✍️Rumail Abbas
Tahukah kalian bahwa ada banyak tokoh yang jenazahnya baru dikubur bertahun setelah wafat? Dan ternyata kisah-kisah ini juga banyak terjadi di kalangan Alawiyin, zuriah Imam Ali.
Saya kisahkan beberapa di antaranya.
Syarif Yahya bin Zaid disalib di pintu kota al-Juzajan sejak hari ia wafat, dan terus tergantung sampai pasukan berpakaian hitam Abbasiyah tiba.
Abu al-Faraj al-Isfahani (w. 356 H), penyusun Maqatil al-Talibiyyin, mencatat akhir penantian itu:
فلم يزل مصلوبا حتى إذا جاءت المسودة فأنزلوه وغسلوه وكفنوه وحنطوه ثم دفنوه
“Ia terus tersalib sampai ketika datang al-Musawwidah, mereka menurunkannya, memandikannya, mengafaninya, memberinya hanuth, kemudian menguburkannya.”
(Sumber: Maqatil al-Talibiyyin, hlm. 150)
Lamanya penantian berbeda-beda. Abdullah bin Atha, perawi tsiqah (perawi tepercaya) yang diriwayatkan Imam Malik, wafat dalam persembunyian lalu jasadnya justru disalib, baru dikubur setelah tiga hari.
Abu al-Faraj al-Isfahani menuturkan bagaimana penantian singkat itu berakhir:
فأمر أن ينزل من خشبته بعد ثالثه، فأنزل ودفن
“Ia memerintahkan agar diturunkan dari kayu salibnya setelah tiga hari, lalu diturunkan dan dikubur.”
(Sumber: Maqatil al-Talibiyyin, hlm. 261)
Washif al-Khadim menunggu jauh lebih lama. Ia wafat pada 289 H, tubuhnya dilumuri sabir lalu disalib di jembatan Baghdad, dan bertahan tanpa membusuk sekitar sebelas tahun sampai 300 H.
al-Mas’udi (w. 346 H), penyusun Muruj al-Dzahab, menuturkan ‘keawetan’ itu:
فأقام مصلوبا على الجسر لا يبلى إلى سنة ثلاثمائة في خلافة المقتدر بالله
“Maka ia tetap tersalib di jembatan tanpa membusuk sampai tahun 300 pada masa kekhalifahan al-Muqtadir billah.”
(Sumber: Muruj al-Dzahab, Juz 4, hlm. 180)
Ahmad bin Nashr al-Khuza’i bahkan ‘menunggu’ dengan tubuh terpisah. Kepalanya terpancang di Baghdad dan jasadnya tersalib di Samarra selama enam tahun, sampai keduanya disatukan lalu dikubur di pemakaman al-Malikiyah.
Ibn al-Jauzi (w. 597 H), penyusun al-Muntazham, mencatat lamanya perpisahan itu:
لم يزل رأس أحمد بن نصر منصوبا ببغداد وجسده مصلوبا بسامراء ست سنين إلى أن حط، وجمع بين رأسه وبدنه، ودفن
“Kepala Ahmad bin Nashr terus terpancang di Baghdad dan jasadnya tersalib di Samarra selama enam tahun sampai diturunkan, lalu kepala dan badannya disatukan, dan ia dikubur.”
(Sumber: al-Muntazham, Juz 11, hlm. 169)
Pola yang sama sampai ke Mesir Fatimiyah. Nasr bin Abbas disalib di pintu gerbang Bab Zuwailah dan tetap tergantung dari Rabiul Awwal 550 H sampai hari Asyura 551 H.
al-Dzahabi (w. 748 H), penyusun Tarikh al-Islam, menutup kisah itu:
وبقي مصلوبا إلى يوم عاشوراء سنة إحدى وخمسين
“Ia tetap tersalib sampai hari Asyura tahun lima puluh satu.”
(Sumber: Tarikh al-Islam, Juz 36)
Pertanyaan “apakah menguburkan mayat bisa ditunda?” bukanlah hal baru. Ia sudah terjawab sendiri oleh tumpukan tarikh di atas, dari tiga hari sampai sebelas tahun jasad menunggu di kayu salib sebelum turun ke liang.
Maka ketika hari-hari ini jenazah seorang tokoh besar baru dikebumikan berbulan setelah wafatnya, sejarah Islam sudah lebih dulu mencatat jeda yang jauh lebih panjang, dan dengan sebab yang berbeda-beda.
Wallahu a’lam.







orang2 yg disebutkan itu tertunda krn mayatnya dlm kondisi tertahan, tidak bisa langsung dimakamkan. sedangkan khamenei ditunda supaya prosesinya bisa dirayakan.
khomeni tertunda karna alasan keamanan, andai lamgsung dikubur dan dihadiri oleh petinggi iran dan rakyat yg simpati saat itu dijamin kafir2 langsung ngebom dan kafir tdk peduli dgn civil yg terbunuh!!!!
yahya bin zaid bukannya tokoh siah yg makamnya jadi mousaleum di imamzadeh yg sangat dihormati org siah di iran?
sak ombo2 ne alas isih tetep ombo alasan
rumail abbas ternyata mahluk ini syiah pantas benci salafi.
dalam hal ini teruslah berdebat fikih ampe jebol².. klo perlu ampe “perang saudara”..
☝🏻👇
biar dunia lihat betapa “majunya ilmu pengetahuan” ummat ini..
😵💫😵