Seharusnya Penguasa itu mendatangi dan merendahkan diri minta nasehat Ulama. Bukan sebaliknya…

✍️Abu Hannah Al Jawy

Seharusnya penguasa itu mendatangi dan merendahkan diri, minta nasehat Ulama. Bukan sebaliknya, ulama yang merendahkan diri dan fatwa-fatwanya hasil dari pesanan penguasa. Apalagi sampai memanipulasi akidah demi disesuaikan dengan keinginan penguasa, mengatakan itu ‘manhaj salaf’ padahal ‘manhaj kerajaan’.

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْأُمَرَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْعُلَمَاءَ وَيَمْقُتُ الْعُلَمَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْأُمَرَاءَ لِأَنَّ الْعُلَمَاءَ إِذَا خَالَطُوْا الْأُمَرَاءَ رَغِبُوْا فِي الدُّنْيَا وَإِذَا خَالَطَهُمُ الْأُمَرَاءَ رَغِبُوْا فِي الْآخِرَةِ

Artinya, “Sungguh Allah mencintai penguasa (pemerintah) yang mendatangi ulama. Dan (Allah) membenci ulama yang mendatangi penguasa, karena ulama ketika dekat dengan penguasa akan senang pada dunia, namun jika penguasa yang mendekati ulama maka mereka akan senang pada akhirat.” (HR ad-Dailami).

Contoh nyata adalah doktrin taat ulil amri versi kerajaan Saudi, yang jelas-jelas menyesuaikan kerajaan Saudi yang absolut dan cenderung totaliter (negara berusaha mengontrol semua segi di negaranya sampai fatwa-fatwa harus sesuai dengan keinginan kerajaan).

Doktrin taat ulil amri versi ‘kerajaan Saudi’ dan ‘manhaj salaf’ jelas sangat berbeda, ini bisa diketahui oleh orang-orang yang baca sejarah. Silahkan baca sejarah Perang Jamal, Perang Shifin, Pembunuhan Al Husain di Karbala, Perang Ibnu Zubair dengan Bani Umayyah, Pemberontakan Bani Abbasiyah kepada Bani Umayyah dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar