Oleh: Ustadaz Anshari Taslim
Al-Imam Ahmad ketika dipenjara maka beliau ditanya oleh seorang sipir, “Wahai imam apakah hadits-hadits ancaman terhadap pembantu orang zalim itu shahih?
Beliau menjawab, “Iya shahih.”
Sang sipir bertanya lagi, “Apakah menurut anda saya ini termasuk pembantu orang zalim?”
Imam Ahmad menjawab, “Oh bukan, bukan kamu yang termasuk pembantu kezaliman, yang termasuk itu yang masakin kamu, yang nyiapin pakaian kamu dan menyediakan keperluanmu, mereka itulah pembantu orang zalim. Kalau kamu sih si zalimnya itu sendiri.”
Kisah ini disebutkan Ibnu al Jauzi dalam Manaqib Al Imam Ahmad hal. 831 (tahqiq At-Turki) dan Ibnu Muflih dalam Al-Furu’ menukil riwayat dari Al-Marrudzi.

“Saya Hanya Menjalankan Tugas”
Sebuah kalimat sakti yang sering kita dengar dari mulut para aparat ketika mereka sedang menggusur rakyat kecil secara semena-mena, memukuli demonstran yang menuntut haknya, atau memalsukan berkas perkara demi memenjarakan orang tak bersalah adalah: “Maaf, saya hanya menjalankan tugas. Saya hanya bawahan.” Bahkan sering pula ini diucapkan oleh backing mafia tempat maksiat.
Kalimat ini diucapkan dengan wajah tanpa dosa, seolah-olah seragam yang mereka pakai adalah jubah suci yang bisa menghapus segala konsekuensi moral. Mereka mengira, di akhirat nanti, saat malaikat menuntut pertanggungjawaban atas darah, air mata, dan hak manusia yang mereka rampas, mereka cukup menyodorkan Surat Perintah Tugas (SPT) atau tanda tangan atasan mereka.
Sepanjang sejarah, hampir semua rezim zalim bertahan bukan semata-mata karena kekuatan pemimpinnya, melainkan karena adanya ribuan orang yang bersedia menjadi pelaksana perintahnya. Sebagian menjadi tentara, sebagian menjadi hakim, sebagian menjadi sipir, sebagian menjadi juru tulis, sebagian menjadi propagandis, dan sebagian lagi menjadi birokrat yang memastikan seluruh mesin kezaliman tetap berjalan.
Hampir semuanya memiliki satu alasan yang sama:
“Saya hanya menjalankan tugas.”
Syariat Islam justru meletakkan tanggung jawab moral yang besar kepada setiap individu. Tidak cukup seseorang mengatakan bahwa ia hanyalah bawahan. Yang menjadi ukuran adalah apakah perbuatannya termasuk ketaatan kepada Allah atau bantuan terhadap kemaksiatan dan kezaliman.
Bahkan “Istri” Merekapun Ikut Masuk Neraka?
Dalam surah Ash-Shafaat ayat 22 disebutkan:
اُحْشُرُوا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا وَاَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ ۙ
22. (Lalu, diperintahkan kepada para malaikat,) “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah
Kata al-azwāj (الأزواج) secara lahiriah menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah istri-istri mereka. Ini merupakan tafsir yang dinukil dari Mujahid dan al-Hasan.
Diriwayatkan pula oleh an-Nu’man bin Basyir dari Umar bin al-Khaththab bahwa penafsirannya adalah: yang dimaksud ialah para istri yang sejalan dengan mereka dalam kesyirikan. Adapun istri-istri yang beriman, maka mereka selamat dan tidak menanggung akibat dosa suami-suami mereka.
Meski para ulama umumnya menafsirkan kata “azwaj” dalam ayat ini dan beberapa ayat lain adalah rekan seakidah atau kolaborator kezaliman itu, tapi bila seorang istri tahu dan setuju dengan kezaliman suaminya atau malah mengompori suaminya untuk berbuat zalim maka tentulah dia termasuk dalam ancaman ayat ini.
