Penilaian internal dari lembaga keamanan Israel mengonfirmasi bahwa Hamas secara aktif memanfaatkan kerangka gencatan senjata untuk membangun kembali kemampuan militernya secara signifikan di Jalur Gaza.
Dokumen intelijen rahasia yang diedarkan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kepada eselon politik memperingatkan bahwa kelompok tersebut terus merehabilitasi pasukannya meskipun operasi penargetan taktis oleh Israel tetap berjalan. [1, 2, 3]

Lembaga keamanan Israel menyoroti beberapa aspek utama terkait pemulihan kapabilitas lapangan Hamas:
1. Rekrutmen Massal dan Pelatihan
- Perekrutan Agresif: Hamas menggelar kampanye rekrutmen massal untuk menggantikan ribuan anggotanya yang tewas selama perang. Langkah ini dinilai cukup berhasil dalam mengisi kembali struktur batalionnya. [1, 2, 3, 4, 5]
- Pelatihan Pasukan Elit: Kelompok ini dilaporkan telah memulai kembali latihan taktis secara sembunyi-sembunyi, termasuk melatih kembali sisa-sisa unit komando elit mereka, Pasukan Nukhba. [1, 2]
2. Produksi Senjata Lokal dan Logistik
- Pemanfaatan Amunisi Gagal Meledak: Hamas memproduksi ratusan bahan peledak improvisasi (IED), mortir, dan rudal anti-tank setiap bulan. Mereka memanfaatkan sisa-sisa bom atau persenjataan IDF yang tidak meledak di dalam wilayah Gaza untuk merakit kembali senjata baru. [1, 2, 3, 4]
- Rehabilitasi Terowongan: Meski sebagian besar jaringan bawah tanah telah dihancurkan, Hamas terus berupaya memperbaiki dan memperkuat sisa infrastruktur terowongan yang masih berada di bawah kendali mereka. [1, 2]
3. Pemulihan Otoritas Sipil dan Pemerintahan
- Kontrol Administratif: Di wilayah-wilayah yang tidak diduduki langsung oleh pasukan Israel, Hamas berhasil mengembalikan fungsi pemerintahan daerah. Lebih dari separuh kota di Gaza dilaporkan kembali beroperasi di bawah kendali administratif mereka. [1, 2]
- Kehadiran Polisi Keamanan: Personel kepolisian yang berafiliasi dengan Hamas telah kembali dikerahkan ke jalan-jalan untuk mendirikan pos pemeriksaan internal, mengontrol distribusi logistik, serta menjaga dominasi politik mereka atas populasi lokal. [1, 2]
Para pejabat pertahanan senior Israel memperingatkan bahwa pemulihan kapabilitas ini dapat memicu lompatan kekuatan militer yang signifikan jika proses demiliterisasi penuh tidak segera dipaksakan. Situasi ini menimbulkan tekanan internal di dalam militer Israel untuk bersiap meluncurkan kembali operasi ofensif skala besar guna mencegah Hamas kembali ke tingkat kekuatan mereka sebelum konflik pecah. [1, 2, 3, 4]








