mereka naik signifikan, sementara daya saing ekspor tidak otomatis membaik karena struktur biaya tetap tinggi. Di pasar domestik, kondisi semakin berat—daya beli lemah, sementara harga naik akibat imported inflation.

Akibatnya, industri menghadapi tekanan ganda: margin tergerus dan volume penjualan menurun.

  • Dampaknya tidak berhenti di sektor riil.
  • Ketika profitabilitas/keuntungan dunia usaha menurun, penerimaan pajak ikut tertekan.
  • Penurunan penerimaan ini memperlebar defisit APBN, yang pada akhirnya mendorong peningkatan kebutuhan pembiayaan utang.
  • Dalam kondisi seperti ini, tekanan terhadap nilai tukar rupiah justru semakin besar.
  • Inilah siklus yang berulang. Sebuah lingkaran yang sudah berlangsung selama puluhan tahun, namun belum disentuh pada akar masalahnya.

Selama struktur industri masih bergantung pada impor bahan baku dan intermediate, pelemahan rupiah tidak akan pernah menjadi instrumen daya saing—melainkan hanya menjadi sumber tekanan biaya yang pada akhirnya PHK meluas.

Sayangnya, narasi kebijakan sering kali berhenti pada optimisme yang bersifat populis, seolah ekonomi tetap kuat di tengah tekanan struktural yang nyata.

Padahal realitasnya sederhana, yang melemah bukan hanya rupiah, tetapi fondasi kita sebagai bangsa dan hopeless.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

    1. otak Babi guRun alias BabRun ya kayak elu itu. Diberi bukti riil masih aja ngeyel. Dasar Babi guRun lu af TerMul dan TerWo ‼️😜😂😝🐷