Imam Ibn Taymiyyah rahimahullah memperluas pembahasan tentang siapa saja yang termasuk golongan orang-orang zalim. Beliau memasukkan setiap orang yang membantu pelaku kezaliman, meskipun bantuan itu berupa pelayanan yang pada asalnya mubah.
Beliau berkata dalam Kitab al-Iman (hlm. 55–56):
وقد قال غير واحد من السلف: أعوان الظلمة من أعانهم، ولو أنهم لاق لهم دواة، أو برى لهم قلمًا، ومنهم من كان يقول: بل من يغسل ثيابهم من أعوانهم. وأعوانهم: هم من أزواجهم المذكورين في الآية؛ فإن المعين على البر والتقوى من أهل ذلك، والمعين على الإثم والعدوان من أهل ذلك، قال تعالى: {مَّن يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُن لَّهُ نَصِيبٌ مِّنْهَا وَمَن يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُن لَّهُ كِفْلٌ مِّنْهَا} [النساء: 85] “
“Tidak sedikit ulama salaf yang berkata: ‘Termasuk para pembantu orang-orang zalim adalah siapa saja yang membantu mereka, meskipun hanya menyiapkan tempat tinta bagi mereka atau merautkan pena mereka.’ Sebagian salaf bahkan berkata: ‘Bahkan orang yang mencuci pakaian mereka pun termasuk pembantu mereka.
Para pembantu mereka itu termasuk ‘azwāj’ (golongan mereka) yang disebutkan dalam ayat tersebut. Sebab, orang yang membantu dalam kebajikan dan ketakwaan termasuk bagian dari golongan orang-orang yang berbuat kebajikan. Sebaliknya, orang yang membantu dalam dosa dan permusuhan termasuk bagian dari golongan orang-orang yang berbuat dosa dan permusuhan.
Allah Ta’ala berfirman:
‘Barang siapa memberi syafaat yang baik, niscaya ia memperoleh bagian dari pahala syafaat itu. Dan barang siapa memberi syafaat yang buruk, niscaya ia memperoleh bagian dari dosanya.’ (QS. an-Nisa’: 85).”
Selesai dari Ibnu Taimiyah.
Allah juga berfirman,
وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ
“Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim sehingga kalian disentuh api neraka. Kamu tidak punya pembela selaian Allah, lalu kamu tidak akan ditolong.”
(QS. Hūd: 113)
Ibnu Abbas menafsirkan bahwa yang dimaksud bukan hanya menjadi pelaku kezaliman, tetapi juga memberikan dukungan kepada mereka.
Pelajaran dari Suriah hingga Perlawanan “Mawar Putih” di Jantung Nazi
Jangan pernah berdalih bahwa menolak perintah atasan adalah hal yang mustahil dilakukan di dunia nyata. Sejarah modern telah mencatat dengan tinta emas bagaimana manusia-manusia merdeka memilih kehilangan pangkat, dicap pengkhianat oleh rezim, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka demi tidak menjadi alat pembantaian.
Ketika revolusi Suriah meletus, ribuan tentara yang di dalam dadanya masih memiliki secuil iman menolak perintah diktator Bashar al-Assad untuk menembaki demonstran sipil. Mereka melakukan pembelotan massal, membalikkan badan untuk melindungi rakyat, dan membentuk Free Syrian Army (FSA). Mereka membuktikan bahwa seragam ditujukan untuk melindungi bangsa, bukan menjadi anjing penjaga penguasa tiran penuh dosa.
Meski harus mempertaruhkan semua di dunia, sehingga keluarga merekapun banyak yang ditangkap dan dibunuh karena mereka membelot. Hingga akhirnya kini Allah berikan kemanangan dengan berhasil menumbangkan rezim zalim nan kafir Basysyar Asad.
Bahkan, ada tamparan dari orang kafir yang teguh tak mau ikut dalam kezaliman. Di jantung kekuasaan Nazi Jerman yang terkenal sangat diktator dan kejam, lahir sebuah gerakan bawah tanah bernama The White Rose (Mawar Putih). Gerakan ini dipelopori oleh Hans Scholl dan Alexander Schmorell, para mahasiswa kedokteran yang juga merupakan tamatan wajib militer dan bertugas sebagai aparat medis Angkatan Darat Jerman (Wehrmacht).
Ketika dikirim ke garda depan, mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana tentara Hitler membantai warga sipil dan memperlakukan manusia dengan biadab. Hati nurani mereka memberontak, mereka menolak patuh pada sistem. Sekembalinya dari tugas, mereka menyelundupkan informasi, mencetak pamflet propaganda melawan Hitler, dan menyerukan pembangkangan massal kepada tentara lainnya. Meskipun akhirnya mereka ditangkap dan dihukum mati dengan pisau gilotin oleh Gestapo, dunia mencatat mereka sebagai pahlawan kemanusiaan.
Di sinilah letak ironi dan tamparan kerasnya: Orang kafir saja, yang tidak mengenal konsep pahala dan dosa akhirat, berani mempertaruhkan leher di bawah pisau gilotin demi membela nilai kebenaran dan kemanusiaan yang mereka yakini! Lalu, di mana muka Anda sebagai orang yang mengaku beriman?
Bagaimana mungkin Anda yang mengaku bersujud kepada Allah, justru kehilangan nyali dan melacurkan iman hanya karena takut dipecat, takut dimutasi, atau takut kehilangan tunjangan dari atasan yang zalim? Orang beriman seharusnya memiliki keberanian berlapis-lapis di atas orang kafir, karena kita tahu ada pengadilan akhirat yang mutlak!
Logika Pendosa: Menjadi Baut di Mesin Penghancur
Banyak aparat modern terjebak dalam apa yang disebut sebagai Atheisme Moral. Mereka mematikan kompas nurani dan mengoperasikan diri mereka seperti robot. Mereka berpikir, “Kalau bukan saya yang melakukan, toh orang lain yang akan melakukannya. Saya kan cuma baut kecil.”
Benar, Anda mungkin hanya baut kecil. Namun tanpa baut-baut kecil yang patuh dan bodoh seperti Anda, mesin kezaliman milik para penguasa korup itu tidak akan pernah bisa berjalan! Atasan Anda yang duduk di ruangan ber-AC tidak akan bisa menindas rakyat jika tidak ada tangan-tangan kasar Anda yang bersedia menjadi algojonya di lapangan.
Di pengadilan Allah kelak, tidak ada sistem komando. Allah tidak akan memeriksa pangkat, bintang di pundak, atau slip gaji Anda. Setiap pukulan, setiap intimidasi, dan setiap rupiah yang Anda rampas dari hak orang lain akan dimintai pertanggungjawaban secara personal.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggambarkan bagaimana indahnya “saling lempar tanggung jawab” antara atasan dan bawahan di dalam neraka nanti:
اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ
“(Ingatlah) ketika orang-orang yang diikuti (para pemimpin) itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti (para bawahannya), dan mereka melihat azab; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS. Al-Baqarah: 166)
Saat itu, atasan yang hari ini Anda puja dan Anda takuti perintahnya akan memalingkan wajah. Mereka akan berkata, “Kami tidak memaksa kalian, kalian saja yang mau menjadi budak kami demi pangkat dan jabatan!”
Tidak Ada Ketaatan untuk Perintah yang Biadab
Islam telah meletakkan aturan yang sangat rigid dan tidak bisa ditawar-tawar melalui sabda Rasulullah ﷺ:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ “Tidak ada ketaatan dalam maksiat. Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang makruf (kebajikan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika atasanmu memerintahkan untuk menembak rakyat yang tak bersenjata atau menindas mereka yang menuntut keadilan, perintah itu batal demi hukum langit. Jika institusimu memintamu merekayasa kasus untuk menjebak orang kritis, perintah itu haram untuk dilaksanakan.
Bila Anda tetap melaksanakannya dengan alasan “dapur harus ngebul” atau “takut dipecat”, maka Anda telah menukar rida Allah dengan remah-remah dunia yang hina. Anda telah memilih untuk mengenyangkan perut anak istri Anda dengan api neraka.
Penutup: Renungkan Sebelum Terlambat
Wahai para aparat, penegak hukum, dan pegawai yang hari ini tangannya masih sibuk mengeksekusi kezaliman atas nama tugas:
Ingatlah bahwa seragam yang Anda banggakan itu suatu hari akan diganti dengan kain kafan yang tidak memiliki kantong untuk menyimpan uang suap atau surat perintah. Jabatan yang Anda bela mati-matian dengan cara menindas sesama akan runtuh ketika sakaratul maut menjemput.
Jangan sampai Anda dicampakkan ke dalam neraka terlebih dahulu, menjadi bahan bakar api jahannam, sementara atasan yang memberi Anda perintah masih sempat menikmati sisa hidupnya di dunia.
Pilihan ada di tangan Anda hari ini: Kehilangan pekerjaan karena mempertahankan kebenaran seperti para pejuang di Suriah dan aktivist White Rose, atau mempertahankan pekerjaan namun kehilangan keselamatan di akhirat. Sebab di hadapan Allah, dalih “Saya hanya menjalankan tugas” tidak lebih dari sekadar lelucon yang tak bernilai.
Bagi orang yang beriman, bila seseorang meninggalkan sesuatu yang diharamkan Allah karena takut dosa maka Allah akan memberikan ganti yang lebih baik baginya. Bisa dibaca ulasannya dalam artikel kami: https://pesantrenbik.com/kajian-hadits/tinggalkan-yang-haram-allah-ganti-dengan-yang-halal/
Pelajaran Utama
- Tanggung Jawab Individu: Setiap muslim harus menolak berpartisipasi dalam kezaliman, meski itu “tugas resmi.” Lebih baik kehilangan pekerjaan atau jabatan daripada kehilangan akhirat.
- Bukan Sekadar Pembantu, Tapi Pelaku: Seperti ditegaskan Imam Ahmad, posisi eksekutor langsung (sipir, algojo, aparat penegak) lebih berat daripada penyedia layanan pendukung.
- Keberanian Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Kisah ini mendorong kita untuk menasihati sesama, termasuk penguasa atau rekan kerja, meski berisiko. Sipir itu berani bertanya, dan Imam Ahmad memberikan jawaban jujur yang menjadi pelajaran abadi.
- Akibat di Akhirat: Hadits-hadits ancaman menunjukkan bahwa para pendukung zalim akan dikumpulkan bersama mereka di neraka. Tidak ada ampunan khusus bagi yang “hanya patuh perintah” jika perintah itu zalim.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, khususnya para aparat, pegawai negeri, atau siapa pun yang berada di bawah rantai komando. Jangan sampai “menjalankan tugas” menjadi alasan untuk dicampakkan ke neraka. Sebaliknya, ikutilah jejak Imam Ahmad: teguh di atas kebenaran, meski pahit.
Wallahu a’lam.
Sumber: https://pesantrenbik.com/kisah-hikmah/masuk-neraka-karena-menjalankan-tugas/







jelas kita semua punya pilihan, mau pilih BENAR atau SALAH, enak bener kalau bisa berdalih “saya hanya melakukan tugas” … bacok aja kalau ketemu pelaku2 pembantaian itu di jalan.
Tulisan ini ditujukan kepada Aris Wijayantolol ODGJ/af/ANONim (Akal Nol, Otak miNim) ANJING PENJILAT gerombolan TerMul dan TerWo BabRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI yang ikut mendukung kezaliman Jokodok plonga plongo raja ngibul Mulyono junjungannya mbah Wowo aNTEK asing Gemoy omon omon yang juga junjungan sekaligus sesembahannya.
Nanti si GUOBLOKKKK itu komen begini: “wisss sudah bisa menentukan orang lain di neraka. Urus aja hidup antum apakah masuk surga atau neraka.”
Saking GUOBLOKKKKnya makhluk itu yg tak mampu memahami tulisan di atas.
termasuk buzzer